Langsung ke konten utama

MENDISIPLINKAN KEBAIKAN

Bukan sesuatu hal yang asing bagi kita tentang "amalan yang sedikit tapi konsisten lebih dicintai Allah, daripada yang banyak tapi hanya berjalan sekali atau beberapa waktu saja".

Maka hari ini mari memulai untuk mendisiplinkan kebaikan. Mendisiplikan diri untuk melakukan perbaikan-perbaikan diri setiap harinya. Mungkin kita adalah pribadi yang masih suka mengulur-ngulur waktu shalat, maka mulai hari ini mari kita disiplinkan diri untuk shalat tepat pada waktunya. Mungkin kita adalah pribadi yang masih belum bijak dalam menggunakan smart phone, maka mulai hari ini, mari kita atur intensitas kita bersama telephone pintar kita itu. Mungkin kita adalah pribadi yang masih sembarangan dalam memasukkan sesuatu ke lambung kita, maka mulai hari ini mari kita mulai dengan memastikan bahwa apa yang kita konsumsi adalah sesuatu yang halal dan baik bagi tubuh kita.

Teringat kajian Aa Gym yang saya tonton di Youtube kemarin, beliau mengingatkan bahwa "sejatinya kita hidup adalah untuk menunggu waktu shalat, maka segala aktivitas kita selain itu adalah untuk mengisi waktu sembari menunggu waktu shalat kita tiba". Deggg... selama ini apakaha kita sudah demikian? atau malah seringnya menganggap aktivitas kita yang lain adalah yang lebih utama dan ketika waktu shalat tibam seolah kita terusik, terganggu, dan merasa bahwa pekerjaan atau kegiatan kita yang lain sangat berharga dan pada akhirnya kita mengakhirkan waktu shalat karena khawatir pekerjaan akan terganggu.

Padahal, sering kita mendengarkan taujih bahwa seberapa tepat waktunya kita dalam menunaikan shalat adalah faktor penentu apakah aktivitas kita semua akan beres atau tidak. Mari kita biasakan untuk mendisiplinkan kebaikan (shalat) ini, kita komitmen untuk langsung bersegera saat adzan berkumandang, sebagai pertanda tugas utama kita didunia ini harus ditunaikan.

 Mendisiplinkan penggunaan gadget baru saja saya dapat meteri di kelas foundy tentang management gadget. MasyaAllah sebelumnya saya sangat bersyukur atas rezeki yang Allah berikan sehingga akhirnya saya bisa kuliah di Institut Ibu Profesional walaupun baru tahapan menuju kelas Matrikulasi. Ya, kembali tentang mendisiplikan penggunaan gadget, saya yakin kita sudah khatam teori management waktu walau memang dalam prakteknya mungkin memang agak terseok-seok. Mulai hari ini, yuk kita buat waktu-waktu kapan saja kita boleh menggunakan gadget dan kapan saja kita harus meletakkan gadget. Karena pekerjaan utama kita untuk ibadah harus dipastikan teralokasikan dengan baik, dan waktu kita untuk dakwah, untuk keluarga dan untuk kegiatan bermanfaat lainnya juga harus bisa kita atur sedemikian baik.

Mendisiplikan diri untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan baik. Banyak sekali makanan yang halal, tapi tidak sedikit diantaranya yang tidak baik bagi tubuh. Sebagai seorang hamba yang sedang berusaha mendedikasikan diri di jalan kebaikan, sudah seharusnya kita memastikan betul bahwa apa yang kita makan tidak  mengandung zat yang berbahaya, atau tidak menimbulkan efek samping yang tidak baik apabila kita konsumsi terus-menerus. Mari kita kurangi dulu makanan yang berpenyedap, berpengawet, makanan junk food agar kita bisa lebih sehat dan kuat. Bukankah muslim yang kuat itu lebih baik daripada muslim yang lemah?

Yuk, bersama-sama mendisiplinkan kebaikan Agar disayang Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....