Langsung ke konten utama

KETIKA TIBA HARINYA

Awalnya aku dan kamu meragu, bahkan hingga hari ini tiba kita masih sangsi apa benar aku dan kamu akan menjadi kita?
Apa benar aku adalah penyempurnamu dan kamu adalah penyempurnaku?
Bermodal kemantapan hati atas istikhatah pada sang pemilik hati, akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan langkah..

Langkah yang akan menepis keraguan, walau hingga hari ini keraguan masih menggelayuti, bahkan di detik terakhir ketika prosesi penyerahan dan penerimaan tanggungjawab dari ayahku kepadamu yang sakral itu berlangsung..

Namun itu adalan prinsip yang kita jaga, bahwa tak ada hak dan kewajiban untuk mencinta hingga para saksi menyatakan sah pertemuan kita..
Hingga Arsy Allah bergetar atas Ijab-Qabul yang baru saja terjadi..
Sejarah emas dalam kehidupanmu dan kehidupanku

Setelah sekian lama mempersiapkan pertemuan, hari ini pertemuan itu telah disaksikan oleh penduduk langit dan bumi..
Dengan kicauan burung dipagi hari, menambah syahdu pertemuan kita ini..

Aku masih termenung, menunduk haru.. Air mataku masih terus mengalir, seolah tak mau berhenti mengalir dari mataku yang kecil ini..
Hari ini dua hati disatukan, dua kepala disatukan untuk membangun peradaban baru, untuk memberikan persembahan terbaik..

Hari ini, satu kalimat telah mengubah kehidupan dua keluarga.
Ketika yang haram telah dihalalkan, ketika yang tak terikat menjadi terjalin lalu terikat. Kalimat apalagi yang harus kita haturkan selain syukur dan istighfar. Syukur atas anugerah yang kita dapatkan hari ini, dan istighfar atas kesalahan yang masih saja kita lakukan dari hari ke hari, namun karena kemurahanNya Ia masih berkenan memberikan nikmat diperstukan kepada Aku dan dirimu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....