Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan...
Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.
Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.
Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.
Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊
Dulu orangtua selalu bilang, kami hidup lebih dulu dan lebih berpengalaman. Maka kalian para anak yang belum berpengalaman ikuti apa kata orangtua.
Apakah maksud dari itu adalah agar anak tidak perlu merasakan pengalaman sakit dan susah terhadap suatu keputusan yang seharusnya dicobanya kala itu?
Agar anak tahu yang namanya proses, bahwa dalam proses tak selalu mudah, ada rintangan yang mesti dihadapi, ada sakit yang mesti dirasa, ada kecewa kala gagal dan ada bahagia dan puas kala berhasil.
Anak hanya diajari merasa aman agar tidak melalui proses luka, tidak dilatih malalui ketidaknyamanannya agar mendapatkan kenyamanan yang lebih baik kedepannya?
Sekarang ia menyadari setelah 30 tahun usianya di dunia ini, literasi rasanya hanya ada takut, marah, dan bahagia.
Ia justru baru belajar mengenal apa itu perasaan dendam, kecewa, khawatir, kesel, sebel, senang yang biasa, senang sedang, dan senang sekali, serta literasi rasa-rasa lainnya yang masih ia eksplorasi hingga hari ini.
Komentar
Posting Komentar