Langsung ke konten utama

MANA UNDANGANNYA?

Kapan nikah? adalah pertanyaan populer saat diri mulai menginjak usia-usia 20an. Setelah lulus kuliah, undangan kian banyak sehingga seringkali pertanyaan selanjutnya " mana undangannya?" menjadi pertanyaan yang akan sering kita dengar. Apalagi jika dilingkunganmu hidup, mungkin teman sebayamu kebanyakn sudah menikah dan memiliki momongan.

Dalam konteks para pemuda yang mendedikasikan hidupnya untuk berusaha berbuat kebaikan, saya rasa semua pun memiliki tujuan membangun atau membina sebuah keluarga kecilnya, di mana disana akan lahir generasi-generasi yang akan meneruskan perjuangan menegakkan kebaikan. Mereka yang kemudian belum menikah hingga usianya di atas 23 tahun, kebanyakan bukanlah mereka yang terlalu selektif memilih seseorang yang diidamkan menjadi pasangannya hingga ke SurgaNya.

Teman dekatku misal, sudah dua kali atau lebih yang kuketahui dia menolak ihwal seorang lelaki yang datang padanya. Bukan karena dia tidak ingin menikah, tapi pertimbangan mendapatkan seorang yang secara pemahaman sama dan secara gerakan perjuangannya sama menjadi landasan berpikirnya. Bagaimana mungkin aku menyalahkannya, bukankah dengan membina keluarga adalah menyempurnakan separuh agamanya?. Namun akan menjadi berbeda, ketika justru dia menerima pinangan lelaki yang secara pemahaman dan tindakannya adalah sesuatu yang selama ini diperjuangkan untuk dihilangkan. Akan mudah mungkin untuk kita menanggapi, oohh bukannya istri Fir'aun begitu gigih mempertahankan keimanannya ditengah keganasan suaminya?.. Yaa, beliau seorang yang begitu kuat dan dikuatkan. Namun apakah salah diri, jika kita yang merasa belum sekuat itu, lantas memilih kembali untuk menguatkan diri?.

Atau temanku yang lain, yang hingga kini belum menikah. Bukan karena dia tak ingin menikah, bahkan dia berusaha mati-matian akhirnya berpuasa lantaran ia sudah siap untuk menikah secara kafaah dirinya, namun belum Allah kirimkah ihwal lelaki yang ingin meminangnya. Bukankan menikah adalah menyempurnakan separuh agama? prasangka baik hadir, mungkin saja ternyata separuhnya yang kini ada dalam diri pun belum utuh, sehingga untuk menyempurnakan yang separuh ia harus menyempurnakan separuh ada saat ini dulu.

Berapa banyak kita lihat film-film pendek yang selalu membuat perempuan muda kita pada akhirnya menjadi perempuan yang berlebih melankolisnya. Mendapat undangan walimah teman baper, denger si A akan menikah baper, bahkan melihat seorang artis kesukaannya menikah ia menangis sejadi-jadinya. Maka bersyukurlah, ketika masih tersisa perempuan-perempuan yang tegar dan menegarkan dirinya dengan menyibukkan diri dalam jalan kebaikan meski tertatih. Bukan karena ia tak ada keinginan membina rumah tangga, namun memang belum tiba waktunya. Karena Allah masih mempercayakannya untuk menjadi jalan bagi kasih sayang Rabbnya kepada Ibu dan Bapaknya.

Di era yang selalu didengungkan emansipasi, hingga tak ada bedanya emansipasi dan emansisapi. Perempuan menjadi sebuah komoditi yang bisa dinikmati oleh siapapun dan kapanpun. Sehingga fitrahnya sebagai seorang yang cerdas dan tonggak peradaban menjadi tergeser seolah tinggi semampai berlenggak-lenggok kucing berjalan "cat walk" adalah sebuah hal yang luar biasa dan harus menjadi mimpi setiap perempuan yang ada di dunia. Ia lupa, bahwa otaknya harus terisi, bahwa tenaganya harus digunakan untuk memperbaiki bangsa,bahwa suaranya harus dilantangkan di depan penguasa yang menindas hak-hak perempuan bukan di depan microfon ratusan juta rupiah diatas panggung sandiwara bersorai ramai tepuk penonton bayaran.

Dalam buku Salah Qazan bertajuk Membangun Gerakan menuju Pembebasan Perempuan terbitan intermedia misalnya, bagaimana digambarkan seharusnya perempuan berlaku. Membangun gerakan untuk memerdekakan diri seutuhnya dengan naungan Islam yang begitu mengerti hakihat perempuan seutuhnya. Bahwa dalam melakukan gerakan, bukan hanya hak laki-laki untuk berjuang. Namun perempuan mempunyai porsi yang sama untuk memperjuangkan kebaikan sebagai fitrahnya. Perempuan harus mampu membuat gerakan kebaikan yang terstruktur, yang solid dan tidak mudah dihancurkan dengan hanya sebotol gincu cair puluhan ribu. Mengambil kisah ibunda Zainab Al- Ghazali, perempuan hebat yang begitu ditakuti para pejuang kebatilan pada masanya. Mungkin begitu amat sulit bagi kita, yang seujung kuku pun tak akan mampu memberikan bilangan perjuangan yang sama. Namun mulai saat ini, mulai hari ini mari kita teladani dan lakukan kebaikan-kebaikan menurut batas kemampuan kita. Ah, itu di negeri jauh di seberang sana bagaimana mungkin kemudian menjadi contoh bagi kita untuk bergerak di Indonesia yang begitu kaya, kaya untuk yang kaya haha..

Bagaimana jika ibunda kita bersama, ibunda Yoyoh Yusroh yang dengan kelembutannya mengajak kepada kebaikan namun juga tegas menolak kebatilan. Bagaimana beliau mampu memberikan perhatian bagi orang-orang disekelilingnya. Bagi kita,bagaimana bisa seorang anggota dewan yang memiliki belasan anak masih bisa menanyaka ihwal potong kuku di setiap jum'atnya kepada seluruh anaknya. Atau sekadar mengambilkan minuman untuk teman sesama anggota dewannya?. 

Kedua perempuan di atas adalah bukti, bahwa dengan membina keluraga bukan alasan untuk mundur dari jalan kebaikan. Dengan menikah kemudia hilang dan berkutat dalam kebaikan semu atas nama cinta pada keluarga dan mundur teratur dari dakwah.

Menikah adalah sunnah, maka jangan kita buat ia menjadi hal yang menyeramkan karema ketidakbisaan lisan dalam menjaga ucap "MANA UNDANGANNYA?". Karena dia yang kita tanya, adalah seseorang terbaik yang tengah menjaga kesucian diri di tengah gemerlapnya jalan menuju kerusakan.

Bekasi, 02 Mei 2018 13:50 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....