Lihat ibu pertiwi sedang bersusah hati
air matanya berlinang... ~~~
Aku teringat guru-guruku, yang dulu dengan diamnya mereka mampu membuat kami secepat kilat hening. Takut mungkin, tapi lebih dari itu besarnya rasa hormat/ takzhim kami pada Sang Guru.
Lalu tadi pagi ibuku sedikit nyeletuk, kalau sekarang kenapa justru berubah 180 derajat. Guru bahkan tidak lagi mengingatkan murid yg sedang bercanda atau acuh terhadap pelajaran yg sedang dijelaskannya. Tapi itu wajar, mau gimana kalo dulu kita dididik dengan penggaris kayu yg panjang kalau tak memiliki akhlak yg baik, kalau sekarang guru sekedar keras sedikit jadi viral.. yg dilaporkan polisi lah, yg didemo lah.. (sambung ibuku)
Disisi lain, aku merasakan dilingkunganku sendiri. Terlihat mana guru yg begitu ikhlas mendidik, dan yang hanya sekadar membubuhkan paraf dalam lembar absen harian. Ironi, aku masih belum bisa berbuat banyak atas hak murid yang terabaikan lantaran guru yang tak kunjung hadir mendidiknya. Kubilang cinta murid-murid ini bertepuk sebelah tangan, ia hadir setiap hari namun yg diharapkannya hadir tak kunjung menemuinya. Hingga sianhnm tiba, dan ia pulang dengan langkah tak berarti. Jiwa, Intelektualitasnya kosong lantaran terlalu lama tak terisi.
Aku sepakat dengan temanku bahwa pendidik memang juga membutuhkan sesuatu untuk memenuhi hajat dunianya, ya aku sepakat karena kapabilitasnya. Karena kehadirannya ke sekolah pyuur untuk mendidik, bukan hanya sekadar menagih amplop denga beberapa lembar Kertas bergambar soekarno Hatta.
Beralih dari cerita cinta bertepuk sebelah tangan antara murid dengan Guru. Di balik layar, justru sedang ada pertunjukkan saling menjilat dan saling melenyapkan. Menampilkan topeng baik di depan umum, dan dengan bangga menjatuhkan kredibilitas saudara lain. Wajar saja jika pendidikan hari ini terlihat begitu semrawutan, karena para aktor pendidiknya pun belum selesai pada Bab pengabdian dan Kerjasama serta Fastabiqul khairat. Seperti Lontong isi tanpa isi, mau dibungkus dengan daun emas seperti apapun tak akan bisa mendapatkan gelar kehormatan lontong isi, karena ia sekadar wujud lontong yg tak memiliki isi.
Mari, sama-sama belajar menjadi pendidik yang hadir dengan keteladanan. Bekerja hanya untuk Allah.
Bekasi, 09 Mei 2018 10:39 WIB
air matanya berlinang... ~~~
Aku teringat guru-guruku, yang dulu dengan diamnya mereka mampu membuat kami secepat kilat hening. Takut mungkin, tapi lebih dari itu besarnya rasa hormat/ takzhim kami pada Sang Guru.
Lalu tadi pagi ibuku sedikit nyeletuk, kalau sekarang kenapa justru berubah 180 derajat. Guru bahkan tidak lagi mengingatkan murid yg sedang bercanda atau acuh terhadap pelajaran yg sedang dijelaskannya. Tapi itu wajar, mau gimana kalo dulu kita dididik dengan penggaris kayu yg panjang kalau tak memiliki akhlak yg baik, kalau sekarang guru sekedar keras sedikit jadi viral.. yg dilaporkan polisi lah, yg didemo lah.. (sambung ibuku)
Disisi lain, aku merasakan dilingkunganku sendiri. Terlihat mana guru yg begitu ikhlas mendidik, dan yang hanya sekadar membubuhkan paraf dalam lembar absen harian. Ironi, aku masih belum bisa berbuat banyak atas hak murid yang terabaikan lantaran guru yang tak kunjung hadir mendidiknya. Kubilang cinta murid-murid ini bertepuk sebelah tangan, ia hadir setiap hari namun yg diharapkannya hadir tak kunjung menemuinya. Hingga sianhnm tiba, dan ia pulang dengan langkah tak berarti. Jiwa, Intelektualitasnya kosong lantaran terlalu lama tak terisi.
Aku sepakat dengan temanku bahwa pendidik memang juga membutuhkan sesuatu untuk memenuhi hajat dunianya, ya aku sepakat karena kapabilitasnya. Karena kehadirannya ke sekolah pyuur untuk mendidik, bukan hanya sekadar menagih amplop denga beberapa lembar Kertas bergambar soekarno Hatta.
Beralih dari cerita cinta bertepuk sebelah tangan antara murid dengan Guru. Di balik layar, justru sedang ada pertunjukkan saling menjilat dan saling melenyapkan. Menampilkan topeng baik di depan umum, dan dengan bangga menjatuhkan kredibilitas saudara lain. Wajar saja jika pendidikan hari ini terlihat begitu semrawutan, karena para aktor pendidiknya pun belum selesai pada Bab pengabdian dan Kerjasama serta Fastabiqul khairat. Seperti Lontong isi tanpa isi, mau dibungkus dengan daun emas seperti apapun tak akan bisa mendapatkan gelar kehormatan lontong isi, karena ia sekadar wujud lontong yg tak memiliki isi.
Mari, sama-sama belajar menjadi pendidik yang hadir dengan keteladanan. Bekerja hanya untuk Allah.
Bekasi, 09 Mei 2018 10:39 WIB
Komentar
Posting Komentar