Langsung ke konten utama

Estafet perjuangan

"Usia kami sudah tidak muda lagi, besar harapan kami antumlah yang akan meneruskan perjuangan dakwah ini." Begitulah pesannya malam itu, ya beliau Murobbiku, Abi dan Ummiku, Paman dan Bibiku. Begitu merasuk dalam jiwaku nasehat itu, entah seperti langsung menghujam ke perasaanku yang paling dalam. 

Kita tidak sedang membicaran visi duniawi, dunia yang begitu saja yang hina bagi yang sangat mencintainya. Dunia yang bisa menjadi sarana meraih keridhoan Tuhan Pencipta dunia jika disikapi dengan baik dan benar. Malam itu, aku tidak bertanya apapun, hanya mendengar dan mengungkapkan satu hal yang kuungkapkan. Malam itu, taujih Murobbi-Murobbiyahku menjadi lebih dalam membekas, menjadi lebih lembut menyapa telinga.

Aku berikhtiar menyadari itu, bahwa memang semua ini aku ikhtiarkan untuk melanjutkan estafet kebaikan, andaikan saja ada jalan lain insyaAllah aku pasti akan menempuhnya. Namun Allah dan Rasulnya menyisakan jalan ini yang harus kutempuh, sebagai ikhtiar "semampuku". Tidak ada yang tersimpan dan terungkap selain aku tsiqoh dan taat pada guru-guruku sekaligus orangtuaku, yang mengikhlaskan waktunya diinfakkan untuk membagikan ilmunya kepadaku, di tengah tugas dakwahnya yang begitu padat, hanya untuk seorang perempuan yang bahkan tidak banyak kebaikan yang dilakukannya sepertiku ini.

Estafet perjuangan, tentang pemeran pada setiap zaman, setiap masa, bahwa setiap masa pasti ada pemerannya. Jika bukan kita pasti ada orang lain yang meniti jalan cinta para pejuang ini. Namun mau apa aku tanpa dakwah? mau kemana aku jika tanpa menyusuri jalan ini? untuk apa hidupku jika tidak untuk bertahan pada perjuangan ini?

Aku akan terus berikhtiar untuk terus menjadi bagian di dalamnya, meyakinkan Rabbku untuk tidak menyisihkanku dari orang-orang baik. Setidaknya walaupun diri ini belum baik, sekiranya Rabbku meridhoiku untuk terus berada diantara orang-orang sholih. Orang-orang yang rela menahan laparnya, yang rela menahan kantuknya, yang rela bepergian jauh demi dakwah, yang rela berjuang hingga titik batas kemampuannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....