Oktober 19 2016
Bagi setiap aktivis
pastinya tidak asing mendengar kata “rapat”. Bahkan bisa jadi kata tersebut
selalu membanyangi setiap aktivitasnya sampai mungkin “kura-kura” menjadi
julukannya. Ya kura-kura bukan hewan air tapi mahasiwa kuliah-rapat yang selain
kuliah kegiatan rutinnya adalah rapat sana-sini membahas kepentingan rakyat katanya.
Begitupun dengan
Aktivis Dakwah Kampus (ADK), tak kalah merekapun punya julukannya sendiri.
Aswaja (ahlus syuro wal jamaah) begitu sering disebutnya. Saking seringnya
melakukan syuro (rapat) sampai sampai waktu paginya biasanya penuh dengan
syuro-syuro membahas agenda dakwah.
Dalam setiap
kegiatan rapat atau yang biasa disebut dengan syuro di setiap lembaga dakwah
kampus biasanya memerlukan waktu yang biasa-biasa saja bahkan bisa sangat lama.
Tapi yang harus diingat biasanya ada aturan bahwa tidak ada kegiatan syuro
setelah maghrib. Hal ini yang kemudian menjadi pembeda anak rohis dengan
lembaga lainnya. Bukan untuk membatasi, namun hal ini untuk saling menjaga agar setiap kader bisa
beristirahat barang sejenak. Ya kita sama-sama tahu amanah dakwah memang tak
ringan.
Sebelum saya
benar-benar berada di kepenguruan Foksi tahun ini biasanya saya syuro’ hanya
sekedar datang dan mengikuti alur. Namun suatu ketika Arif pernah bilang bahwa
syuro harusnya menyelesaikan masalah dengan memaparkan solusi atau tugas yang
sudah dikerjakan di rumah sebelumnya, sehingga tidak harus berlama-lama dan
memikirkan dari nol ketika syuro berlangsung. Karena dengan demikian syuro
menjadi lama dan tidak efektif, poin-poin yang disyurokan pun terkadang tak
mampu terselesaikan karena semuanya sama-sama baru dipikirkan saat forum
berlangsung.
Mulai saat itu, saya
pun memperbaiki diri saya dalam hal syuro ini. Ketika akan syuro saya sudah
menyiapkan catatan untuk saya sampaikan ketika syuro nantinya agar saya tidak
hadir dengan kosongan saja. Berikut ini beberapa langkah yang mungkin
kedepannya akan membantu:
Pertama, saat ada undangan syuro baca dengan seksama
isi undangannya. Pastikan tidak ada
yang terlewat. Mulai dari siapa yang mengundang dan untuk apa atau sebagai apa
kita diundang. Pastikan ada kontrak waktu untuk syuro, agar kita tahu waktunya
berapa lama. Agar agenda yang lain tetap bisa kita jalani dengan baik.
Kedua, baca bahasan apa yang akan dibahas saat syuro
nanti. Jika tidak ada pemberitahuan
akan membahas apa, maka bertanyalah pada sang pengirim undangan. Untuk apa? Ya
agar kita tahu apa yang harus kita siapkan. Teruslah bertanya sampai kita
mendapatkan jawabannya, tentunya dengan adab yang baik.
Ketiga, saat
sudah mendapatkan poin-poin bahasan maka buka buku agenda lalu tulislah agenda syuro itu dibuku agenda kita. Selanjutnya,
menulis poin-poin yang akan dibahas juga dalam buku syuro atau buku yang biasa
kita pakai untuk menulis. Kupas poin itu satu persatu, jika masih sibuk
mengerjakan yang lain maka minimal kita catat poinnya dan jadikan itu sebagai
PR untuk diselesaikan dilain waktu.
Keempat, persiapakan ruhiyah yang baik. Lakukan ibadah-ibadah harian terbaik, agar syuro
kita menjadi barakah dan atas hidayah dari Allah. Dengan ruhiyah yang baik maka
sejatinya akan membuat agenda-agenda kita mendapat naungan Rahmat dari Allah.
Bukankah malaikat akan hadir di setiap majelis-majelis yang didalamnya
disertakan dari mengingat Allah?
Kelima, datanglah tepat waktu. Datang di jauh waktu sebelum syuro hanya akan
membuat kita lelah menunggu sehingga energi terbaik yang harus digunakan saat
syuro menjadi terbuang sebelum waktunya. Datang di jauh setelah waktu yang
ditentukan, membuat kita menjadi dzalim terhadap saudara-saudara kita yang
lainnya serta membuat diri kita menjadi tidak disiplin. Maka datanglah diwaktu
yang tepat seminimal mungkin, jika memungkinakan maka datang beberapa menit
sebelumnya agar bisa membantu mengkondisikan tempat syuro.
Komentar
Posting Komentar