Langsung ke konten utama

ADA PELAJARAN DALAM SETIAP PERJALANAN (Pengalaman Seorang anak Satpam yang bisa Kuliah di PTN)


Sebagaimana fitrahnya manusia sebagai makhluk pembelajar, nyatanya benar bahwa belajar tak mesti melulu tentang bangku sekolah atau pendidikan formal. Dalam setiap perjalanan hidup misalnya, betapa selalu banyak hikmah atau pelajaran baik yang bisa kita petik.Kali ini aku akan mencoba menulis kembali, ternyata jika kita menyadari setiap keindahan dalam perjalanan hidup, sejatinya kita adalah jiwa yang penuh dengan keberuntungan.

Hampir lima tahun silam saya menerima pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sama halnya siswa-siswa kelas dua belas saat ini yang tidak lolos SNMPTN (undangan), saya pun pernah merasa dunia saya berhenti saat ini. Karena bagi saya yang tidak terlalu cerdas ini adalah satu-satunya cara untuk saya melanjutkan kuliah di Universitas atau Perguran Tinggi Negeri. Saat itu saya mendaftarkan diri di IPB dan UM (Universitas Negeri Malang), tapi hal yang wajar saya tidak lolos karena memang hasil UN saya begitu rendah untuk jurusan yang saya pilih. Saya memilih jurusan TIN, jurusan yang tengah dijalani oleh kakak ipar saya saat itu. Waktu itu saya hanya berpikir bahwa saya harus kuliah tanpa tahu cocoknya kuliah bidang apa. Sempat terpikir oleh saya untuk menunda kuliah dan bekerja terlebih dahulu, tapi ibu saya tidak menyetujuinya sehingg saya termotivasi untuk kembali berjuang dan mendaftarkan diri di beberapa Kampus. Saya mencoba ujian mandiri UIN Bandung untuk jursan Ilmu Hukum dan Humaniora, selain itu saya juga mencoba mencari informasi di kampus swasta yang ada di Bekasi dan saya mendaftarkan diri untuk SBMPTN  dan memilih Universitas Brawijaya dan Universitas Riau.

Tidak mau mengulang kegagalan yang sama, kali ini saya cukup memperhatikan betul terkait passing grade setia kampus sampai ke program studinya, saya dapati waktu itu jurusan perikanan di Brawijaya dan Universitas Riau masuk dalam kriteria saya. Sehingga setelag saya gali info lebih dalam, saya memutuskan memilih program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan di Universitas Brawijaya dan Universitas Riau. Alasan saya saat itu hanya satu, saya tertarik dengan prodi tersebut karena kalau praktikum selalu seperti piknik dan diberi plesetan PSP (Praktikum sambil Piknik).

Sebelum atau sesudah pengumuman SBMPTN keluar, saya menerima pengumuman UIN di akun yang saya punya. Hasilnya baik karena saya lolos untuk program studi Ilmu Hukum, saya tidak begitu mengingat apakah pengumuman SBMPTN ataukan Seleksi Mandiri UIN yang saya terima terlebih dahulu. Namun keduanya memberikan hasil positif karena saya lolos di UIN dan Universitas Brawijaya. 

Orangtua saya dan keluarga besar lebih setuju jika saya mengambil UIN karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan Bekasi, serta ada saudara yang bisa dimintakan tolong jika ada hal-hal diluar keinginan terjadi nantinya. Hati kecil saya menginginkan untu kuliah di UB karena gradenya jauh lebih baik dibandingkan UIN Bandung saat itu. Pada waktu-waktu akhir mendekati daftar ulang di UB saya akhirnya berniat untuk mengikhlaskannya dan akan memilih UIN sebagai tempat kuliah saya, namun Liya mengirimkan saya pesan menunjukkan grade UIN dan UB, akhirnya saya galau lagi. Saat itu bulan ramadhan, saya sebagai perempuan biasa pun sedih dan saya menangis kalau ingat UB dan saya masih mencoba merayu Ibu saya bahwa saya sangat ingin kuliah di sana. Dua hari sebelum masa pendaftaran, akhirnya Ayah saya menyuruh saya berangkat daftar ulang ditemani Aa Icay (kakak sulung) dengan kereta api. Semangat hadir dan mengubah hari saya yang cukup melankolis menjadi bersemangat membara. Dalam waktu dua hari saya menyiapkan semua berkas yang diperlukan dan ketika hari itu tiba, saya dan Aa Icay ke Malang berdua.

Saya dan Aa Icay tiba di Malang pada pagi hari, saat itu banyak juga calon mahasiswa yang berada satu kereta bersama kami di kereta api Matarmaja dengan tarif 65rb perorang. Kami berdua langsung mencari angkot bertuliskan AL, yang saya ketahui dari teman les saya bahwa ke UB dari stasiun bisa dengan angkot bertuliskan AL dan angkotnya berwarna biru tarufnya 5rb perorang saat itu karena kami langsung diturunkan di depan gerbang UB. Sesampainya di gerbang UB saya dan Aa Icay mencari lokasi dengan berjalan kaki, kami belum sempat bersih diri pagi itu. Sembari saya melakukan daftar ulang, Aa icay keliling berjalan kaki mencari penginapan untuk kami menginap semalam,karena rencananya esok hari kami akan mencari KOST untuk saya kedepannya jika jadi kuliah di UB. 

Suasana riuh ramai oleh calon mahasiswa dan juga mahasiswa lama yang dikemudian hari saya tahu bahwa mereka sedang melakukan penyambutan kepada calon mahasiswa baru dikampusnya. Setelah pintu terbuka, saya langsung saja masuk yang saat itu saya berkenalan dengan Dianita Rosari perempuan asal Bekasi yang dikemudian hari menikah dengna dosen saya Pak Boimin dan diboyongnya ke Amerika untuk menemani beliau kuliah. Cukup lama menunggu, akhirnya semua rangkaian saya lalui dari meyerahkan berkas, tes kesehata, sampai pengukuran jas almamater. Setalah melakukan fitting almamater, saya keluar gedung GOR tapi di depan pintu ada kakak-kakak yang membawa papan bertuliskan FPIK dan mencari-cari CAMABA FPIK. Dengan polosnya, saya yang tidak mengerti apa-apa saat itu, saya pun ikut. Saya diminta mengisi nama dan identitas lainnya lalu diberitahukan info kost di standnya, selain itu ada satu orang yang bertugas seperti melakukan perploncoan (dikemudian hari kakak ini malah jadi praktikan saya di mata kuliah Observasi Bawah Air) saya ditanya-tanya dengan suara mengintimidasi. Saat itu saya menjawab sambil menunduk, lalu dia marah dan bilang kalau saya tidak seharusnya begitu, saya jawab begini "kak, saya kan harus menjaga pandangan dari laki-laki yang bukan mahrom saya jadi saya gabisa natap mata kakak", dengan gugup dia menjawab "oiya kamu betul, yasudah etika kamu sudah baik. dipertahankan" daaaan saya pun terbebas sehingga saya tidak dikerjain seperti teman-teman lainnya yang disuruh jalan jongkok dan diitimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan.

Tidak terlalu susah untuk menemukan Aa Icay, karena dia sudah menunggu saya di tempat yang sama saat kita berpisah sesaat. Kami lanjutkan lagi dengan mencari penginapan, namun nihil. Setelah beberapa saat mencari, orang yang kami kenal di kereta menelpon dan menawarkan kamar hotel dekat stasiun karena hotel dekat kampus sudah full booked semua, Aa Icay mengiyakan dan kami pun bergegas menuju hotel dengan angkot. Menuju senja kami baru tiba di hotel, alhamdulillah sudah disuguhkan ifthor untuk berbuka puasa. Setelah berbuka, kami mencoba keluar dan mencari warung makan dengan naik becak dan kami makan di warung tenda seberang stasiun.

Malam berlalu dan kami lanjutkan pagi ini dengan mencari atau survei Kost. Hingga siang hari kami belum juga dapet kost, sampai ke gang IV sumbersari (yang di kemudian hari saya tinggal di derah sini di tahun keempat kuliah atau semester 7 dan 8. Hampir-hampir saja Aa Icay ingin membatalkan puasanya, tapi keadan membaik setelah kami melaksanakan shalat dzuhur karena airnya dingin dan membuat kondisi tubuh menjadi lebih segar dari sebelumnya. Hingga pada akhirnya, kami pergi ke daerah mertojoyo ke kost milik ibu dari temannya Aa Icay. Begitulah pada akhirnya Saya memperjuangkan untuk bisa kuliah di Universitas Brawijaya. Hingga waktu berlalu lalu kami sekeluarga ke Malang (Saya, Ibu, Ayah, Aa Icay, Fia, Lala, dan Ezra) untuk mengantarkan saya kuliah, di hari pertama upacara OSPEK saya ingat air mata saya tidak terasa membasahi pipi saya, saya terharu karena saya seorang anak satpam bisa merasakan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri yang belum pernah terpikirkan sama sekali sebelumnya, saya juga anak pertama yang dikuliahkan karena Aa Icay si sulung setelah lulus langsung bekerja.

Kesempatan ini tidak saya sia-siakan begitu saja, di masa kuliah selama delapan semester saya mengikuti beberapa organisasi tingkat fakultas, universitas, regional dan juga nasional dan hal itu memberikan banyaaak pengalaman yang pada akhirnya kini saya rasakan manfaatnya ketika sudah memasuki dunia kerja. Masa kuliah saya tidak serta merta lancar begitu saja, saya pernah mendapatan nilai D lantaran saya jarang kuliah dan tidak bisa mengerjakan soal-soal ujian dan saya ulang di semester berikutnya. 

Impian saya untuk kuliah di Teknik Industri terbayar saat saya menjadi Volunteer untuk PSLD Universitas Brawijaya, karena saya mendampingi mahasiswa difabel berkuliah untuk membantu menjelaskan hal-hal yang tidak dipahami dari penyampaian dosen. Keputusan saya melepas kesempatan berkuliah di Ilmu Hukum, kemudian tergantikan dengan bisa merasakan menemani kuliah dan KKN Mahasiswa Ilmu Hukum sebagai volunteer.

Saya pernah mencoba berkorban (ini bukan untuk riya, tapi untuk bersyukur akan nikmat) untuk menunda pelaksanaan Program Kerja Magang, untuk mem-back up organisasi LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) bernama FOKSI saat itu.  Tapi alhamdulillah saya diberikan nikmat mendapatkan dosen pembimbing yang baik, yang Allah lembutkan hatinya membantu saya mati-matian (sedikit lebay) untuk bisa lulus tepat empat tahun atau delapan semester. Saya tetap mengerjakan skripsi saya ditengah masih beramanah organisasi ekstra atau OKP dan menjadi supervisor untuk fakultas lain yaitu FAPET UB. Saya berusaha adil terhadap hak dan kewajiban diri untuk tetap menyelesaikan  kuliah serta menjalankan amanah dengan sebaik mungkin semampu saya. Sampai saat wisuda saya diberikan kesempatan mendapatkan rekomendasi undangan VIP dari dosen saya Dr. Gatut Bintoro, sehingga meskipun tidak cumlaude karena ada dua nilai c+ di transkrip nilai saya, saya bisa memberikan sedikit persembahan kepada kedua orang tua saya.

Cerita saya terlalu random, terlalu banyak yang ada di kepala tetapi bingung menuliskannya. Pada intinya saya semakin menyadari bahwa apa yang kita yakini baik atau buruk di awal tidak selalu menjadi buruk di akhir jika kita melibatkan Allah dalam segala aktivitas kita.

Bekasi, 04 Mei 2018 10:56 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....