Langsung ke konten utama

Memberikan Kenyamanan

Berikanlah kenyamanan dan jangan berikan ketidaknyamanan pada orang-orang di sekeliling kita.

Sama seperti kita yang senang berada di suatu tempat atau komubitas jika ada perasaan nyaman di dalamanya, pun sama dengan orang lain yang ada di sekeliling kita, mereka membutuhkan rasa aman dan nyaman untuk dirinya.

Maka sebisa mungkin berusahalah membuat orang-orang ketika bertemu dengan kita atau bekerjasama dengan kita merasa nyaman dan kemudian betah, apalagi kalau dengan hal tersebut orang-orang itu menjadi memberikan dedikasi terbaik atas amanah yang teremban pada dirinya.

Tentu saja dengan batasan yany sesuai syariat, mulai saja dari hal kecil seperti memenuhi hak saudara untuk di doakan saat bersin, dijenguk saat ia atau keluarganya ada yang sedanh Allah berikan nikmat sakit. Lalu bantu ringankan bebannya sebisa yang kita mampu, jangan malah membuat bebannya semakin berat. 

Dan keteladanan tentang memberikan rasa aman dan nyaman dalam beramanah kudapatkan dari Qiyadahku di ranah dakwah sekolah yakni beliau Kepala Sekolahku. Tampilannya yang bersahaja membuat siapapun menghargainya tanpa diminta, membuat orang-orang disekitarnya segan tanpa dipaksakan. Beliau yang senantiasa mentranfer ilmunya bahkan kepada jundi-jundinya yang masih baru pun. Bahkan tak jarang mungkin harus merogoh koceknya lebih dalam agar mampu meringankan siapapun. Sosok yang menyayangi keluarga dan juga merangkul jundi-jundinya seperti keluarganya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....