Langsung ke konten utama

REALITAS PENDIDIKAN HARI INI (Pengalaman 8 Bulan Thalabul Ilmi)

Lihat ibu pertiwi sedang bersusah hati
air matanya berlinang... ~~~

Aku teringat guru-guruku, yang dulu dengan diamnya mereka mampu membuat kami secepat kilat hening. Takut mungkin, tapi lebih dari itu besarnya rasa hormat/ takzhim kami pada Sang Guru.

Lalu tadi pagi ibuku sedikit nyeletuk, kalau sekarang kenapa justru berubah 180 derajat. Guru bahkan tidak lagi mengingatkan murid yg sedang bercanda atau acuh terhadap pelajaran yg sedang dijelaskannya. Tapi itu wajar, mau gimana kalo dulu kita dididik dengan penggaris kayu yg panjang kalau tak memiliki akhlak yg baik, kalau sekarang guru sekedar keras sedikit jadi viral.. yg dilaporkan polisi lah, yg didemo lah.. (sambung ibuku)

Disisi lain, aku merasakan dilingkunganku sendiri. Terlihat mana guru yg begitu ikhlas mendidik, dan yang hanya sekadar membubuhkan paraf dalam lembar absen harian. Ironi, aku masih belum bisa berbuat banyak atas hak murid yang terabaikan lantaran guru yang tak kunjung hadir mendidiknya. Kubilang cinta murid-murid ini bertepuk sebelah tangan, ia hadir setiap hari namun yg diharapkannya hadir tak kunjung menemuinya. Hingga sianhnm tiba, dan ia pulang dengan langkah tak berarti. Jiwa, Intelektualitasnya kosong lantaran terlalu lama tak terisi.

Aku sepakat dengan temanku bahwa pendidik memang juga membutuhkan sesuatu untuk memenuhi hajat dunianya, ya aku sepakat karena kapabilitasnya. Karena kehadirannya ke sekolah pyuur untuk mendidik, bukan hanya sekadar menagih amplop denga beberapa lembar Kertas bergambar soekarno Hatta.

Beralih dari cerita cinta bertepuk sebelah tangan antara murid dengan Guru. Di balik layar, justru sedang ada pertunjukkan saling menjilat dan saling melenyapkan. Menampilkan topeng baik di depan umum, dan dengan bangga menjatuhkan kredibilitas saudara lain. Wajar saja jika pendidikan hari ini terlihat begitu semrawutan, karena para aktor pendidiknya pun belum selesai pada Bab pengabdian dan Kerjasama serta Fastabiqul khairat. Seperti Lontong isi tanpa isi, mau dibungkus dengan daun emas seperti apapun tak akan bisa mendapatkan gelar kehormatan lontong isi, karena ia sekadar wujud lontong yg tak memiliki isi.

Mari, sama-sama belajar menjadi pendidik yang hadir dengan keteladanan. Bekerja hanya untuk Allah.

Bekasi, 09 Mei 2018 10:39 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....