Langsung ke konten utama

JIKA TAK KUAT SENDIRI MAKA JANGAN MENCOBA UNTUK LARI

Selayaknya Musa sang Nabi Allah yang ditemani Harun Saudaranya..
Begitu beratnya perjuangan, tak membuatnya menyerah dan memilih pergi.. Ia hanya meminta kepada Rabbnya untuk diberikan penguat, dikirimkan seorang teman yang membantunya dalam memperjuangkan kebaikan tegak di muka bumi ini..

Maka memilih menyerah ketika lelah, bukanlah keputusan yang tepat. Mengapa tidak mencari teman seperjuangan? Mungkin kita memang kuat, tapi sekuat apa kita jika sendiri?
Memilih pergi tak akan membuat kita berprestasi, justru ketertautan hati akan mati. Bukankah dengan bersaudara maka semua akan lebih indah?

Manusia memang setidak sempurna itu, karena yang Maha sempurna hanyalah Rabb pemilik langit dan bumi beserta seluruh isinya.
Namun apa salahnya mempersembahkan yang terbaik yang kita mampu.
Kembalilah pada lingkaran ini, wahai hati yang mulai kerontang, kamu hanya butuh melihat senyum saudaramu, bercengkrama dengan mereka dan saling menguatkan satu sama lain.

Jangan memilih untuk berlari sendiri, mungkin akan cepat sampai tapi disatu sisi kau akan lebih cepat lelah dan tak mampu menempuh jalan kebaikan yang panjangnya tak terhingga, yang terjal dan curamnya tak terduga..

Mari bersama dan saling menguatkan..
Aku lemah, kamu lemah. Maka satukan kelemahan itu untuk menjadi kuat bersama..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....