Langsung ke konten utama

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa
Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar
Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam
Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup

Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku

Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani

Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku

Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku

Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian... 

Hari berlalu, perasaanku membaru... 

Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin... 

Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar... 

Aku yakin bahwa setiap doa akan dikabulkanNya suatu hari nanti... 

Nak, meski hingga kini kita belum bertemu dalam dimensi yang sama... Tapi aku tak pernah berhenti berdoa agar kelak, Allah hadirkan kamu kedunia... 

Aku memang tak banyak berikhtiar dengan medis, tapi aku telah sekuat tenaga beikhtiar membawa dan menyampaikan doa itu di tanah HaramNya... 

InsyaAllah ketika kamu hadir ke dunia ini, Allah yang akan jamin kehidupanmu melalui ikhtiar Ayah dan Bundamu di dunia... 

Jika kamu lahir nanti dan mulai bisa berbicara

Panggil saja aku bunda... 😊

Tapi hingga kini akupun masih bertanya-tanya, mungkinkah aku dipanggil bunda? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...