Tak mengerti dengan percakapn orang-orang disekitarku, hal
itu membuatku terpaksa harus banyak terdiam dan mendengarkan saja. Aku semakin
sadar betapa kayanya Indonesia dengan kekayaan budaya yang dilikinya. Aku juga
bersyukur masih ada bahsa Indonesia yang menyatukan kita semua, tak tahu bagaimana nasibku jika tak ada
bahasa Indonesia bila berada dilingkungan yang berbahasa daerahh.
Hari ini kurasa pertku terlalun kenyang karena terlalu
banyak makanan yang masuk, sejak pagi hingga saat aku menulis cerita ini. Pagi
tadi aku pergi ke pasar bersama ayu setelah sebelumnya sempat berkeliling
kampong dengan sepeda motor yang
kukendarai. Kami membeli klepon dan juga
mangga, setelah selesai berbelanja kami pun kembali kerumah. Sesmpainya dirumah
aku dan ayu memakan jajanan ynag kami
beli di pasar. Klepon dan bubur ketan hitam sudah habis kusantap lalu aku dan
ayu disuruh sarapan. Waduh benar benar berkah pagi ini walaupun sebenarnya ku
sudah kenyang namun mau gimana lagi, tradisi disini ketika ditawari makan maka
jangan menolak.
Satu centong nasi beserta
lauknya telah habis kusantap, lalu akupun bergegas ke kamar mandi karena
sejak kemarin berangkat aku belum mandi. Tak sempat aku mandi karena sejak pagi
sudah harus berangkat ke kampus dan mengerjakan tes toeic di inbis selanjutnya
berkutat dengan laporan bioper. Airnya sangat dingin kalau dibekasi mungkin ini
layaknya air yang simpan di lemari pendingin. Cukup lama aku merenungi betapa
dinginnya air, hingga akhirnya aku selesai dan berwudhlu karena hendak shalat
dhuha. Usai shalat dhuha aku dan ayu
membuat bumbu rujak untuk kami santap bersama mangga yang telah kami beli
dipasar tadi. Mangganya cukup asam, oleh karena itu aku dan ayu memutuskan
unutuk memakannya bersama bumbu rujak.
Lagi-lagi ketidakbiasaan kutemukan, disini bumbu rujaknya
menggunakan kacang goreng dan hanya ditambah sedikit gula merah. Sangat berbeda
dengan bumbu rujak yang biasa kubuat, rasanya lumayan pedas walaupun hanya
memakai 4 cabai rawit. Walaupun rasanya enak namun terasa aneh karena seperti
memakan rujak dengan bumbu pecal. Rujak telah habis kami santap lalu kami pergi
ke kamar karena hendak mengirim e-mail tugas kuliah. Nammun sangat disayangkan
tak ada jaringan, seklainya ada jaringan namun koneksi internet tidak berjalan.
Aku dan ayu akhirnya memutuskan unutk pergi ke warnet.
Akhirnya setelah bersiap-siap kami pun berangkat, seperti
tadi ke pasar aku lagi yang mnegndarai sepeda motrnya karena memang ayu tidak
bisa mengendarai sepeda motor. Pertualangan dimulai, ternyata kami akan melalui
jalan yang sama saat kami hendak menuju rumah semalam. And you know what?
Ayu bilang kalau kita akan menuju gunung diseberang kami.
Aku kaget karena ternyta untuk menuju wanrt saja kita harus menyebrangi gunung
dari gunung tempat rumah ayu berada. Ini adalah benar benar petualangan yang
baru kurasakan, bagaimana tidak baru kali ini aku mngendarai sepeda motor di
gunung, dan harus menyebrangi gunung pula dengan jalan yang berkelok-kelok.
Jarak warnetnya cukup jauh, namun aku tak tahu berapa lama waktu kami unutk
tiba disana.sayang sungguh malang nasib kami karena ternyata warnetnya tutup.
Akhirnya kami menuju warnet yang berada di bermi, aku terus
memacu laju sepeda motor karena memang jalannya menanjak. Jarak dari warnet
yang pertama menuju bermi pun cukup jauh, namun memang bukan nasib kami untuk
mengirim tugas hari ini, tenyata warnet yang berada di bermi pun tutup karena
listriknya padam. Rasa kecewa tak bisa dihindari, namun kekeceewaan itu
terbayarkan saat kami ke pesanggrahan pemandangan ynag terhampar luas sangat
indah. Pohon pinus yang menjulang tinggi, suasananya hampir sama dengan tempat
pemebrhentianku saat menuju perkebunan the di bandung.
Setelah puas berphoto-photo kami pun pulang, dengan hati
yang senang gembira. Diperjalanan pulang
kami sempatkan mampir ke sebuah mini market untuk membeli camilan, namun kami
tak membeli banyak camilan, karena memang sebenarnya ayu mempunyai toko dan
disana juga bnyak makanan untuk camilan. Akhirnya belanja pun selelsai aku dan
ayu memutuskan untuk pulang, sebelum pulang kami juga mnyempatakan mampir ke
toko budenya yu untuk membeli gantungan kuci motor. Aku lelah seklai, akhirnya
kami benar-benar akkan pulang ke rumah ayu.
Kami pun sampai,sesampainya di rumah aku langsung shalat
dzhuur, setelah shlat dzuhur aku dan ayu tidur siang karena memnag kami sangat
lelah dan ngantuk. Sekitar jam 3 kami banging dari tidur siang kami yang cukup
nyenyak. Ku susul ayu yang sudah berada di depanb teras rumah, lalu ayu
mengajakku makan sore, sebenarnya itu jatah makan siang yang kami santap di sore hari. Kami pun makan, setelah makan
bakso yang dipesan ayu akhirnya datnag, lalu kami pun memakan bakso tersebut.
Setelah selesai makan dan makan bakso aku pun bergegas shlat ashar. Setelah
shalat ashar aku di ajak ayu untuk
menjenguk temannya ynag baru saja mempunyai anak, setelah bersiap-siap
sebebntra kami pun berangkat.
Tetnyata rumanhyan tak jauh yakni hanya disamping rumah
mbahna ayu. Sebelum masuk ke kamar bayi, ada hal yang harus dilakukan dan aku
baru pertama kali melakukannya. Yaitu kami harus menyodorkan kaki kami ke
tungku api. Steelah ritual itu selesai kami pun msasuk ke kamar, bayinya sangat
lucu, bayiny adalah perempuan. Kami dihidangakn makanan ringan, ada kue,
kerupuk dll. Aku juga dihidangkan kopi, namun karen aku tak suka kopi jadi
minumnaku diganti menjadi the manis hangat. Aku pu memakan makananan yang ada
di hadapanku,setelah puas memakan makanan ringan aku piker kami akan langsung
pulang tapi ternyata, jeng… jeng..jeng..
Nasi beserta lauk-pauknya sudah terihdang dimeja unutk kami.
Betapa kalian bisa membayangkan, baru saja akku makan sore dan ditambah bakso
lalu sekarang harus makan lagi. Ya beginilah tradisi adat istiadata di sini,
seseorang yang bertamu harus makan dirumah yang dikunjunginya itu. Tapi hal ini
memamng kuakui jauh berbeda dengan dikampung halamanku, orang-orang yang ramah
dan dengan segala kebudayaaan khas yang ada.
Seusai makan kami pun pulang, waktu sudah semakin sore dan
mendekati adzan maghrib. Adzan berkumandang aku pun bergegas untuk wudhlu lalu
shalat maghrib. Selesai shlat satu paket kue dibawa ayu yang diberikan oleh
ibunya, itu artinya aku harus makan lagi. Setelah memakan kue tersebut ayu
datang dengan mebawa talas bakar, haduh rasanya mau melambaikan tangan ke
kamera karena aku sudah tidak kuat lagi. Aku pun memutuskan unutk shalat isya
terlebih dahulu sebelum akhirnya menullis cerita ini. Setelah shalat isya aku
mencicipi sedikit talas bakar dan juga singkong goreng yang di bawa ayu tadi.
Tanpa kusadari ternyata aku tertidur hingga sekitar jam Sembilan aku terbangun
dan mematikan laptop.
Komentar
Posting Komentar