Ternyata sudah dua bulan tidak menulis apapun. Tidak membuat karya apapun selain sibuk menyelesaikan persoalan diri pribadi. Mengambil jeda dalam perjalanan yang cukup menantang medannya menjadi keputusan saya pada akhirnya. Keputusan atas kesadaran atau keterpaksaan mungkin menjadi beda tipis terlihat. Mencoba menjauh dari hiruk pikuk keramaian, bukan karena ingin menjauh, tapi sekadar mengembalikan orientasi diri pada jalan yang seharusnya, tersebab jika terus berada dalam keramaian, kekhawatiran akan semakin menjadi-jadi dan membuat diri terbuai atas nama ikhtiar.
Kemarin, beberapa hari lalu tak sengaja menonton chanel salah satu anak kiai yang sedang berduet dengan Ayahandanya, tersentak jiwa saya yang terdalam dengan nasihat "jangan menuhankan ikhtiar, sertakan tawakal, bahwa hanya Allah yang bisa membuat sesuatu terjadi" kurang lebih begitu yang saya ingat, tak sama persis dengan apa yang beliau sampaikan, namun itu yang termakna dalam qalbu. Pasalnya, sehari sebelumnya baru saja tak sengaja mendengar nasihat seorang ustadz di sekolah yang sedang menasehati rekan kerja untuk "tawakal dengan sebenar-benarnya tawakal kepada Allah". Seolah semesta sedang membisikkan pesan mendalam dari Rabbku. Mungkin ini yang sempat terlewat, tawakal saya masih kurang, atau mungkin benar-benar terlewat. Mana mungkin seorang hamba yang menyerahkan sepenuhnya urusan kepada yang Maha mengurus makhluknya akan kocar-kacir hidupnya?.
Kembali meyakinkan diri, bahwa apa yang ada disisiNya lebih baik. Mengafirmasinya setiap waktu agat tak disorientasi dalam perjalanan. Hari ini, kan kulanjutkan langkah kaki, menjalani setiap skenario kehidupan, pahitnya sudah kurasakan. Mungkin saja di depan ada pahit-pahit berikutnya, tapi semoga diri mampu bertahan hingga tiba pada manisnya ujung perjalanan.
Sampai bertemu di Surga.. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam episode perjalanan hidup yang mengajarkan bahwa apapun yang terjadi atas izin Allah dan patutnya diri memastikan keridhaanNya turut menyertai.
Kemarin, beberapa hari lalu tak sengaja menonton chanel salah satu anak kiai yang sedang berduet dengan Ayahandanya, tersentak jiwa saya yang terdalam dengan nasihat "jangan menuhankan ikhtiar, sertakan tawakal, bahwa hanya Allah yang bisa membuat sesuatu terjadi" kurang lebih begitu yang saya ingat, tak sama persis dengan apa yang beliau sampaikan, namun itu yang termakna dalam qalbu. Pasalnya, sehari sebelumnya baru saja tak sengaja mendengar nasihat seorang ustadz di sekolah yang sedang menasehati rekan kerja untuk "tawakal dengan sebenar-benarnya tawakal kepada Allah". Seolah semesta sedang membisikkan pesan mendalam dari Rabbku. Mungkin ini yang sempat terlewat, tawakal saya masih kurang, atau mungkin benar-benar terlewat. Mana mungkin seorang hamba yang menyerahkan sepenuhnya urusan kepada yang Maha mengurus makhluknya akan kocar-kacir hidupnya?.
Kembali meyakinkan diri, bahwa apa yang ada disisiNya lebih baik. Mengafirmasinya setiap waktu agat tak disorientasi dalam perjalanan. Hari ini, kan kulanjutkan langkah kaki, menjalani setiap skenario kehidupan, pahitnya sudah kurasakan. Mungkin saja di depan ada pahit-pahit berikutnya, tapi semoga diri mampu bertahan hingga tiba pada manisnya ujung perjalanan.
Sampai bertemu di Surga.. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam episode perjalanan hidup yang mengajarkan bahwa apapun yang terjadi atas izin Allah dan patutnya diri memastikan keridhaanNya turut menyertai.
Komentar
Posting Komentar