Siang di
bulan oktober, baru saja aku tiba di rumah selepas perjalanan kota rantau ke
rumah tercinta. Rasa rindu pada rumah membuatku tak mengindahkan lelahnya
perjalanan tujuh belas jam duduk di kursi kereta yang keras dan sempit.
Ditambah membawa satu tas carrier 60 liter dan travell bag yang tak kalah
bobotnya, tak membuatku malas untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta
rangkaian listrik jatinegara- bekasi.
Perjalanan
selesai, aku pun tiba di rumah. Disambut senyum indah ibu beserta adik-adikku.
Semua menyapaku dengan begitu hangatnya, tak tergambar masalah atau duka semua
mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Kuletakkan tasku di ruang tamu, lalu
kurebahkan diriku tenggelam dalam sofa yang empuk lebih empuk dari kursi kereta
kelas ekonomi itu.
Kulanjutkan
dengan bersih diri lalu makan, ya sedari berangkat aku tak makan karena aku tak
punya uang untuk membeli makan. Aku pulang dengan isi dompet nol rupiah, tak
ada sepeserpun hanya bebekal dua botol air mineral yang kuisi ulang di
kontrakan sebelum berangkat.
Aku masih
terbawa suasana bahagia karena sudah berada di rumah, Sampai datang ibuku
menghapiri dan kudengarnya bercerita. Kali ini lebih panjang dari bisanya, kali
ini lebih memilukan dari biasanya. Ya, duniaku runtuh seketika dan dunia
menjadi sangat hina dihadapanku saat itu juga. Ibu bercerita bahwa Ayahku
sedang dirundung duka lantaran masalah yang diciptakan oleh sahabatnya. Sahabat
lama lebih tepatnya, karena dengan cepat sahabat lama Ayahku ini hadir kembali
dalam kehidupan kami. Setelah sekian tahun tak bertemu, membawa kabar bahwa
sudah mempunyai usaha yang sangat sukses. Mempunyai catering yang begitu besar
hingga bermitra dengan beberapa stasiun televisi negeri dan swasta negeri ini.
Ayahku yang notabene suka berbisnis jual beli mobil bekas atau sekedar menjadi
penyalur mobil gadaian, rupanya telah menjadi target operasi sahabatnya. Ayahku
senang bisa menyalurkan lebih dari lima mobil yang nominalnya cukup untuk
membayar uang kuliahku sejak mahasiswa baru hingga lulus. Tak disangka tak
dinyana, mobil-mobil itu milik rental yang ayahku tak tahu. Mobil-mobil yang
disalurkan oleh Ayahku ternyata mobil orang dan bukan mobil sahabatnya itu.
Semua baru diketahui saat orang yang bersangkutan mobilnya ditarik oleh
rental-rental mobil. Mobil tak ada uang pun tak ada, ya ayahku ditipu sahabatnya.
Sejak hari
itu, rumah menjadi hening. Ibu dan ayahku sering terlibat diskusi yang panas.
Tak cukup uang kita untuk mengganti, lagi bukan kita yang memakan uang itu.
Sekalipun rumah, kebun dan mobil pun kita jual tak mungkin cukup menutup
segalanya.
Aku lari ke
kamar, dan menenggelamkan wajahku dalam bantal. Tangisku pecah, betapa indah
jalan yang Allah pilihkan. Aku tak akan menyalahkan keadaan, karena aku yakin
Allah telah siapkan kesudahan yang baik diakhir kisah ini. Aku masih tetap
besyukur bahwa Allah membuatku kembali dekat padaNya. Ujian ini pada akhirnya
membuatku menjadi lebih semangat meningkatkan ibadah harianku. Allah hadirkan
ketenangan dalam diriku, tak terbesit sedikitpun rasa gelisah dan takut akan
kondisi ini. Justru aku hadir dan tampil menjadi perempuan yang lebih kuat.
Sesekali mungkin aku masih menangis, namun semata-mata tangisku hadir sebagai
ungkapan syukurr dan mohon ampunan.
Komentar
Posting Komentar