Langsung ke konten utama

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan.

Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha.

Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat itu jadi tau jalur lintas yang ngelewatin pantai-pantai di Malang Selatan. Melalui drama ban kempes sampe bocor, akhirnya pulangnya Mayla nebeng ibu-ibu sampe ke tempat tambal ban. Jalan-jalan yang random banget si, akhirnya nyampe di Sendiki beach, malah merenung, muhasabah, muroja'ah ealah.


Pernah juga ke alun-alun cuma buat makan, lari dari hiruk-pikuk kampus beberapa jam. Lalu pernah berniat dm3 bareng, udah sampe tahap ngerjain tugas kita pergi ke Vihara yang aku gatau kudu ngapain, itu kali pertama dateng ke rumah peribadatan agama lain. Suasananya gak biasa, pas lagi ke galerinya malah ada anak uler yang walau kecil tetep ajah bikin ciut. Lalu berdiskusi dengan pemuka agama disitu ya aku nyimak ajah, sambil kasak-kusuk biar dia yang nanya.


Entahlah, sudah berapa kali berupaya bertemu tapi tak kunjung bertemu, ada ajah jalan yang bikin gagal ketemu. Tapi semoga do'aku dan do'amu bertemu ye may di langit. "Gue gabisa bilang langsung sebesar apa rasa sayang gue ke lu may, pokoknya sesayang itu karena Allah lah, lu baca sendiri di mari ya."

Sekarang atau mungkin di waktu-wakti kedepan mungkin kita emang bakal jarang ketemu insyaAllah. Mungkin juga untuk sekedar say hai lewat HP pun jadi sering gak kepikiran, tapi selama nyawa masih dikandung badan, semoga do'a kita gak pernah putus satu sama lain.

Mungkin, lewat persaudaraan ini yang akhirnya nanti Allah perkenankan kita berkumpul kembali di surgaNya. (Lebay ya, gapapa lah ya). Lu itu unik, dan gabisa nyari yg sama kayak lu di manapun.

Selamat untuk terus menjadi semakin kuat ya ..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....