Langsung ke konten utama

MENGENAL DELAPAN PERMATA

Pengalaman sebagai orang yang pernah bergelut dibidang kaderisasi membuat Saya sangat beruntung, karena kini kepayahan-kepayahan yang dulu Saya coba bersabar atasnya kini menjadi sebuah panduan yang begiru bernilai.

Saya belajar banyak dari Arif tentang bagaimana ilmu "design thinking", membuat sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan mencarikan solusi setiap ada permasalahan. Bukan memaksakan sebuah program tanpa berpikir apakah akan sesuai atau tidakm bukan mengutuki permasalahn dan enggan memberikan solusi. Walau sampai sekarang Saya pun masih belajar, tapi setidaknya ada hal yang menjadi panduan untuk Saya bergerak.

Sejak diamanahi menjadi seorang wali kelas, Saya mencoba berpikir bagaimana caranya menjadi Fasilitator yang baik untuk anak-anak didik Saya. Tahun ini saya dihadiahi delapan murid perempuan di kelas akhwat. Mereka adalah Bunga, Sakura, Tulip, Lily, Teratai , Mawar, Melati dan Matahari.

Hal yang pertama kali Saya lakukan adalah membangun kedekatan, sejak masa orientasi saya mencoba dan berusaha untuk bisa diterima. Saya ajak mereka berkenalan satu-persatu dengan menyebutkan hal yang disukai dan hal yang tidak mereka sukai, sehingga menjadi bekal untuk Saya kedepannya, bagaimana Saya harus bersikap terhadap kedelapan anak didik Saya. Kemudian saya selalu gunakan waktu istirahat untuk menemani mereka makan siang di kelas dan kegiatan lainnya. Saya berusaha menjadi kakak, ibu dan teman yang baik. Mencurahkan segala perhatian Saya untuk mereka satu-persatu, karena umumnya perempuan memang suka perhatian dan suka diperhatikan.

Bunga, dia anak seorang guru dan Umminya adalah guru di sekolah ini guru SD lebih tepatnya. Dia suka menggambar itu baik, namun kebiasaannya menjadi tidak baik karena suka menggambar di buku-buku tulis saat guru sedang menjelaskan. Untuk awalan saya mencoba memintanya untuk menggambar dikertas dan gambarnya di tempel di kelas, lalu untuk kedua kalinya saya memintanya membuat strutur kelas untuk menggambar setiap orang di struktur kelas itu dengan gambarannya. Walaupun sampai hari ini, Saya masih mendapatinya suka menggambar di buku tapi saya tidak akan mematikan hal yang disukainya. Karena dengan menyuruhnya berhenti hanya akan mematikan bakatnya, sehingga kemungkinan besarnya ia akan berhenti menggambar dan kehilangans salah satu "added value" yang dimilikinya. Dan Pak Arraiyan membantu mengasah bakatnya Bunga dengan memberikan sebuah binder untuk media menggambarnya.

Matahari, tidak percaya diri adalah hal yang saya temukan saat pertama kali mengenalnya. Ternyata benar saja, saat di sekolah dasar ia sering menjadi korban Bullying teman-teman sekolahnya karena kondisinya yang berbeda dari yang lain. Saya berusaha membuatnya tampil lebih percaya diri dengan memperlakukannya selayaknya anak seusianya, walaupun secara pribadi Matahari masih bertingkah seperti anak kecil. Aku berusaha dalam beberapa tugas untuk membagi ke dalam kelompok yang berbeda,agar anak-anak yang lain terbiasa dengan Matahari dan begitupun sebaliknya, yang kutahu dari kepala sekolah, bahwa keinginan orangtuanya Matahari  menyekolahkannya disini agar bisa mengaji. Dan saat ini Matahari menghafalkan hafalan yang sama dengan teman-temannya yang lain dan juga sudah hafalan bacaan al-ma'tsurat yang selalu kita bacakan setiap pagi. 

Sakura, terlahir dari keluarga yang terkondisikan secara keislaman. Ayah-Bundanya adalah orang yang terbiasa dengan amalan-amalan Islami. Sakura selalu tampil ingin menjadi pemenang, kepribadian kompetitifnya baik walau terkadang emosinya masih bekum terkontrol. Sakura unggur dalam hal olahraga dan seni, di pelajaran yang lain pun tidak tertinggal, ya bisa dibilang stabil. 

Tulip, sama seperti Sakura. Namun Tulip sedikit pendiam, walaupun unggul Tulip selalu terlihat bersahaja. Pernah tangannya kepotong cutter dengan darah mengalir cukup deras, Tulip masih cool saja. Tulip tipe anak yang penurut tapi kemampuannya dalam bidang olahraga dan pelajaran umum serat menghafalnya sangat baik.

Mawar, cenderung mager dan kurang bersemangat tapi cerdas. Mawar anak yang harus digembleng untuk terus bergerak. Dia sangat suka memasak, sehingga kemagerannya akan sirna jika harinya cooking club tiba. Cita-citanya menjadi juru masak, unggul di beberapa mata pelajaran tak membuatnya jumawa.

Lily, sangat aktif dan riang. Suka bernyanyi walau suara pas-pasan, jiwa kepemimpinannya tinggi namun kadang masih kekanakkan. Hafalan Lily bagus walau bacaannya belum baik, Lily memiliki jiwa sosial yang tinggi. Lily masih harus terus diingatkan dalam hal kewahibannya sehari-hari.

Teratai, anak yang baik dan memiliki kemampuan berbicara yang baik. Tertai memiliki jiwa kompetitif namun tak semenonjol Sakura. Teratai stabil secara emosional, namun sedikit pemalu. Awal sekali di sekolah, sudah ada saja hal yang membuatku tersenyum tipis dibuatnya, lantaran kepolosannya mengungkapkan perasaannya pada salah satu murir ikhwan. Murid ikhwan memang tak pernah sungkan berbicara apapun padaku, dan dari pembicaraan merekalah kuketahui secara diam-diam Teratai harus diperhatikan secara lebih.

Melati, anak yang lucu. Terkadang sulit mengajaknya bercanda, karena dia agak sulit mencernanya. Kemampuannya dalam bernyanyi cukup baik, dan jiwa enterpreneurshipnya sudah terbangun. Melati memang yang paling imut dari yang lain.

Setelah mengetahui potensi masing-masing. Saya mencoba meramunya, dan membuat formula-formula setiap harinya untuk  berusaha membuat mereka lebih berkembang secara spiritual, intelektual, dan emosional. Sejatinya Saya ini hanya perantara, maka apapun yang terjadi bukan karena Saya tapi tersebab Allah lah yang memberikan kemampuan itu kepada delapan permata hati ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....