Langsung ke konten utama

Dan Akupun Menjadi Guru..

Dan Akupun menjadi guru..
Menjadi salah satu dari Sarjana Perikanan yang mendidikasikan diri di bidang pendidikan, ya pada akhirnya Aku memilih jalan ini. Lebih dari sekedar memilih, Aku yakin bahwa ini adalah jalan yang Allah pilihkan untukku.

Seperti kebanyakan orang yang dilema saat lulus kuliah, idealisme bekerja di bidang yang linier atau mewujudkan mimpi-mimpinya dengan bekerja yang jauh dari bidang studinya, dan Akupun pernah pada tahap itu. Aku pernah berikhtiar mencari pekerjaan dibidang perikanan, tapi entah justru begitu banyak kekhwatiran yang menyapaku. Aku sudah bekerja di Sekolah dengan menjadi staff keuangan, namun aku juga masih beriktiar mengejar idealismeku untuk bisa bekerja di bidang perikanan. "Sayang", pikir orang-orang dan juga sedikit hati kecilku. Kuliah empat tahun, lalu ilmuku tak termanfaatkan.

Hingga pada akhirnya aku memilih diam, menurunkan ego dan mencoba berdamai dengan diriku. Kumintakan lagi fatwa pada hatiku, apakah yang sebenarnya kuinginkan.Cita-citaku dari dulu hanya satu, "menjadi sebaik-baik manusia yang menginfakkan harta di jalan Allah. Bukankah harta tak selalu uang?. Harta adalah sesuatu yang berharga yang kita miliki, dan ilmu adalah juga harta yang bisa Aku infakkan di Jalan Allah. Sejak lulus kuliah dan bahkan sejak kuliah, Aku bukanlah orang yang mengejar-ngejar sebuah pekerjaan namun seringnya aku menerima apa yang datang. 

Dan panggilan untuk tes demi tes di Sekolah Islam Terpadu aku jalani, mulai dari tes tulis hingga micro teaching dan berakhir wawancara. Entah kenapa aku merasakan sebuah ketenangan, seperti oh ini adalah sesuatu yang Aku butuhkan. Aku mengamalkan ilmuku sebagai langkah menjadi sebaik-baik manusia yang mendermakan harta (ilmu) di jalan Allah. Menjadi aktivis dakwah pendidikan, menggiurkan sekali. Bukankah jika Aku mengajarkan sesuatu lalu diamalkan oleh murid-muridku nantinya, hal itu merupakan amal jariyah untukku? beitu pikirku.

Sekarang, saat aku menulis cerita ini, sudah setengah semester kujalani peranku sebagai seorang guru. Sebuah peran yang selalu kucita-citakan sejak kecil, jika ditanya hedak jadi apa aku selalu menjawabnya "guru" dengan mantap. 

Kembali ke masa lima tahun lalu, saat hendak mendaftarkan diri di bangku kuliah. Aku mantap ingin mengambil jurusan keguruan, namun Ayahku tidak mengizinkan lantaran "kalau jadi guru jadi PNSnya susah, gajinya kecil". Aku yang baru lulus SMA saat itu memang tak paham dunia kerja yang ternyata sangat luas. Bahkan di zaman sekarang ini, cukup dengan bekerja dirumah seseorang bisa menghasilkan uang. Tapi, lima tahun lalu semua memang seolah sangat sempit terlihat karena pergaulan dan wawasan yang belum seperti sekarang. Hingga aku memutuskan untuk kuliah di bidang perikanan dengan alasan "karena jurusannya sering jalan-jalan, dan yang penting aku kuliah di kampus negeri yang bagus".

Kuliah di FPIK Universitas Brawijaya, membuatku menjadi pribadi yang lebih disiplin dan kuat. Begitu banyak ilmu kuliah yang kupelajari bukan hanya terpaku pada modul kuliah, namun lebih banyak lagi adalah tentang "added value" yang selalu dosenku dan seniorku bilang bahwa setiap orang harus punya itu, atau mereka sering sebut dengan istilah "soft skill". Dengan modal mengikuti berbagai organisasi, membuat berbagai kegiatan hingga menjadi asisten praktikum dosen untuk dua mata kuliah.

Sejak awal Aku sudah menyadari bahwa aku tidak suka dengan sesuatu hal yang monoton, aku menyukai sesuatu yang bebas namun tetap pada koridor norma yang berlaku. Keprihatinan aku rasakan saat aku bekerja menjadi staff keuangan di tempat kerjaku sebelumnya, kulihat guru-guru yang berkerja hanya untuk upah, padahal mereka lebih berharga dari sekadar upah itu sendiri. Sehingga, pekerjaan utamanya untuk mendidik selalu terkalahkan dengan gaji yang datang terlmbat, gaji terlambat gurupun tak datang, begitu saja tiap harinya. Guru-guru perempuan yang memang belum menerapkan nilai-nilai islam dengan sempurna, sehingga kerudung yang dikenakan hanya menjadi sebuah seragam mengajar saja, ketika mengajar selesai maka seragamnyapun selesai dikenakan dan auratnya dibiarkannya terbuka. Dan Aku ingin memperbaikinya, maka tidak cukup dengan Aku mendo'akan, aku harus mengambil langkah kongkret dengan terjun langsung dan 100% menjadi bagian darinya.

Maka sejak hari itu, bismillah dengan ridho orangtua dan guruku kulangkahkan kakiku dengan semata-mata mengharap Ridho Allah. Aku injakkan kakiku dibumi pendidikan. Pendidikan tiada akhir, dengan mengajar maka akupun belajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....