Langsung ke konten utama

MENYATUKAN KEHEBATAN

Setiap kita dianugerahi kelebihan dan juga kekurangan. Setiap kita Allah sifati dengan watak yang berbeda. Setiap kita terlahir di waktu yang berbeda dan dari orangtua yang berbeda pula, tapi mengapa saat pertama bertemu seolah kita seperti telah saling mengenal sekian lamanya?

Begitulah hati saling terpaut dengan ketaatan kepada Allah, tidak perlu banyak waktu untuk saling mengenal secara langsung karena nyatanya ruh kita sudah saling menemukan komunitas kebaikan yang sama.

Setiap kita memiliki kehebatan, namun kehebatan individu akan lebih memberikan dampak yang maha dahsyat jika dihimpun dalam sebuah kehebatan kolektif. Dalam perjalanan mungkin saja ada ketidaknyamanan, pasti saja ada aral dan rintangan karena begitulah sunnatullahnya. Justru menjadi hal aneh ketika jalan kita selalu mulus, karena bjsa jadi kita tak pernah naik kelas karena tak pernah menghadapi ujian.

Membangun kehebatan kolektif memang membutuhkan waktu yang panjang dan rengkuhan ukhuwah yang rekat. Bersabarlah, jika kita telah mengazamkan diri untuk mempersembahkan diri di Jalan Allah maka Allah yang akan membimbing langkah kita insyaAllah.

Seorang yang begitu kuat nyatanya masih butuh dikuatkan. Sering kita dengar bukan? Jika berjalan sendiri mungkin kita bisa berjalan dengan cepat, namun jika ingin berjalan dengan jarak yang jauh terlebih tak berkesudahan kita membutuhkan tim, membutuhkan jama'ah yang akan saling menguatkan, yang akan saling menghebatkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....