Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

MENUNTASKAN TAHUN 2019

Siapa mengira akan nikmat masih bisa menjalani hari-hari di tahun  2019 Ini,  saat beberapa sahabat justru sudah Allah panggil untuk pulang. Alhamdulillah, atas karunia menuntaskan tahun 2019 ini. Tahun yang penuh perjuangan.  Perjuangan melawan ego, perjuangan memperoleh restu, perjuangan menuntaskan berbagai amanah sekaligus menjalani amanah yang baru. Setiap tahun selalu ada momen yang berbeda, yang hadirnya membuat semakin kuat. Rasa-rasanya benar tak akan cukup untuk menulis banyaknya nikmatMu bahkan walau hanya setahun belakangan ini. Semoga setiap amal Allah terima, setiap salah Allah maafkan, setiap dosa Allah ampuni, serta Allah bukakan hati manusia lain yang pernah tersakiti karena ulahku untuk memaafkanku. Hingga Allah hadiahiku husnul khatimah di akhir hidupku.

Partner Tahun Kedua

Alhamdulillah, sungguh sangat bersyukur di tahun kedua ini dikasih 2 partner perempuan yang keren kece abis. Karakternya unik, dan dari mereka aku banyak mengambil pelajaran baik. Setalah setahun lamanya berpartneran dengan teman teman ikhwan kece, ya bahagia ajah gitu pas awal banget baru Nia yang masuk eh menyusul Maryam juga masuk. Bisa punya temen cerita, temen main, temen diskusi dan penyemangat. Ya gimana engga, kerja kerja dakwah emang bukan perkara ringan, sehingga dengan adanya temen, ngebantu banget buat ngatur taraf kebahagiaan.
Emang lucu berjuang bareng KAMMI ini, berkali-kali berniat mundur teratur lalu balik kanan, berkali-kali juga gagal, karena hati gak sanggup buat pergi sebelum waktunya dan lari dari tanggungjawab. Walaupun bukan termasuk orang yang sangat faham bagaimana harus membersamai organisasi ini, tapi entah kenapa nurani tak pernah mampu mengalahkan ego. Mungkin berkat kuatnya do'a rabithah yang bikin nurani kader-kader macam saya ini terketuk untuk gak kabur dari barisan. Selamat melanjutkan perjuangan, untuk kita para kader KAMMI yang konon katanya selalu ditunggu gaungnya seperti saat organisasi ini masih mejadi embrio.

Renungan Tentang Konsep Rezeki

Jadi pas pelaksanaan pemotongan hewan qurban, saya sempet daftar ke ketua pelaksana untuk minta buntut sapi. Wes, tenang tenang ajah, eh ternyata ntu buntut sapi ada yang ngetag juga tanpa saya tahu, dan udah dibawa. Trus jadi mikir, gitu ya belum rezeki walaupun udah ditag ya tetep ajah bakal ada jalan buat pergi. Tapi masih usaha si karena emang lagi pengen banget, bilang ke anak yg bawa ntu buntut sapi, sambil saya juga udah ridho si aslinya karena ya balik lagi mikir ya emang belom rezeki kan. Eh dapet wa dari seseorang, bilang suruh ambil buntut sapi di rumah beliau, pas kesana dikasih 2 ntu buntut sapinya. Dalem hati, ya Allah ini berarti emang rezeki saya ya, walaupun sempet drama eh akhirnya dikasih juga malah lebih banyak. Kadang emang kita ajah kali ya yang banyak gak nyadarnya, banyak berprasangka gabaik duluan ke Allah. Trus hari berikutnya, kantin sehat sekolah mulai beroperasi, apa hubungannya sama konsep rezeki buat saya?. saya cuma ngambil hikmahnya ajah si. Sebelumny...

Iedul Adha Mubarrak

segala kemudahan yg kita rasain, mustahil rasanya jika tanpa Karunia dari Allah yang Maha Memudahkan setiap urusan hambaNya. Semoga Allah juga kasih kemudahan temen-teman buat maapin kesalahan yg saya sengaja maupun yang gak disengaja ya. Barakallahu fiikum💐

Kontemplasi Angka 24

Puji dan syukur hanya untuk Allah. Sungguh perjalanan menuju usia 24 ini cukup menguji nyali, dari yang sebelumnya nyantai-nyantai ajah, atau palingnya ada kesandung dikit, setahun ke belakang ini luamayan juga pengalaman hidup yang didapet. Dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa, sehingga jadi jalan buat saya belajar. Dipertemukan dengan situasi-situasi yang gabiasa, sehingga bikin saya jadi lebih hati-hati ngambil sikap. Diberikan amanah yang lumayan memicu adrenalin, yang pada akhirnya semakin melatih diri untuk bisa mempriotaskan lagi yang bener-bener prioritas. Tahun ini, tahun kedua beramanah jadi walas. hari ini, hari di mana resign ngajar TPQ karena saya kudu fokus sama amanah PPDB SMPIT Taskia. Tahun di mana bener-bener ngencengin ikat pinggang biar bisa bayar biaya sekolah dan kebeli hal-hal pendukungnya. Semoga dan saya akan terus berusaha untuk gak jadi orang yang rugi, yang mana hari ini lebih buruk dari kemarin, dan tahun ini lebih buruk dari tahun kemarin.

Memberikan Kenyamanan

Berikanlah kenyamanan dan jangan berikan ketidaknyamanan pada orang-orang di sekeliling kita. Sama seperti kita yang senang berada di suatu tempat atau komubitas jika ada perasaan nyaman di dalamanya, pun sama dengan orang lain yang ada di sekeliling kita, mereka membutuhkan rasa aman dan nyaman untuk dirinya. Maka sebisa mungkin berusahalah membuat orang-orang ketika bertemu dengan kita atau bekerjasama dengan kita merasa nyaman dan kemudian betah, apalagi kalau dengan hal tersebut orang-orang itu menjadi memberikan dedikasi terbaik atas amanah yang teremban pada dirinya. Tentu saja dengan batasan yany sesuai syariat, mulai saja dari hal kecil seperti memenuhi hak saudara untuk di doakan saat bersin, dijenguk saat ia atau keluarganya ada yang sedanh Allah berikan nikmat sakit. Lalu bantu ringankan bebannya sebisa yang kita mampu, jangan malah membuat bebannya semakin berat.  Dan keteladanan tentang memberikan rasa aman dan nyaman dalam beramanah kudapatkan dari Qiya...

Di Persimpangan Jalan

"Kamu mah enak, banyak kegiatan cip. Gak kayak aku ya habis kerja pulang atau main-main ajah hangout". Saya membalasnya, "alhamdulillah", dengan senyuman. Ya, alhamdulillah jika yang terlihat adalah demikian, karena Allah masih menutupi aib saya dan menolong saya dengan berbagai kegiatan. Walaupun bukan hal yang jarang saya berada di persimpangan jalan, ketika kegiatan demi kegiatan menuntut kontribusi. sekali dua kali saya katakan kepada murobbiyah untuk mundur dari beberapa amanah, alih-alih mengiyakan murobbiyah saya justru meminta untuk bertahan dengan mencoba mengatur kembali manajemen waktu dan kedekatan saya pada Rabb pemilik langit dan bumi beserta seluruh isinya. Saya hari ini, sangat mungkin bukan karena usaha saya sendiri. Saya saat ini adalah atas doa dan semangat orang-orang disekeliling yang senantiasa membersamai bahkan kala saya tengah berada dipersimpangan jalan. Ketika berhadapan dengan berbagai pilihan, mintalah fatwa pada hati dan ber...

Review Buku SEKOLAH CINTA (Menjadi Pemimpin dan Guru Hebat)

Setelah lama libur membaca buku, akhirnya saya menemukan buku yang menarik hati untuk saya baca. Buku dengan judul yang sama seperti tulisan saya ini. Sebenarnya mau membuat rangkuman, tapi rasanya semua isinya adalah rangkuman atau lebih tepatnya semua isinya penting sehingga saya tidak mampu melakukannya hehe.. Buku dengan sampul yang dominan berwarna putih dengan warna-warni yang menarik mata, terdapat burung-burung dari kertas lipat berwarna-warni memang bukan buku yang sembarangan menurut saya. Dengan jumlah halaman 236 halaman buku ini mampu membuat saya terhanyut dan ingin terus membacanya di sela-sela waktu saya beberapa hari kemarin. Pak Edi Sutarto sang penulis menulis bukunya dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami, benar saja membaca buku ini seperti sedang membaca cerpen dengan berbagai nasihat yang tidak terkesan menggurui, bahkan seolah-olah sedang membaca buku-buku novel remaja. Buku ini mengajarkan apa yang tertuang pada judulnya, tidak hanya d...

Kenapa?

Kemarin 21 mei 2019, diumumkan dini hari. Bersliweran brodcast wa di berbagai grup di hpku. Hati terusik, tapi tak ada rasa ingin menyebarkannya. Aku hanya berhati-hati tersebab seringkali brodcast itu dikirim dari orang-orang yang justru loyal terhadap kebathilan. Teriris rasanya hingga hari ini, membaca berbagai status dari teman-teman yang mendukung presiden terpilih versi KPU dengan menyalahkan pendukung Prabowo-Sandi. Mungkin rasa kita memang berbeda, sehingga sudut pandang memaknai ini juga berbeda. Bukan, bukan tentang kami berteriakan takbir tanpa arti seperti yang kalian tuduhkan, justru tersebab ada semangat dalam diri ini untuk menyuarakan kebaikan. Bagiku bukan perkara menang dan kalah, tapi tentang di mana aku berpihak. Layaknya burung kecil yang membawakan air untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim sang Nabi kala itu, aku yakin ia tahu bahwa air itu tak akan mampu memadamkan api, tapi setidaknya ia ingin memberitahu di mana ia berpihak. Hari ini pun itu yang kam...

Menjadi Guru Muda

Sungguhlah beruntung saya ini, tak memiliki latar belakang dunia pendidikan secra formal namun diberikan kesempatan menjadi seorang guru. Tepat diusia 22 tahun kala itu saya lulus S1 Perikanan dan pulang ke bekasi, ke tanah kelahiran dan kampung saya. Takdir membawa saya untuk mengabdi di sekolah menengah kejuruan swasta. Umur saya tak jauh berbeda dengan murid-murid sekolah kala itu, hanya sekitar 5-7 tahun, layaknya seorang kaka. Lalu beberapa bulan setelahnya saya diamanahi menjadi seorang guru di Sekolah menengah pertama islam, langsung menjadi wali kelas. Sebagai guru muda atau junior yang tak banyak pengalaman dan tak berlatar pendidikan linier mungkin saya terbilang cukup nekat. Bukan tanpa rasa gerogi kala datang pertama kali menyambut siswa saat MPLS, apalagi diminta memperkenalkan diri. Sudah mencoba mencairkan suasana, tapi masih saja kikuk. Dan Tepat di usia yang ke dua puluh tiga tahun saya memulai debut saya sebagai seorang guru di sekolah menengah pertama ters...

Assalamu'alaikum, Saya Kembali.

Ternyata sudah dua bulan tidak menulis apapun. Tidak membuat karya apapun selain sibuk menyelesaikan persoalan diri pribadi. Mengambil jeda dalam perjalanan yang cukup menantang medannya menjadi keputusan saya pada akhirnya. Keputusan atas kesadaran atau keterpaksaan mungkin menjadi beda tipis terlihat. Mencoba menjauh dari hiruk pikuk keramaian, bukan karena ingin menjauh, tapi sekadar mengembalikan orientasi diri pada jalan yang seharusnya, tersebab jika terus berada dalam keramaian, kekhawatiran akan semakin menjadi-jadi dan membuat diri terbuai atas nama ikhtiar. Kemarin, beberapa hari lalu tak sengaja menonton chanel salah satu anak kiai yang sedang berduet dengan Ayahandanya, tersentak jiwa saya yang terdalam dengan nasihat "jangan menuhankan ikhtiar, sertakan tawakal, bahwa hanya Allah yang bisa membuat sesuatu terjadi" kurang lebih begitu yang saya ingat, tak sama persis dengan apa yang beliau sampaikan, namun itu yang termakna dalam qalbu. Pasalnya, sehari sebelumn...

Malamku bersama Ayah

Entah, kenapa selalu lega setelah mencurahkan rasa padanya. Membicarakan impian-impiannya, yang hampir semua impian itu adalah untuk kami anak-anaknya. Entah, kenapa begitu nyaman saat aku menyampaikan mimpi-mimpiku padanya. Seolah ia selalu mengatakan, bahwa aku mampu dan jalannya tidak akan sesulit yang ada di benakku, aku hanya harus terus berusaha. Ayah, bagaimana mungkin aku membiarkan mimpimu tak terwujud. Selama diri masih bernyawa, kan ku ikhtiarkan semampuku. Mimpimu hanya satu, agar adik-adik mendapatkan pendidikan yang layak, agar masa depannya lebih baik. Ayah, kau benar. Orang di luar sana melihat kita saat kondisi kita sudah baik seperti sekarang, mereka tak menyaksikan saat kau pergi pagi pulang malam namin tak membawa uang. Saat aku mencari kayi bakar dan ibu memasak terasi goreng di tungku yang berasap itu. Saat aa Icay harus bersekolah sembari menjadi ojek anter-jemput tetangga yang menjadi karyawan pabrik. Ayah, seperti yang kita bicarakan malam ini semoga s...

OBAT KALA TERGELINCIR

Manusia memang mudah sekali tergelincir, sebentar saja baik, lalu jatuh lagi pada kesalahan. wahai diri, maka sekuat apa kau beruapaya meraih ridho Rabbmu tanpa menginsafi dosamu?. Wahai diri, apa yang kau cari selain indahnya kasih sayang Rabbmu? Semudah itu kau beranggapan, semudah itu kau merasa baik, dan semudah itu kau menyalahkan orang lain atas kejumawaan dirimu. Apa yg mampu kau jadikan bahan kesombonganmu, saat tersandung kerikil saja kau jatuh? Apa yang mampu kau jadikan bekal bertopeng diri di hadapan manusia, padahal kau sadar dosa-dosamu tidaklah seujung kuku? Wahai diri yang kerap kali menyakiti sesamamu, sudah berapa jauh usahamu mengejar maaf? Wahai diri yang kerap kali merasa lebih baik, apa bedanya kau dengan makhluk Allah yang telah dikutuk itu? Bukankah ia dikutuk lantaran merasa lebih baim dari adam? merasa bahwa api lebih baik dari tanah? Insyafi diri wahai diri, istighfarmu yang sedikit itu niscaya tak akan mampu menjadikan dirimu kembali baik. Moh...

BANGKIT

Jatuh sesekali tak apa, agar tahu rasanya bagaimana harus bangkit. Jatuh beberapa kali pun tak apa, agar lebih paham bagaimana selain  bangkit kita juga harus melanjutkan langkah. Bukan berdiri dan terdiam dalam keterpanaan. Selalu ada kesudahan yang baik bagi kita yang senantiasa berusaha menjadi baik. Selalu ada ujung dalam setiap jalan, meski harus jauh kaki melangkah. Awalnya sulit, tak apa karena itu wajar. Justru keterjatuhanmu itu menunjukkan dan membuktikan bahwa kau hanya makhluk bumi yang bisa terjatuh. Lebih dari hanya sekadar perasaan tenang, bangkitnya kamu dari jatuhmu hari kamarin, harus membawa perubahan signifikan dalam hubunganmu bersama yang Maha Penolong, yang telah memberikan rasa tenang dalam dirimu. Yang sudah biarlah sudah, memang tak mungkinlah dilupa namun bisa dimaafkan dan ditempatkan sesuai tempatnya. Selama kita masih berjalan dalam koridor yang sesuai, niscaya kita tak akan tersesat. Bukankah kita tak pernah kecewa dalam berdoa kepada Rabb k...

Malang, masih belum Tergantikan

Seperti sebuah tempat yang selalu ingin jadi tujuan ketika letih diri ini, (Ya ke tanah suci pastilah yg nomer satu, tapi ini diluar konteks). Menjadi sarana mengembalikan semangat setelah lelah berjibaku dengan segala amanah. Entah, mengapa nyaman sekali berada di sini. Jauh dari kebisingin dan hiruk pikuk, yang jelas karena memang aku tak sedang beramanah disini. Bukan tak nyaman dengan amanah lalu kabur, bukan, aku hanya sedang mencoba mengambil jeda. Bukankah rihlah menjadi bagian tak terpisahkan dalam tarbiyah? untuk menguatkan diri yang mulai rapuh, untuk menguatkan hati yang mulai keropos? Mungkin hari kemarin berat , dan dengan mengambil jeda ini, akan membuat diri kembali jernih, kembali kuat menghadapi ribuan badai yang manghadang jalan. Memungut kembali kenangan-kenangan akan terseok-seoknya diri kala masa perjuangan itu. Masa-masa jarang tidur pukul delapan, masa-masa rapat sampai pagi. Syahdunya, dulu hal yang tak disukai, namun tetap dijalani, kini ia menjadi hal ...

Jangan Ditolak Keberadaannya

Bukan hidup namanya jika diam tak bergerak. Bukan hidup namanya jika memilih mundur saat berjuang. Bukan hidup namanya jika terus lancar bebas hambatan. Suatu hari kejuatan baru hadir, mulai mengusik rasa yang tak pernah dirasa sebelumnya. Ia hadir, baru saja mengucap salam. Tapi... sejenak saja ia tak terdengar lagi suaranya. Belum sempat melihat siapakah gerangan yang datang, sudahlah pergi tanpa meninggalkan isyarat. Saat itu juga, terbesit asa untuk berpura-pura lupa bahwa tak pernah ada yang mengucapkan salam sepersekian detik itu. Sesaat setelah itu, aku meyakinkan kembali diri bahwa anggap saja memang tak pernah mendengar salam sepersekian detik tadi. Semakin ditolak kenyataan itu, semakin membawa diri pada ketidaksadaran. Semakin ditolak hal itu, semakin menghantarkan diri pada ketidakjelasan yang tak berujung. Mengapa tidak memilih menerima saja kenyataan bahwa memang tadi ada salam yang sempat terucap, hanya saja mungkin takdirnya belum beririsan untuk aku membuka pint...

Hidupkan malam

Tentang mengadu kala sunyi, tentang tersungkur kala sepi, menjauhkan lambung dari nyamannya tempat tidur. Tentang amalan ahli surga, yang sulit untuk ditunaikan. Dikala mimpi tengah indah-indahnya memaksa harus bangun dan menghadap kepada Rabbnya. Saat ini, mungkin kita bahkan begitu sulit untuk mengerjakan amalan penghuni surga itu, semoga tetap ada rasa untuk meniatkan diri melaksanakannya.  Menghidupkan malam dengan dzikrullah, dengan deraian airmata atas pengharapan ampunan. Jika hingga kini kita tak mampu merasakannya, tersebab dosa-dosa yang mungkin belum sempat kita taubati. Sebab hanya kemaksiatannlah yang akan menghalangi diri untuk melakukan amal baik.

Amankan hati

Keraguan akan senantiasa dibisikkan oleh musuh manusia. Betapa sering kita menjadi ragu ketika hendak melakukan sebuah kebaikan, menjadi was-was ketika memutuskan kebaikan. Maka dekatkanlah diri kepada Dzat yang tidak pernah ragu, kepada Rabb yang pasti mengurus makhluknya.  Amankan hati dari keraguan dengan mendekat kepadaNya, mendekat kepada yang Maha membolak-balikkan hati. Sekeras apapun hati, jika Rabbku berkehendak maka akan luluh juga.  Amankan hati dari kegelisahan, tundukkan kepala dan angkatlah kedua tangan lalu mintalah ketenangan, karena hanya Rabbku dan Rabbmu yang mampu memberikan ketenangan.

Ketulusan dalam perjuangan

Tulus berdasarkan KBBI adalah kata sifat berarti   sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci). Sedangkan ketulusan adalah kata kerja yang berarti  kesungguhan dan kebersihan (hati); kejujuran. Dalam perjuangan ketika yang kita tuju adalah keberhasilan-keberhasilan pribadi, maka hasilnya akan hanya untuk diri pribadi. Ketika ada kritik atau saran, hati dan diri menjadi tidak menerima, merasa benar dan merasa sudah baik, maka ketulusan itu akan hilang. Kalau Aa Gym dengan gaya bahasanya bilang " kita sibuk memperbaiki cover hingga lupa dengan isi" .  Jika kita coba untuk memaknai ketulusan dalam setiap perjuangan, maka tidak ada yang kita lakukan selain mempersembahkan yang terbaik semampu kita, mampu  itu sampai batas maksimal, jika berlari mengelilingi lapangan maka baru akan berhenti ketika kita jatuh dan tak sadarkan diri. Ketulusan dalam perjuangan harus dimulai dengan keutuhan niat. Apa saja yang kita lalukan di dunia ini sejatinya ...

Impian surgawi

Berjalan meyusuri setiap jalan kebaikan, kadang berlari-lari kecil, namun tak jarang juga harus berlari dengan cepat, tersebab diri harus senantiasa bersiap di setiap keadaan. Pada awalnya, banyak ketakutan-kegelisahan yang menyertai, namun dengan sigap sahabat mengingatkan bahwa ada Allah disisi. Ya memang mencukupkan diri bahwa selalu ada Allah disisi memang membutuhkan latihan yang tidak instan. Saat impian kita adalah impian surgawi, maka dunia tak menjadi menarik dihadapan diri. Saat impian kita adalah impian surgawi maka kita hanya akan menjadikan dunia sebagai sarana menebar kebermanfaatan.  Impian surgawi tak mungkin diwujudkan dengan upaya yang minimalis, sebab surga tak diperuntukkan bagi insan yang biasa-biasa saja. Impian surgawi pun tak mampu diwujudkan hanya sendiri, butuh tim yang bekerja atas nama ketaatan pada Rabbnya untuk mampu menjadikan impian surgawi benar-bebar terwujud. Mari kuatkan kaki untuk berjalan menyusuri jalan kebaikan ini, kuatkan p...

Nasehat bagi hati

Setiap hal yang terjadi dalam hidup, semua sudah Allah yang tentukan. kesuksesan hari ini, kebelum berhasilan hari ini adalah juga bagian dari garisan takdir yang Allah tentukan. Terkadang, saat diri belum siap menanggung amanah yang kita anggap berat, Allah sudah katakan bahwa kita tidak akan dibebankan melainkan sesuai dengan kesanggupan diri. Mungkin terlihat berat, jalani saja dulu, biar Allah yang bantu untuk kuat menyusuri setiap ujian yang sejatinya akan menaikkan kedudukan kita disisiNya. Turunkan ego, jika nyatanya ego kita menghancurkan keteguhan hati. Tenangkan diri, jika nyatanya semangat menggebu membuat hati mulai berbangga. Ini tentang perjalanan yang ujungnya tak mudah kita ketahui, tapi kita yakini dalam hati. Pasrahkan diri, pada Rabb pemilik diri ini, tersebab hanya Dia yang mengetahui ihwal masa depan diri ini. Bukan tentang siapa yang bermimpi dan siapa yang berjuang. Ini adalah tentang menyatukan mimpi dan berjuang bersama. Tidak perlulah merasa paling super...

Estafet perjuangan

" Usia kami sudah tidak muda lagi, besar harapan kami antumlah yang akan meneruskan perjuangan dakwah ini. " Begitulah pesannya malam itu, ya beliau Murobbiku, Abi dan Ummiku, Paman dan Bibiku. Begitu merasuk dalam jiwaku nasehat itu, entah seperti langsung menghujam ke perasaanku yang paling dalam.  Kita tidak sedang membicaran visi duniawi, dunia yang begitu saja yang hina bagi yang sangat mencintainya. Dunia yang bisa menjadi sarana meraih keridhoan Tuhan Pencipta dunia jika disikapi dengan baik dan benar. Malam itu, aku tidak bertanya apapun, hanya mendengar dan mengungkapkan satu hal yang kuungkapkan. Malam itu, taujih Murobbi-Murobbiyahku menjadi lebih dalam membekas, menjadi lebih lembut menyapa telinga. Aku berikhtiar menyadari itu, bahwa memang semua ini aku ikhtiarkan untuk melanjutkan estafet kebaikan, andaikan saja ada jalan lain insyaAllah aku pasti akan menempuhnya. Namun Allah dan Rasulnya menyisakan jalan ini yang harus kutempuh, sebagai ikhtiar ...

Menerka takdir

Menjalani hari demi hari, dengan ikhtiar perbaikan di setiap detiknya. Memang diri ini lemah, maka ia mencoba untuk kuat. Memang diri ini biasa saja, maka ia coba melakukan semampunya. Dengan hanya mengharap ridho Tuhannya. Hari kemarin memang takbisa diulang, tapi Rabbku bilang, bawa kesalahan bisa ditaubati, sehingga aku lebih berusaha menjadi baik. Jika belum baik, tak mengapa yang penting terus berusaha menjadi baik. Masa depanku memang aku tak tahu, tapi aku yakin bahwa Sang Pencipta telah tuliskan takdirku jauuuuh dari apa yang sekadar ada dibayanganku. Pagi ini begitu cerah, melukiskan masa depan yang merona. Aku masih berjalan menyusuri goresan takdir Rabbku, aku tak takut sebab Rabbku telah menjamin kehidupanku. Aku hanya bercita agar Rabbku menjadikan duniaku hanya pada genggamanku, bukan hatiku.

IRISAN TAKDIR

Menembus ruang-ruang keterbatasan, bukan tidak menyukai hal-hal biasa di keseharian, tapi nyatanya memang hal-hal biasa itu mudah hilang. Jika alasan berjuang karena dunia, sungguh dunia itu akan cepat berubah, dan dengan perubahan itu apakah lantas kita akan berhenti berjuang? Jika alasan berjuang karena Allah, sungguh Allah itu kekal dan tak akan membiarkan hambaNyan pergi kecuali dengan kebutuhannya sudah terpenuhi. Jika memang takdirnya, ia tak akan kemana. Sebagaimana air di hulu yang pad akhirnya bertemu dengan lautan. Selayaknya daun yang pada akhirnya bertemu dengan tanah. Jika memang bukan takdirnya, mau dipaksakan seperti apapun ia taakan bertemu. Seperti manusia yang menginginkan sayap untuk terbang, mustahil. Jika memang takdirnya, ia akan dilancarkan. Betapun banyaknya rintangan yang menghadang. Jika benar takdirnya, ia akan bersama-sama dibimbing untuk menembus ruang-ruang keterbatasan itu. Jika memang takdirnya, pasti ia akan berisisan.

MENENTUKAN SIKAP

Sebenarnya saya tipe orang yang memang agak cuek, tapi entah kali ini saya sangat berhati-hati. Setelah meminta pendapat ke orang yang saya percayai, akhirnya saya tekadkan hati untuk menentukan sikap. Menentukan sikap, untuk mencegah kemudharatan terjadi dalam kisah perjalanan ini. Menentukan sikap untuk lebih berani memutuskan perkara-perkara besar dalam hidup. Sejatinya kita memang hanya perlu merenungi setiap kejadian yang ada, untuk mengambil hikmah dan dijadikan pelajaran. Menentukan sikap, adalah salah satu ikhtiar yang insyaAllah bisa kita lakukan demi kemaslahatan. Agar hati lebih teguh, agar jiwa lebih kuat, dan agar diri lebih terjaga.

MEMULAI LANGKAH

Seperti ketika mendorong sebuah mobil, dorongan pertama akan berat lalu setelahnya akan lebih ringan. Seperti ketika berolahraga hari pertama biasanya meninggalkan rasa pegal pada tubuh. Begitulah langkah pertama memang cenderung lebih sulit, dan kesulitan terbesar adalah untuk memulainya. Memulai langkah, seolah bayangan kepedihan, kesusaha, kelelahan sudah tervisualisasikan dengan jelas. Jika ada kebaikan yang ingin kita biasakan dalam diri, maka sejatinya memang harus berani memulai langkah. Segontai apapun kita memulainya, langkah pertama itu harus kita jalani. Karena semua bisa karena terbiasa, dan bagaimana mungkin kita akan terbiasa jika kita tidak pernah memulainya? Hari-hari yang kita jalani ini mungkin sedikit membuat kita jenuh, apatah lagi tentang penantian pertemuan kita. Maka kurasa kita hanya harus berani memulai langkah untuk setiap perbaikan baru setiap harinya. Masa-masa ini biarkan jadi masa yang sangat berarti seperti masamu untuk memulai langkah menabung, aw...

MENDISIPLINKAN KEBAIKAN

Bukan sesuatu hal yang asing bagi kita tentang "amalan yang sedikit tapi konsisten lebih dicintai Allah, daripada yang banyak tapi hanya berjalan sekali atau beberapa waktu saja". Maka hari ini mari memulai untuk mendisiplinkan kebaikan. Mendisiplikan diri untuk melakukan perbaikan-perbaikan diri setiap harinya. Mungkin kita adalah pribadi yang masih suka mengulur-ngulur waktu shalat, maka mulai hari ini mari kita disiplinkan diri untuk shalat tepat pada waktunya. Mungkin kita adalah pribadi yang masih belum bijak dalam menggunakan smart phone, maka mulai hari ini, mari kita atur intensitas kita bersama telephone pintar kita itu. Mungkin kita adalah pribadi yang masih sembarangan dalam memasukkan sesuatu ke lambung kita, maka mulai hari ini mari kita mulai dengan memastikan bahwa apa yang kita konsumsi adalah sesuatu yang halal dan baik bagi tubuh kita. Teringat kajian Aa Gym yang saya tonton di Youtube kemarin, beliau mengingatkan bahwa "sejatinya kita hidup adal...

MERAWAT RASA

Rasa yang ada, biarkan tumbuh dengan sendirinya. Jangan diputus atau sengaja dihalau. Rasa ini biarkan mengalir sesuai fitrahnya, namun pastikan tetap pada koridor yang benar. Rasa ini yang terus kurawat, hingga hari ini. Rasa yang menjadikan hidup lebih dari sekadar hidup. Rasa yang membuat warna lebih dari sekadar sewarna. Merawat rasa, menguatkan asa.  Jangan biarkan rasa ini keruh, lantaran maksiat yang tak sengaja dilakukan. Jangan biarkan rasa ini menjadi perubah rasa yang tak enak pada rasa yang lainnya. Rasa yang akan membawa kita kepada kebersyukuran dalam hidup. Rasa yang akan mengingatkan kita bahwa setelah kehidupan masih ada kehidupan. Bahwa setiap pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan.

HUJAN

Hujan turun bersama sejuta harap mengalir do'a ke segenap penjuru dengan wajah tertunduk khusyu kedua bibirmu tak henti berucap.. Hujan pergi, meninggalkan air yang tergenang air tergenang memberikan banyak makna kehidupan Hujan menghidupkan yang mati begitu Rabbku mengabarkan, benar saja.. hati yang kerontang mulai kembali tumbuh.. Yang kutanam saat panas menyengat, baru saja tumbuh bersemai.

MENYATUKAN KEHEBATAN

Setiap kita dianugerahi kelebihan dan juga kekurangan. Setiap kita Allah sifati dengan watak yang berbeda. Setiap kita terlahir di waktu yang berbeda dan dari orangtua yang berbeda pula, tapi mengapa saat pertama bertemu seolah kita seperti telah saling mengenal sekian lamanya? Begitulah hati saling terpaut dengan ketaatan kepada Allah, tidak perlu banyak waktu untuk saling mengenal secara langsung karena nyatanya ruh kita sudah saling menemukan komunitas kebaikan yang sama. Setiap kita memiliki kehebatan, namun kehebatan individu akan lebih memberikan dampak yang maha dahsyat jika dihimpun dalam sebuah kehebatan kolektif. Dalam perjalanan mungkin saja ada ketidaknyamanan, pasti saja ada aral dan rintangan karena begitulah sunnatullahnya. Justru menjadi hal aneh ketika jalan kita selalu mulus, karena bjsa jadi kita tak pernah naik kelas karena tak pernah menghadapi ujian. Membangun kehebatan kolektif memang membutuhkan waktu yang panjang dan rengkuhan ukhuwah yang rekat. Bersabar...

Berjalan Menghampiri Takdir

Jika semua yang kita mau terwujud pada hari ini juga, mungkin kita tidak bisa belajar makna bersabar. Jika mimpi yang kita citakan terkabul tanpa usaha, mungkin kita tidak akan pernah mengenal apa itu perjuangan. Jika kebahagiaan cukup hanya pada diri sendiri, mungkin kita tidak akan pernah memahami bagaimana cara membahagiakan orang-orang terkasih. Apapun yg sedang kita lakukan hari ini, semata atas karunia Allah, atas izin Allah, dan semogapun atas Ridho Allah. Kita hanya sedang berjalan untuk menghampiri setiap takdir yang telah ditentukan untuk kehidupannkita. Kitapun nyatanya tak akan cukup menaruh harap pada makhluk, karena pengharapan yang akan terbayar adalah berharap kepada Allah sang Pencipta.

BERTUMBUH

Setiap yang besar, pernah mengalami menjadi kecil. Setiap yang sukses, pernah mengalami jatuh-bangun-tersungkur lalu bangkit. Apa yang kita lakukan hari ini, mungkin terlihat kecil. Biarkan yang kecil itu bertumbuh, sebagaimana biji tanaman berawal dari kecil lalu tumbuh dan bertumbuh dengan dahan yang rindang, bunga dan buah yang lebat. Jangan dulu terlalu cepat untuk mundur, bersabarlah sebentar karena manisnya surga akan kita raih jika kita mau untuk bersabar. Berusahalah, karena do'a tanpa usaha tak layak dilakukan oleh para pejuang. Bertumbuh, dari penuh dosa menjadi orang yang senantiasa menyesali dan menangisi dosa. Bertumbuh, dari yang tidak peduli menjadi berempati. Bertumbuh, dari prajurit menjari komandan. Bertumbuh dari staff menjadi pimpinan. Bertumbuh, dari jundi menjadi qiyadah. Semua sudau ditentukan, kiya hanya menjalani. Padahal tinggal menjalani, nyatanya tetap saja khawatir, tetap saja was-was. Biarkan potensi diri kita bertumbuh, menjadi produktif dan...

MENJADI APA ADANYA TANPA SYARAT

Keberhasilan hari ini, bukan semata atas perjuangan diri ini. Karena keberhasilan hari ini nyatanya terjadi karena kasih sayangNya dan atas do'a sahabat sholih yang tanpa kita sadari begitu sering mendoakan bahkan tanpa diminta. Bagaimana mungkin, lantas aku menyombongkan diri yang tidak ada ada apa-apanya? Bagaimana mungkin lantas aku berbangga diri padahal aku tahu sejauh mana kapasitas diriku? Hari ini, adalah hari yang dipikirkan sejak kemarin. Tapi jika ia terlewatkan begitu saja, maka hari ini tak akan dapat terulang. Menjadi apa adanya tanpa syarat, bukan berarti tak melakukan yang terbaik dibatas maksimal diri. Justru menjadi apa adanya tanpa syarat adalah dengan kesadaran akan peran diri sebagi hamba, sebagai jundi, sebagai qiyadah dan sebagai apapun atas amanah yang terembankan pada diri. Terjatuh dalam perjalanan tak mengapa, asal kemudian bangkit. Jangan takut terjatuh, karena dengan terjatuh kita akan tahu arti hidup yang lebih dalam maknanya.