Langsung ke konten utama

duania kampus



Dunia kuliahku telah dimulai, tugas-tugas yang deadlinenya hanya sehari telah kudapatkan. Tugas-tugas menumpuk telah kurasakan. Hidup adalah pilihan ini saatnya kita memilih untuk menyelesaikan tugas-tugas atau membiarkannya begitu saja tanpa berpikir kapan akan menyelesaikannya. Aku memilih untuk menjadi mahasiswa berprestasi untuk itu aku memilih untuk mengerjakan semua tugas yang diberikan secara maksimal. Sekuat tenaga sekuat pikiranku aku harus menyelesaikan semua tugas-tugas. Mengikuti semua aturan dan bergabung dengan berbagai acara selama aku masih mempunyai waktu luang. Tak akan kubiarkan waktuku terbuang dengan percuma untuk hal-hal ynag tidak berguna dan cenderung meberikan dampak buruk.
Hari ini tugas-tugasku telah rampung, dihari ini aku libur dan tanpa tugas. Ini lah hidup setelah susah pasti ada kesenangan yang akan menggantikan. Mungkin untuk sebagian  mahasiswa waktu libur seperti ini mereka gunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat seperti pergi ke mall, jalan-jalan, atau bahkan mungkin ada yang hanya melewati waktu liburnya untuk tidur saja. Betepa meruginya jika kita adalah termasuk seperti mereka itu. Diwaktu libur seperti ini alangkah lebih baiknya jika kita melakukan hal positif yang memberikan manfaat misalnya dengan bersih-bersih kamar, mencuci pakaian, menyetrika pakain, menyiram pohon, mengepel atau mungkin dengan mencuci kendaraan yang kita punya yang setiap harinya kita kendarai ke kampus.
Banyak yang beralasan hang-out ke mall untuk sekedar mencuci mata, namun aku pikir hal itu malah akan mengotori mata kita. Dengan melihat barang-barang bagus setidaknya akan membuat kita ingin membelinya, alhasil uang yang seharusnya digunakan untuk keperluan kuliah malah digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak mendesak untuk dibeli bahkan cenderung tidak penting.
Sebagai mahasiswa kita harus pandai-pandai mengatur keuangan kita, apalagi jika setiap bulannya kita masih dikirimkan uang oleh orang tua kita. Seharusnya rasa malu itu hadir karena sudah menginjak dewasa kini kita masih saja meminta uang kepada orang tua kita. Jujur saja di semester 1 aku masih meninta kepada orang tuaku.  Sebisa mungkin aku berhemat, dan setiap bulannya kutabung sisa uang yang tersisa setiap bulannya, maksud hati untuk berjaga-jaga mungkin ada kegiatan yang harus mengeluarkan uang lebih, dan aku ingin tidak memintanya kepada orang tuaku.
Aku adalah mahasiswi baru tahun 2013 saat pertama kali menulis buku ini, aku berada dibawah nauangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB prodi PSP. Masuk di Prodi PSP mungkin awalnya bagiku serasa tersesat, namun setelah kujalani semuanya ternyata tak seburuk yang kupikirkan. Semua pilihan pasti ada konsekuensinya, dan aku memilih mencintai bidangku yang baru ini. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik, bahkan aku sangat menargetkan diriku untuk menjadi mahasiswa berprestasi baik di tingkat fakultas, universitas, maupun secara nasional.
Jangan khawatir jika mungkin diantara kalian ynag menbaca buku ini merasakan hal ynag sama. Merasa salah pilih jurusan, dijurusan apapun kalian yakinlah kalau kita bisa hidup dengan bidang ynag kita ambil itu. Aku teringat kata-kata dosenku namanya Bu Citra, beliau berkata “ jika kalian merasa tersesat dengan jurusan yang kalian ambil saat ini, yakinlah jika kalian tersesat dijalan ynag benar”. Menurutku itu adalah kata-kata pembangkit semangat. Bukankah Allah juga selalu mengatakan dalam Al-qur’an “Aku mengetahui apa-apa ynag tidak kamu ketahui”.  Dengan berlandaskan itu semua wajiblah bagi kita untuk tekun dengan sesuatu yang memeng sudah diberikan oleh Alloh kepada kita. Ingat pula dengan pepatah jawa yang berbunyi “witing tresno jalaran soko kulino” yah rasanya kalimat itu sangat bijak. Karena jika kita sudah menjalaninya setiap hari maka rasa cinta pun akan muncul dengan sendirinya. 
Masuk di dunia perikanan bukanlah suatu hal yang harus diangggap sebagai mimpi buruk, karena jika kita lihat di Indonesia saja sekitar 70% persennya adalah laut. Mungkin masih banyak orang-orang di luar sana yang meganggap fakultas perikanan adalah sesuatu yang tidak penting, nah hal-hal seperti inilah yang seharusnya membuat kita semakin semangat untuk menjadi mahasiswa yang bisa mangangkat nama fakultasnya khususnya fpik, dan umumnya semua fakultas yang kalian berada dibawah naungannya saai ini.  Jika kita sendiri saja merasa malu dengan fakultas kita, bagaimana kita bisa membawa nama fakultas kita menjadi lebih baik.
Hidup jauh dari orang tua telah membuatku semakin berpikir kritis dan dewasa. Teringat dengan sebuah buku yang pernah kubaca di dalamnya terdapat kutipan dari seorang dosen di film 3 idiot “….”. terkadang sering kali kita menganggap bahwa hasil adalah segalanya dan mengabaikan segala proses yang ada. Seperti sebagian temanku, kebetulan di kampusku ada rangkaian acara krima setiap minggunya, dan itu akan berlangsung selama 1 semester. Mereka beranggapan bahwa hal itu tidak penting, toh kakak tingkat pun mendapatkan sertifikat walaupun tidak mengikuti acara tersebut. Aku sangat menyayangkan hal tersebut, Karena sebenarnya proses saat mengikuti krima itulah saat-saat yang paling berkesan. Saat dimana kita benar-benar menjadi mahasiswa baru yang dibimbing oleh kakak-kakak tingkatnya. Saat dimana kita bisa mengetahui hal-hal yang lebih dari kampus kita. Saat-saat dimana kita bisa mendapatkan pelajaran yang tidak berhubungan dengan mata kuliah namun sangat bermanfaat dan berkontribusi besar bagi kehidupan kita dikampus selam menempuh pendidikan.
Mungkin waktu yang sangat pagi yang ditentukan oleh panitia yang mebuat sebgaian maba malas untuk mengahdiri acara krima. Namun jika kita melihat manfaatnya ternyat itu semua sangant baik, bukan hanya bagi karakter kita namun juga bagi kesehatan.
Pertama, bangun dipagi hari membuat kita bisa menghirup udara segar yang masih bersih dari polusi. Kedua, kita bisa berolahraga di pagi hari dan hal itu akan membuat kita semakin bugar. Ketiga, kita menjadi lebih disiplin kerena dibiasakan untuk hadir tepat waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....