Langsung ke konten utama

REFLEKSI DUA BULAN MEMBANGUN CINTA




Dua bulan sudah aku berada di sini, rumah yang dulunya tak pernah terpikirkan olehku. Aku selalu percaya, bahwa Allah selalu mempunyai akhir yang indah bagi setiap hambaNya. Aku memang bukan orang yang kuat, tapi Allah memberikan kesempatan untuk berada diantara orang kuat nan hebat.
Aku masih ingat betul, betapa saat itu kebahagiaan menghiasi pertemuanku dengan keluarga baruku kala pertemuan perdana itu. Iya, aku sangat bahagia walau ku tak tahu apakah rasa itu pun ada pada dirimu semua. Cuma cokelat yang tak mahal yang kala itu sanggup kuberikan, namun kala itu itu batas maksimal yang bisa kuberikan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Aku masih asik mengenalmu satu persatu, menebak-nebak seperti apa sifatmu. Beradaptasi dengan semua kondisi yang begitu baru bagiku, namun aku masih yakin bahwa semua hanya tentang waktu. Seiring waktu berjalan, maka kuyakin aku akan bisa mengenalmu satu persatu, bukan hanya mengenal namun naik ke tingkatan ukhuwah yang kedua yaitu memahami (tafahum).
Sebulan berjalan, kita lari maraton. Semangat sekali, hingga jumlah syuro dan silaturahim mengahkan jumlah member kita. Aku pun makin optimis, dan makin berani untuk membangun cintaku disini walau aku khawatir kita akan kelelahan.
Hingga akhirnya kewajibanku yang lain mengharuskan aku untuk meninggalkan malang beberapa waktu.  Sebelum berangkat aku sudah khawatir, kalau kalau aku tak bisa memainkan peranku dengan baik melalui udara. Ditambah aku pun kehabisan tiket dan harus tinggal seminggu lagi. Waah, sangat sangat membuat tak nyaman. Meninggalkan amanah yang harus kujalani dan disaat aku masih harus menyesuaikan diri.
Aku tidak sedang melarikan diri dari kewajibanku, akupun cukup terganggu dengan semua ini. Tapi ya, semua harus dijalani. Bagiku memastikanmu baik-baik saja satu persatu dari kejauhan adalah sebuah keharusan. Tidak ada sedikitpun waktu yang berlalu tanpa memikirkan projekku ini, projek kita bersama.
Akupun kembali, ya aku berada di malang lagi setelah semua urusanku selesai. Kenyataan membuat pertahananku mulai terkoyak, kamu hilang dan aku tak tahu keberadaanmu. Hingga aku berpikir, apakah sudah tak sama lagi rabithoh yang kita baca hingga tak ada lagi sapaan-sapaan hangat walau hanya sekadar di grup sosial media.
Kamu memang bilang kalau kamu baik-baik saja, tapi bagiku ketidakhadiranmu dalam setiap agenda. Ketiada jawabanmu dalam setiap pesan yang kukirimkan, itu adalah bukti bahwa kita tidak sedang baik-baik saja.  Seberat apapun amanah dakwah jadikan ia sebagai ladang amal, agar kita tak merasa terbebani. Selelah apapun kita, tetaplah berada pada barisan ini, barisan yang tidak akan sempurna tanpa kehadiran satu orang diantara kita. Setiap kita mempunyai kemampuan, keunggulan, kecondongan, bahkan kelemahan yang berbeda. Namun semua itulah yang seharusnya mampu menguatkan kita.
Sempat terpikir olehku, bahwa apakah aku sedang membangun cinta yang bertepuk sebelah tangan (?). aku berusaha hadir, namun ternyata kamu sedang mundur teratur. Kamu sedang melangkah untuk perlahan meninggalkan (?). aku sadar, belum banyak atau bahkan belum satupun hakmu terpenuhi. Belum satupun aku memberi, namun dengan lancang aku meminta ini dan itu darimu.
Semangat!!!
Lillah J

-Syifa F. H-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....