Bukan hidup namanya jika diam tak bergerak. Bukan hidup namanya jika memilih mundur saat berjuang. Bukan hidup namanya jika terus lancar bebas hambatan.
Suatu hari kejuatan baru hadir, mulai mengusik rasa yang tak pernah dirasa sebelumnya. Ia hadir, baru saja mengucap salam. Tapi... sejenak saja ia tak terdengar lagi suaranya. Belum sempat melihat siapakah gerangan yang datang, sudahlah pergi tanpa meninggalkan isyarat. Saat itu juga, terbesit asa untuk berpura-pura lupa bahwa tak pernah ada yang mengucapkan salam sepersekian detik itu. Sesaat setelah itu, aku meyakinkan kembali diri bahwa anggap saja memang tak pernah mendengar salam sepersekian detik tadi.
Semakin ditolak kenyataan itu, semakin membawa diri pada ketidaksadaran.
Semakin ditolak hal itu, semakin menghantarkan diri pada ketidakjelasan yang tak berujung.
Mengapa tidak memilih menerima saja kenyataan bahwa memang tadi ada salam yang sempat terucap, hanya saja mungkin takdirnya belum beririsan untuk aku membuka pintunya dan mengetahui siapa yang mengucapkannya. Mengapa tidak memelih menerima saja kenyataan bahwa tadu memang ada yang sempat mengetuk pintu, hanya saja mungkin ia terburu-buru dengan kewajibannya yang lain.
Jangan ditolak, dengan mengalihkan diri mencari dan menduga. Jangan terlalu cepat menolak kenyataan, dengan cepat-cepat berprasangka. Bukankan semua yang dipertemukan, semata-mata karena memang takdirnya harus bertemu? Bukankan semua yang dipisahkan, semata-mata karena memang takdirnya harus berpisah?
Dan bukankah dengan mengetahui bahwa memang ada yang mengucapkan salam saat kau belum sempat menjawabnya, itu akan meyakinkan dirimu bahwa memang hanya Rabbmu yang maha mengatur segalanya?
Suatu hari kejuatan baru hadir, mulai mengusik rasa yang tak pernah dirasa sebelumnya. Ia hadir, baru saja mengucap salam. Tapi... sejenak saja ia tak terdengar lagi suaranya. Belum sempat melihat siapakah gerangan yang datang, sudahlah pergi tanpa meninggalkan isyarat. Saat itu juga, terbesit asa untuk berpura-pura lupa bahwa tak pernah ada yang mengucapkan salam sepersekian detik itu. Sesaat setelah itu, aku meyakinkan kembali diri bahwa anggap saja memang tak pernah mendengar salam sepersekian detik tadi.
Semakin ditolak kenyataan itu, semakin membawa diri pada ketidaksadaran.
Semakin ditolak hal itu, semakin menghantarkan diri pada ketidakjelasan yang tak berujung.
Mengapa tidak memilih menerima saja kenyataan bahwa memang tadi ada salam yang sempat terucap, hanya saja mungkin takdirnya belum beririsan untuk aku membuka pintunya dan mengetahui siapa yang mengucapkannya. Mengapa tidak memelih menerima saja kenyataan bahwa tadu memang ada yang sempat mengetuk pintu, hanya saja mungkin ia terburu-buru dengan kewajibannya yang lain.
Jangan ditolak, dengan mengalihkan diri mencari dan menduga. Jangan terlalu cepat menolak kenyataan, dengan cepat-cepat berprasangka. Bukankan semua yang dipertemukan, semata-mata karena memang takdirnya harus bertemu? Bukankan semua yang dipisahkan, semata-mata karena memang takdirnya harus berpisah?
Dan bukankah dengan mengetahui bahwa memang ada yang mengucapkan salam saat kau belum sempat menjawabnya, itu akan meyakinkan dirimu bahwa memang hanya Rabbmu yang maha mengatur segalanya?
Komentar
Posting Komentar