Entah, kenapa selalu lega setelah mencurahkan rasa padanya.
Membicarakan impian-impiannya, yang hampir semua impian itu adalah untuk kami anak-anaknya.
Entah, kenapa begitu nyaman saat aku menyampaikan mimpi-mimpiku padanya. Seolah ia selalu mengatakan, bahwa aku mampu dan jalannya tidak akan sesulit yang ada di benakku, aku hanya harus terus berusaha.
Ayah, bagaimana mungkin aku membiarkan mimpimu tak terwujud. Selama diri masih bernyawa, kan ku ikhtiarkan semampuku. Mimpimu hanya satu, agar adik-adik mendapatkan pendidikan yang layak, agar masa depannya lebih baik.
Ayah, kau benar. Orang di luar sana melihat kita saat kondisi kita sudah baik seperti sekarang, mereka tak menyaksikan saat kau pergi pagi pulang malam namin tak membawa uang. Saat aku mencari kayi bakar dan ibu memasak terasi goreng di tungku yang berasap itu. Saat aa Icay harus bersekolah sembari menjadi ojek anter-jemput tetangga yang menjadi karyawan pabrik.
Ayah, seperti yang kita bicarakan malam ini semoga siapapun laki-laki terbaik itu nantinya, ia adalah yang mau menerima kita apa adanya tanpa syarat. Yang mau berbagi demi menuntaskan pendidikan adik-adik, entah adiknya ataupun adikku yang kelak akan menjadi adik kami.
Engkau yang lebih mengenalku dibandingkan diriku sendiri, engkau yang tak hentinya membanggakanku di hadapan rekan-rekanmu tanpa sepengetahuanku.
Malam ini, diskusi yang mendalam dari rumah ke negara. Dari misi kelurga menuju kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Ayah, semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita. Agar baktiku padamu tak berhenti di dunia, namun Allah karuniakan kita berkumpul di JannahNya kelak.
Membicarakan impian-impiannya, yang hampir semua impian itu adalah untuk kami anak-anaknya.
Entah, kenapa begitu nyaman saat aku menyampaikan mimpi-mimpiku padanya. Seolah ia selalu mengatakan, bahwa aku mampu dan jalannya tidak akan sesulit yang ada di benakku, aku hanya harus terus berusaha.
Ayah, bagaimana mungkin aku membiarkan mimpimu tak terwujud. Selama diri masih bernyawa, kan ku ikhtiarkan semampuku. Mimpimu hanya satu, agar adik-adik mendapatkan pendidikan yang layak, agar masa depannya lebih baik.
Ayah, kau benar. Orang di luar sana melihat kita saat kondisi kita sudah baik seperti sekarang, mereka tak menyaksikan saat kau pergi pagi pulang malam namin tak membawa uang. Saat aku mencari kayi bakar dan ibu memasak terasi goreng di tungku yang berasap itu. Saat aa Icay harus bersekolah sembari menjadi ojek anter-jemput tetangga yang menjadi karyawan pabrik.
Ayah, seperti yang kita bicarakan malam ini semoga siapapun laki-laki terbaik itu nantinya, ia adalah yang mau menerima kita apa adanya tanpa syarat. Yang mau berbagi demi menuntaskan pendidikan adik-adik, entah adiknya ataupun adikku yang kelak akan menjadi adik kami.
Engkau yang lebih mengenalku dibandingkan diriku sendiri, engkau yang tak hentinya membanggakanku di hadapan rekan-rekanmu tanpa sepengetahuanku.
Malam ini, diskusi yang mendalam dari rumah ke negara. Dari misi kelurga menuju kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Ayah, semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita. Agar baktiku padamu tak berhenti di dunia, namun Allah karuniakan kita berkumpul di JannahNya kelak.
Komentar
Posting Komentar