Untuk mengetahui bagaimana atau seperti apa pemandu yang
produktif, maka terlebih dahulu perlu kita jabarkan arti atau definisi dari
masing-masing kata terlebih dahulu.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pemandu berarti
orang yang memandu sesuatu. Memandu berarti menjadi pandu bagi sesorang atau
sekelompok. Sedangkan pandu itu sendiri berarti anggota perkumpulan pemuda yang
bertujuan mendidik anggotanya supaya menjadi orang yang berjiwa kesatria, gagah
berani dan suka menolong sesama makhluk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pemandu adalah orang yang dititipkan pada dirinya amanah membawa kepada jalan
kebaikan. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, produktif berarti banyak
mendatangkan hasil.
Sehingga saya mengartikan bahwa pemandu yang produktif
adalah sesorang yang mampu dan terus
berusaha menghasilkan kader-kader yang yang berkualitas dengan segenap
kemampuannya. Seorang pemandu yang produktif adalah ia yang selalu meningkatkan
kapasitas pribadinya, lalu membagikan ilmunya kepada orang-orang yang
dipandunya.
Berbicara tentang pemandu, mungkin selama ini lebih dikenal
dengan mentor atau Murobbi. Di mana seseorang secara rutin membagi ilmunya
kepada mentee-menteenya. Menjadi pemandu adalah tentang memberikan keteladanan,
memberikan segenap perhatian kepada orang-orang yang dipandu.
Perbaiki Diri dan Menyeru Orang Lain
Mengutip dari salah satu sub bahasan buku Fiqih Dakwah,
bahwa langkah pertama seorang da’i atau
pemandu kebaikan adalah senantiasa memperbaiki dirinya. Di mana tujuan
memperbaiki diri adalah terciptanya kader-kader dengan aqidah yang baik. Dan
menyeru orang lain adalah tahapan yang tidak boleh dilepaskan dari proses
memperbaiki diri. Seorang pemandu atau da’i sejatinya adalah ia yang setelah
memperbaiki dirinya, ia juga mau dan mampu mengajak orang-orang disekelilingnya
menjadi baik dan senantiasa memperbaiki diri.
Kenali Potensi Diri dan Selesai dengan
Urusan Pribadi
Mengenali diri sendiri terkadang memag jauh lebih sulit,
karena seringnya kita abai akan hal ini. Mengenali potensi diri adalah untuk
bisa mengoptimalkan apa yang ada pada diri kita untuk menjadi penunjang
keahlian dalam membina, selain itu seseorang bisa menjadi lebih meningkatkan
kepercayaan dirinya karena sudah menyadari apa yang bisa diunggulkan dari
dirinya. Ia dapat tampil sebagai pribadi yang optimis dan lebih banyak
memberikan solusi, buka pribadi yang kosong tanpa isi.
Dalam buku bagaimana menyentuh hati dituliskan bahwa
rintangan dakwah seorang da’i atau pemandu kebaikan adalah permasalahan yang
muncul dari dalam dirinya sendiri. Potensi diri secara ruhiyah juga menjadi
perhatian penting, dimana bagi seseorang yang menjadi penyeru kebaikan yang
siharapkannya adalah keberkahan. Sehingga dengan ruhiyah yang baiklah berkah
itu akan turun kepadanya.
Menjadi Teladan Kebaikan
Gerak-gerik atau perilaku dan keteladanan seorang pemandu
yang ikhlas akan berpengaruh jauh lebih besar daripada tulisan dan ceramah.
Sehingga dengan keikhlasan dan penuh kasih sayang ia dapat memasukkan apa yang
ada dalam hatinya ke dalam hati orang lain. Seperti apa yang sering kita baca
atau kita dengar “apa yang disampaikan
dari hati akan sampai ke hati”. Dengan selalu berpegang teguh untuk
memberikan keteladanan yang baik maka sejatinya setiap orang yang telah
berkomitmen tersebut pada akhirnya selalu menjadikan fastabiqul khairat sebagai kesehariannya sebagai sara memberikan
keteladanan.
Menentukan Target Tiap Binaan
Dalam kegiatan membina, sudah menjadi keharusan bagi seorang
pemandu untuk mempunyai target untuk tiap binaannya. Agar kegiatan membina
bukan hanya hal yang menjadi penggugur kewajiban, namun menjadikan aktivitas
membina adalah sebuah kebutuhan. Setiap individu binaan mempunyai karakter yang
berbeda, mempunyai potensi yang berbeda-beda pula. Maka kepekaan seorang
pemandu dalam menganalisa dan menempatkan potensi tersebut pada tempatnyalah
yang menjadi kunci keberhasilan suatu kelompok binaan. Sangat mungkin jika
setiap individu dalam merealisasikan mimpinya berbeda-beda, maka tugas pemandu
adalah menjadi penyemangat untuk para binaan mewujudkan mimpinya. Jika kita
sudah memiliki target terhadap binaan kita, maka kita memiliki acuan untuk
membuat kelompok binaan kita produktif dan tentunya menjadi pemandu yang
produktif pula. Target yang dimaksud adala berupa target pribadi (prestasi,
keahlian, dll) serta target kelom[ok (membuat projek bersama atau kegiatan
lainnya yang memicu semangat setiap individu dalam kelompok binaan).
Jadilah Pendengar yang Baik
Kemampuan menjadi pendengar yang baik tidaklah dimiliki oleh
setiap orang. Di zaman dengan tuntutan eksistensi seperti sekarang ini, setiap
orang cenderung ingin lebih banyak di dengar daripada mendengar. Kita lihat
bagaimana seminar kadang dihadiri oleh sedikit orang saja, hal ini
menggambarkan sedikitnya orang yang mau menjadi pendengar yang baik disampaing
alasan lainyya tentunya.
Dengan kemampuan mendengar yang baik dan sabar mendengarkan,
seseorang akan lebih cepat mengenal dengan siapa ia berhadapan lalu mengambil
langkah yang tepat untuk memperlakukannnya dengan tepat pula. Dengarkanlah
setiap keluh-kesah setiap anggota dalam kelompok binaan kita, dengan demikian
setiap orang lebih merasa dihargai dan merasa ada yang mau mengerti dan
memperhatikan. Jadikan setiap momen adalah kesempatan berharga yang tidak boleh
terlewati begitu saja. Dengan demikian, selalu ada dalam diri kemauan untuk
memahami binaan dengan baik.
Berorientasi untuk Memberi Kontribusi
Setiap kita memiliki waktu yang sama dalam sehari, sama-sama
24 jam. Namun menggunakannya untuk hal kebaikan atau membuatnya jadi sia-sia
itu mutlak pilihan setiap individu. Maka berorientasilah untuk selalu
berkontribusi, berkontribusilah sesuai kemampuan.
Dalam hal menjadi pemanadu dalam aktivitas membina maka
kontribusi nyata adalah dengan kehadiran. Kehadiran selalu memebrikan efek
psikologis yang positif, maka menjadi pemandu yang produktif adalah ia yang
senantiasa menghadiri pertemuan-pertemuan yang mengharuskannya untuk hadir.
Hadir untuk berbagi ilmu serta membagi keluh-kesah dengan para binaan dalam
kelompok yang dibinanya. Dengan kehadiran itulah kita dapat mengetahui sejauh
mana kita telah mendidikasikan diri kita untuk menjadi penyeru kebaikan. Karena
jika untuk sekedar hadir saja masih sulit, maka bagaimana kerja-kerja besar
yang lain dapat kita selesaikan dengan baik.
Menjadi Produktif adalah Pilihan
Menjadi produktif adalah pilihan, pilihan yang yang
membutuhkan banyak pengiorbanan. Mengorbankan waktu, menuras pikiran dan tenaga
serta harta yang kita miliki. Karena dakwah adalah cinta, dan cinta akan
merenggut semua yang kita miliki. Sejatinya menjadi produktif atau tidak hanya
kita sendirilah yang bisa menentukan baik parameter kebberhasilan maupun hal
yang harus dilakukannya.
Menjadi produktif adalah dengan memberikan persembahn karya
sebaik dan sebanyak mungkin. Karya yang memberikan kebermanfaatan, karya yang
menjadi pemuas dahaga ditengah kehausan, yang mampu menjadi pelipur lara, yang
mampu menjadi solusi di lingkungan penuh
dengan segudang masalah yang tak terselesaikan.
Komentar
Posting Komentar