Langsung ke konten utama

Jangan Bermain-Main dengan Amal Yaumi




September 15 2016
06:08, Rumah Peradaban

Pantas saja jika perempuan dikatakan setengah agamanya dan setengah akalnya, karena perempan memeng mengalami apa yang tidak dialami laki-laki di setiap bulannya. Memang amal yaumi Saya sebelumnya juga biasa-biasa saja, tapi hari ini sejujurnya Saya memang sangat kacau. Saya merasa tidak melakukan apapun, lantaran memang Saya sedang tidak shalat.
Jam delapan malem semalam, semua orang meneror diri Saya dengan tugas ini dan itu. Saya merasa kepala Saya sangat penuh dan tidak bisa dimasukan apa-apa lagi. Tugas yang sebenarnya jika Saya cerna dengan baik saat kondisi Saya sedang baik mungkin akan mudah. Tapi nyatanya semalam Saya tidak bisa berpikir apapun. Ditambah semua yang Saya harus lakukan pun terlupakan oleh  Saya. Mungkin lupa adalah sebagian dari nikmat. Namun justru Saya takut rasa lupa itu adalah bentuk hukuman dari Allah karena Saya belum maksimal dalam beribadah.
Amal yaumi bagi orang yang berusaha berada dalam jalan kebajikan adalah sebuah keniscayaan. Hidup yang dijalaninya tanpa ibadah yang mumpuni bagaikan bunga yang mulai layu, apabila terus-terus ibadah hariannya ditinggalkan maka tinggal tunggu dalam watu dekat bunga itu akan mati. Sebagaimana doa bagi seorang muslim adalah ibarat pedang, maka amal yaumi adalah energi untuk bisa membantu segala aktivitasnya. Mungkin tiap diri kita akan bisa merasakan jauhnya perbedaan saat amal yaumi kita sedang bagus atau sedang buruk sekali. Bagaimana jadwal kita yang sudah kita susun dapat terlaksana dengan lancar dan bagaimana pula jadwal yang kita susun justru semua tak ada satupun yang terlaksana. Bahkan hari-hari pun menjadi gelisah, tidak ada ketenangan dalam diri kita.
Saya menceritakan hal ini bukan untuk menyingkap aib, namun semoga menjadi pelajaran bersama. Kedekatan kita pada Allah akan tercermin dalam akhlak kita sehari-hari. Maka mulai hari ini marilah bersama-sama saling mengingatkan untuk senantiasa memperbaiki diri dan meningkatkan amal yaumi kita. Agar energi yang kita siapkan menjadi cukup untuk aktivitas kita yang sangat padat dan berat itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....