Langsung ke konten utama

Malamku bersama Ayah

Entah, kenapa selalu lega setelah mencurahkan rasa padanya.
Membicarakan impian-impiannya, yang hampir semua impian itu adalah untuk kami anak-anaknya.

Entah, kenapa begitu nyaman saat aku menyampaikan mimpi-mimpiku padanya. Seolah ia selalu mengatakan, bahwa aku mampu dan jalannya tidak akan sesulit yang ada di benakku, aku hanya harus terus berusaha.

Ayah, bagaimana mungkin aku membiarkan mimpimu tak terwujud. Selama diri masih bernyawa, kan ku ikhtiarkan semampuku. Mimpimu hanya satu, agar adik-adik mendapatkan pendidikan yang layak, agar masa depannya lebih baik.

Ayah, kau benar. Orang di luar sana melihat kita saat kondisi kita sudah baik seperti sekarang, mereka tak menyaksikan saat kau pergi pagi pulang malam namin tak membawa uang. Saat aku mencari kayi bakar dan ibu memasak terasi goreng di tungku yang berasap itu. Saat aa Icay harus bersekolah sembari menjadi ojek anter-jemput tetangga yang menjadi karyawan pabrik.

Ayah, seperti yang kita bicarakan malam ini semoga siapapun laki-laki terbaik itu nantinya, ia adalah yang mau menerima kita apa adanya tanpa syarat. Yang mau berbagi demi menuntaskan pendidikan adik-adik, entah adiknya ataupun adikku yang kelak akan menjadi adik kami.

Engkau yang lebih mengenalku dibandingkan diriku sendiri, engkau yang tak hentinya membanggakanku di hadapan rekan-rekanmu tanpa sepengetahuanku.

Malam ini, diskusi yang mendalam dari rumah ke negara. Dari misi kelurga menuju kebermanfaatan bagi masyarakat luas. 

Ayah, semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita. Agar baktiku padamu tak berhenti di dunia, namun Allah karuniakan kita berkumpul di JannahNya kelak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....