Langsung ke konten utama

aku



Aku tidak terlahir dari keluarga ynag fanatik, aku terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Aku yakin Allah telah merencanakan yang terbaik. Jika saja aku terlahir dalam keluarga yang fanatik mungkin aku takan bisa memngambil pelajaran dari setiap proses yang kujalani. Mugkin pula aku takan bertemu dengan orang-orang yang sangat luar biasa diperjalan hidupku ini.
Disini, dikampus kumulai terjun dalam dunia dakwah. Ku bergabung dalam organisasi Rohani Islam. Kurasakan hidupku dimulai dari nol. Semua harus diubah, semua ynag salah harus diperbaiki. Semua yang terlupakan harus diingat kembali. Semua yang pernah diabaikan harus diperhatikan kembali.
aku yang tergabung dalam dunia dakwah memang belum tentu orang yang akhlaknya baik, namun aku hanya ingin berusaha menjadi baik dengan lingkungan yang mendukung.
Pernah ketika shalat aku menjadi makmum, aku mengetahui hal baru bahwa ternyata sesama wanita tak boleh ada jarak, kaki harus dirapatkan antara makmum dan imam. Pernah juga aku menjadi makmum dan ternyata jika semuanya wanita maka tak harus imam memimpin didepan namun tetap satu baris dengan makmum namun posisi imam disebelah kiri atau menyesuaikan. Pernah aku menjadi makmum ketika dibacakan surat al-fatihah ternyata makharijul yang baik adalah seperti itu. Aku belajar dari sekelilingku.
Statusku sebagai mahasiswa perikanan tak mau kujadikan halangan. Berdakwah dalam mayoritas masyarakatnya apatis memang tak mudah. Dan aku tahu sejak dahulu dakwah itu memang sulit. Bahkan jika kita meningat sejarah dakwah Rasulullah yang subhanAllah sangat berat. Sekarang ini kita hidup di Negara yang membebaskan memeluk agama, seharusnya kita bisa memaksimalkan diri untuk terus taat kepada Allah.
Hal yang mungkin tak asing bagiku adalah kajian, namun baru kali ini aku rutin mengikuti kajian. Mengkaji berbagai bahasan yang tentunya dapat menambah pengetahuan dan kualitas pemahaman terhadap agamaku, agama kita agama satu satunya yang diRidhai oleh Allah SWT yakni dienul Islam.
Halaqoh juga tak asing bagiku, karena dulu saat SMA aku pernah mengikutinya. Terbesit sesal dalam benakku karena dahulu begitu bodohnya aku yang tak mau mengahadiri Halaqoh. Semoga Allah mengampuniku dan mengampuni dosa kita semua.
Kuperbaiki niatku kuliah, tak kusadari ternyata aku kuliah karena untuk mendapat pekerjaan yang baik. Mulai saat itu kutanamkan dalam hatiku bahwa aku kuliah karena Allah. Sebagai kewajibanku untuk selalu menuntut ilmu, karena jika aku berniat kuliah hanya karena sebuah pekerjaan lantas ketika aku tak mendapatkannya pasti aku akan kecewa. Namun jika dinatkan untuk mendapat Ridha Allah tentu hati ini akan menerima apapun yang sudah menjadi qada dan qadar Allah.
Hari demi hari kulalui berdakwah dengan ibda binnafsih, dimulai dari dirir sendiri. Karen hal itu yang baru bisa kulakukan dimasa-masa awalku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....