Langsung ke konten utama

Menjumpamu Kembali (Trip to Malang) Episode Kampung Warna-warni Jodipan

Jum'at 27 April disiang hari, sekitar jam 11 siang kami janjian untuk pergi ke Jodipan bersama. Saya, Dwi, Hanifa, Firda bertemu di depan Gedung B FPIK UB. Setelah berdiskusi beberapa saat, kami pun memutuskan untuk naik Grab Car dengan kode promo "Grab Nyaman" yg lumayan dapet potongan sekitar 7rb hehe..
Mobil yang kami pesan datang, berwarna silver untuk kapasitas 6 orang.
mobil melaju meninggalkan Brawijaya, jalan cukup macet siang ini karena ada kegiatan Marching Band tingkat sekolah yg konvoi sedari Balaikota hingga Jalan Semeru.
Saya tidak terlalu memperhatikan jam ketika akhirnya tiba di kampung warna-warni. Setalah membayar ongkos grab car seharga 15rb, kami masuk ke kawasan kampung warna-warni dengan memberli tiket masuk seharga 3rb /orang terlebih dahulu. Sebenarnya ini kali kedua atau ketiga saya ke tempat ini, yang saya suka tempatnya cukup bersih dan warganya pun ramah-ramah. oiya sebelum membeli tiket kami sempat mengabadikan momen di jembatam dengan berswa foto terlebih dahulu

Saya dan ketiga adik ini pun akhirnya memasuki kawasan kampung warna-warni.. sempat berphoto di beberapa spot, namun sayang dokumennya terhapus berbarengan dengan SD Card Handphone saya yang ke format. Sesekali kami berhenti dan duduk lalu berbincang, berbagi cerita kehidupan paska kampus saya, dan mendengarkan cerita kegiatan adik-adik ini selama hampir delapan bulan setalah saya meninggalkan malang.
Adik-adik ini shalat di masjid yang ada di kawasan kampung warna-warni. Sebuah Masjid dengan dua lantai, menempatkan bagian perempuan di lantai dua, cukup nyaman dan adem. selesai shalat, kami melanjutkan piknik tipis-tipis ini dengan mencoba naik ke jembatan kaca. Untuk pengunjung yang sudah membayar tiket masuk sebesar 3rb /orang di awal, maka tidak perlu lagi membayar saat ingin menaiki jembatan kaca ini tetapai hanya perlu menunjukkan stiker/tiketnya saja.

Setelah beberapa kali mengambil gambar, kami turun karena pengunjung sudah cuku ramai. Photo ini diambiloleh mas-mas pengunjung yang kami mintai tolong hehe.. jembatan biasa namun bagian untuk jalannya diberi kaca, sayang kacanya buram jadi tidak terlalu terlihat bagina kolong atau bawah jembatannya, sehingga tidak terlalu memberikan kesan sesuai ekspektasi. Selanjutnya kami menutup piknik kali ini dengan mengambil photo di tulisan icon jodipan, dengan bantuan mas-mas yang berbeda dari photo yang sebelumnya. Setalah puas bermain dan berswa photo, kami kembali ke kampus FPIK Brawijaya dengan kembali naik grab dengan kode promo yang sama #GRABNYAMAN namun kali ini tarifnya jadi 19rb setalah potongan harga, karena dimana-mana jalan macet akibat agenda marching band yang sudah di mulai. Sesampainya di kampus saya sempat bertemu sukhufim dan memyapa sebentar, lalu saya bertemu Arif Suhendar dan sedikit berbincang.. karena waktu mepet dan saya belum packing akhirnya saya pamit.

Seringkali dalam hidup, kita melupakan hak diri untuk merasakan indahnya berlibur walaupun hanya ke tempat yang sebenarnya dekat sekali dengan kita. Namun kita memilih mengerjakan seluruh kesibukan kita di setiap waktu kita, hingga akhirnya kerja-kerja kita jadi tidak begitu maksimal karena diri terlalu penat. Begitu pun pada adik-adik ini saya katakan, bahwa kalian hanya perlu piknik bersama untuk merajut ukhuwah untu melepaskan penat sesaat lalu kembali kerja dengan pikiran dan jiwa yang fresh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....