Pagi sampai siang hari tadi saya
terhanyut menonton pertandingan futsal di sekolah, salah satu rangkaian acara
Festival di sekolah. Pertandingan demi pertandingan berlangsung dan saya asyik
menyaksikannya sembari membaca buku, walau sesekali saya bingung mau fokus
membaca atau menonton. Tiba saatnya pertandingan final untuk merebutkan gelar
juara, saya pun mendekat dan duduk di kursi panitia.
Saya mengamati dari dekat para
pemain dan juga pelatihnya, malah sesekali saya terfokus kepada para pelatihnya
dengan arahan-arahan kepada para pemain. Goal demi goal dicetak oleh
masing-masing tim. Yang menarik adalah setelah set 1 selesai, saat para pemain
mulai emosional dalam bermain, ada dua perbedaan yang sangat jelas pada kedua
pelatih di masing-masing tim. Pelatih Tim B memberikan arahan kepada para
pemain, tapi tidak menyamakan suhu setiap pemain sehingga emosi pemain yang
suhunya mulai panas tidak diredam. Sedangkan Pelatih Tim B, memotivasi para
pemain dengan lembut dan sedikitpun tidak emosi, malah meminta para pemain
untuk lebih rileks dan fokus pada strategi bukan semata pada score yang unggul
tapi lebih dari itu yang harus dijaga adalah kekompakkan tim.
Dari kedua cara pelatih
memberikan arahan kepada pemainnya sudah terlihat bukan kemungkinannya?. Ya,
tepat sekali babak kedua berlangsung dengan panas tapi untuk Tim B, tidak
sepanas saat babak pertama, mereka menggiring bola kesana-kemari dengan lebih rileks
dan lebih kompak. Mereka bergerak sesuai perannya, tidak lagi ada yg nekat
untuk menuruti nafsu “bermain sendiri”.
Sehingga benar saja perumpamaan
pelatih bola dan pemainnya selalu menjadi ilustrasi akan suatu upaya membina.
Bahwa guru/murobbi/mentor/coach selayaknya tau kapan harus menekan dan kapan
harus mengulur dan selalu mengutamakan ukhuwah. Karena ketika kita bergerak
dengan hati yang saling terikat, maka ego pribadi dan prasangka buruk akan
sulit mengendalikan diri kita. Dengan ukhuwah yang baik dan tertunaikan haknya
dengan sempurna, maka kita akan lebih nyaman dalam menunaikan setiap amanah
yang ada, akan lebih tenang dalam menjalani setiap tempaan demi tempaan yang
sedang dihadirkan dalam hidup kita. Maka bijaklah menjadi pelatih, dan menjadi
bijak adalah pelajaran seumur hidup yang tidak akan selesai dalam satu atau dua
hari.

Komentar
Posting Komentar