Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Malamku bersama Ayah

Entah, kenapa selalu lega setelah mencurahkan rasa padanya. Membicarakan impian-impiannya, yang hampir semua impian itu adalah untuk kami anak-anaknya. Entah, kenapa begitu nyaman saat aku menyampaikan mimpi-mimpiku padanya. Seolah ia selalu mengatakan, bahwa aku mampu dan jalannya tidak akan sesulit yang ada di benakku, aku hanya harus terus berusaha. Ayah, bagaimana mungkin aku membiarkan mimpimu tak terwujud. Selama diri masih bernyawa, kan ku ikhtiarkan semampuku. Mimpimu hanya satu, agar adik-adik mendapatkan pendidikan yang layak, agar masa depannya lebih baik. Ayah, kau benar. Orang di luar sana melihat kita saat kondisi kita sudah baik seperti sekarang, mereka tak menyaksikan saat kau pergi pagi pulang malam namin tak membawa uang. Saat aku mencari kayi bakar dan ibu memasak terasi goreng di tungku yang berasap itu. Saat aa Icay harus bersekolah sembari menjadi ojek anter-jemput tetangga yang menjadi karyawan pabrik. Ayah, seperti yang kita bicarakan malam ini semoga s...

OBAT KALA TERGELINCIR

Manusia memang mudah sekali tergelincir, sebentar saja baik, lalu jatuh lagi pada kesalahan. wahai diri, maka sekuat apa kau beruapaya meraih ridho Rabbmu tanpa menginsafi dosamu?. Wahai diri, apa yang kau cari selain indahnya kasih sayang Rabbmu? Semudah itu kau beranggapan, semudah itu kau merasa baik, dan semudah itu kau menyalahkan orang lain atas kejumawaan dirimu. Apa yg mampu kau jadikan bahan kesombonganmu, saat tersandung kerikil saja kau jatuh? Apa yang mampu kau jadikan bekal bertopeng diri di hadapan manusia, padahal kau sadar dosa-dosamu tidaklah seujung kuku? Wahai diri yang kerap kali menyakiti sesamamu, sudah berapa jauh usahamu mengejar maaf? Wahai diri yang kerap kali merasa lebih baik, apa bedanya kau dengan makhluk Allah yang telah dikutuk itu? Bukankah ia dikutuk lantaran merasa lebih baim dari adam? merasa bahwa api lebih baik dari tanah? Insyafi diri wahai diri, istighfarmu yang sedikit itu niscaya tak akan mampu menjadikan dirimu kembali baik. Moh...

BANGKIT

Jatuh sesekali tak apa, agar tahu rasanya bagaimana harus bangkit. Jatuh beberapa kali pun tak apa, agar lebih paham bagaimana selain  bangkit kita juga harus melanjutkan langkah. Bukan berdiri dan terdiam dalam keterpanaan. Selalu ada kesudahan yang baik bagi kita yang senantiasa berusaha menjadi baik. Selalu ada ujung dalam setiap jalan, meski harus jauh kaki melangkah. Awalnya sulit, tak apa karena itu wajar. Justru keterjatuhanmu itu menunjukkan dan membuktikan bahwa kau hanya makhluk bumi yang bisa terjatuh. Lebih dari hanya sekadar perasaan tenang, bangkitnya kamu dari jatuhmu hari kamarin, harus membawa perubahan signifikan dalam hubunganmu bersama yang Maha Penolong, yang telah memberikan rasa tenang dalam dirimu. Yang sudah biarlah sudah, memang tak mungkinlah dilupa namun bisa dimaafkan dan ditempatkan sesuai tempatnya. Selama kita masih berjalan dalam koridor yang sesuai, niscaya kita tak akan tersesat. Bukankah kita tak pernah kecewa dalam berdoa kepada Rabb k...