Biarkan takdir yang akan menyatukan kita dalam sebuah pertemuan yang tidak akan rela untuk kita lupakan. Saat itu engkau berjabatan tangan dengan Ayahku, dan aku menunggu di balik tirai dengan penuh do'a.
Do'aku pada Tuhanku setiap harinya agar mempertemukan kita dalam keadaan kita telah siap. Siap untuk saling mencintai karenaNya, yang denganku engkau lebih mencintaiNya dan denganmu akupun lebih mencintaiNya.
Kita dipersatukan atas ketidaksempurnaan, maka masing-masing diantara kita menjadi penyempurna agama satu sama lain. Jika saja dalam perjalanan waktu justru kedekatan kita pada Sang Maha Cinta memburuk, maka saat itu kita harus mengevaluasi diri. Hati yanh dipersatukan atas cinta pada Rabbnya tidak akan berdusta dengan perlahan pergi meninggalkan Rabbnya dan asik dalam kefanaan dunia.
Di saat ini, kita sudah bersama dalam sebuah ikatan suci yang tak hanya mengikat aku dan dirimu. Tapi ikatan ini, ikatan yang juha mengikat keluarga besarmu dan keluarga besarku. Maka dengan adat dan kebiasaan yang berbeda, tentu saja wajar jika sesekali atau dalam beberapa waktu awal kita saling canggung satu dengan yang lainnya. Maka jangan memilih keluargamu atau keluargaku, karena ikatan ini tak mengajarkan kita untuk menghapus yang satu untuk menampakkan yang lain. Ikatan ini mengajarkan kita, untuk lebih sabar dalam menyesuaikan diri, untuk lebih pandai dalam menyentuh hati keluarga baru yang Allah hadiahkan untuk kita.
Ibumu menjadi ibuku, dan ibuku menjadi ibumu. Maka tidak mungkin kita saling memberi pilihan untuk memilih. Karena dengan memutuskan untuk hidup bersama, maka sejak hari itu, kita harus siap untuk mengabdi dan membahagiakan dua pasang orangtua yang Allah hadiahkan menjadi sarana untuk keberkahan dalam hidup kita. Allah sedang memint kita untuk lebih bijak dalam setiap persoalan yang akan hadir di dalam kehidupan kita yang baru.
Aku asing untukmu, begitupun sebaliknya kamu pun asing bagiku. Maka akan sangat wajar jika diawal pertemuan kita banyak terdiam, apalagi aku orang yang tidak mudah untuk dekat dengan seseorang. Maka mari bersama tingkatkan keberanian untuk memulai, memulai perkenalan dalam pertemanan keabadian. Kita hanya butuh waktu untuk saling mengenal.
Aku dan kamu pun memiliki masa lalu yang mungkin saja berbeda. Maka wahai diri yang sudah mentaubati masa lalunya, maka lupakan saja masa-masa itu, jangan lagi diingat dan dipertanyakan. Jika Rabbmu dan Rabbku saja sudah memaafkannya, maka untuk apa kita saling mengungkit masa lalu. Yang perlu kita upayakan adalah bagaimana membuat hari ini lebih baik, dan membuat masa depan lebih banyak keberkahan.
Jangan bosan untuk saling menyemangati, karena orang yang terlihat semangat masih butuh untuk disemangati. Tidak perli risau dengan takdir Tuhan, karena jika aku diciptakan untukmu maka Dia taakan membiarkanku menjadi milik yg lain dan begitupuan engkau yang tak akan bersama dengan yang lain.
Bersabarlah, karena sebaik-baik pertemuan adalah yang disertai dengan kerinduan.
Do'aku pada Tuhanku setiap harinya agar mempertemukan kita dalam keadaan kita telah siap. Siap untuk saling mencintai karenaNya, yang denganku engkau lebih mencintaiNya dan denganmu akupun lebih mencintaiNya.
Kita dipersatukan atas ketidaksempurnaan, maka masing-masing diantara kita menjadi penyempurna agama satu sama lain. Jika saja dalam perjalanan waktu justru kedekatan kita pada Sang Maha Cinta memburuk, maka saat itu kita harus mengevaluasi diri. Hati yanh dipersatukan atas cinta pada Rabbnya tidak akan berdusta dengan perlahan pergi meninggalkan Rabbnya dan asik dalam kefanaan dunia.
Di saat ini, kita sudah bersama dalam sebuah ikatan suci yang tak hanya mengikat aku dan dirimu. Tapi ikatan ini, ikatan yang juha mengikat keluarga besarmu dan keluarga besarku. Maka dengan adat dan kebiasaan yang berbeda, tentu saja wajar jika sesekali atau dalam beberapa waktu awal kita saling canggung satu dengan yang lainnya. Maka jangan memilih keluargamu atau keluargaku, karena ikatan ini tak mengajarkan kita untuk menghapus yang satu untuk menampakkan yang lain. Ikatan ini mengajarkan kita, untuk lebih sabar dalam menyesuaikan diri, untuk lebih pandai dalam menyentuh hati keluarga baru yang Allah hadiahkan untuk kita.
Ibumu menjadi ibuku, dan ibuku menjadi ibumu. Maka tidak mungkin kita saling memberi pilihan untuk memilih. Karena dengan memutuskan untuk hidup bersama, maka sejak hari itu, kita harus siap untuk mengabdi dan membahagiakan dua pasang orangtua yang Allah hadiahkan menjadi sarana untuk keberkahan dalam hidup kita. Allah sedang memint kita untuk lebih bijak dalam setiap persoalan yang akan hadir di dalam kehidupan kita yang baru.
Aku asing untukmu, begitupun sebaliknya kamu pun asing bagiku. Maka akan sangat wajar jika diawal pertemuan kita banyak terdiam, apalagi aku orang yang tidak mudah untuk dekat dengan seseorang. Maka mari bersama tingkatkan keberanian untuk memulai, memulai perkenalan dalam pertemanan keabadian. Kita hanya butuh waktu untuk saling mengenal.
Aku dan kamu pun memiliki masa lalu yang mungkin saja berbeda. Maka wahai diri yang sudah mentaubati masa lalunya, maka lupakan saja masa-masa itu, jangan lagi diingat dan dipertanyakan. Jika Rabbmu dan Rabbku saja sudah memaafkannya, maka untuk apa kita saling mengungkit masa lalu. Yang perlu kita upayakan adalah bagaimana membuat hari ini lebih baik, dan membuat masa depan lebih banyak keberkahan.
Jangan bosan untuk saling menyemangati, karena orang yang terlihat semangat masih butuh untuk disemangati. Tidak perli risau dengan takdir Tuhan, karena jika aku diciptakan untukmu maka Dia taakan membiarkanku menjadi milik yg lain dan begitupuan engkau yang tak akan bersama dengan yang lain.
Bersabarlah, karena sebaik-baik pertemuan adalah yang disertai dengan kerinduan.
Komentar
Posting Komentar