Langsung ke konten utama

Jadi mentor? Mengapa harus?




September 08 2016
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Q.S Ali Imran : 104)
Mencoba mentadaburi ayat 104 surat Ali Imran maka sudah sepatutnya untuk mengambil bagian dalam menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Maka melalui kegiatan mentoring, Saya mencoba memberikan peran untuk berharap menjadi orang yang beruntung sebagaimana dimaksud dalam ayat di atas.
Tahun 2013 adalah awal Saya mengenal dunia mentoring, melalui kegiatan yang diadakan dalam serangkaian kegiatan Raja Brawijaya yakni PKBR (Pembinaan Karakter Berbasis Religi). Pada kegiatan tersebut Saya mulai mengenal apa itu mentoring. Hal baru yang menurut Saya kala itu akan membuat Saya menjadi lebih baik. Ya berusaha menjadi lebih baik dengan memilih lingkungan yang baik. Saya rutin mengikuti kegiatan PKBR sampai pada tingat Fakultas yang saat itu diadakan setiap hari sabtu sebelum kegiatan  Krida Mahasiswa.
Tahun 2014 hingga sekarang Saya mulai mengikuti program-program pembinaan untuk pelatihan Mentor seperti Training Of Trainer di Fapet untuk kegiatan PKBR fapet dan program-program yang diadakan oleh FOKSI dan UAKI. Bagi Saya mentoring adalah kebutuhan untuk meningkatan kapasitas diri Saya baik secara akhlak maupun aktivitas akademik Saya karena Saya bisa berbagi dengan teman-teman Saya sesama teman mentoring dan juga mentor Saya.
Suatu perubahan besar harus dimulai melalui langkah kecil dan langkah kecil itu dengan berkontribusi dalam kegiatan mentoring. Dengan menjadi seorang mentor, Saya berharap bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sesama terutamanya adik-adik Mahasiswa Baru 2016 yang akan diwadahi oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan untuk perdana dengan pengelolaan yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....