Langsung ke konten utama

alun-alun batu



Kerlap-kerlip lampu kota terlihat jelas dari ketinggian. Ya aku dan ba lusi sedang berada dipuncak bianglala. Hmm, subhanAllah tak ada yang bisa menandingi ciptaan-Mu ya Rabb..
Setelah shalat maghrib kami bergegas menuju alun-alun batu. Kami berkumpul di depan Unisma terlebih dahulu agar bisa berangkat bersama-sama. Aku pergi kesana bersama mba lusi,mba ma’, mba affin,mba ratna, mba ifah, mba ulul, mba lini, mba ifat, dan mba andini. Untuk pertama kalinya aku mengendarai sepeda motor ke batu, dan pertama kalinya pula motorku mendaki gunung.
Setibanya di alun-alun kami duduk di taman, dan sempat berfoto-foto. Setelah puas berfoto-foto perut kami pun terasa keroncongan hingga kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Aku,mba ma’, mba ifah,mba andini,mba ifat,mba lini, sedangkan mba ulul memakan nasi lalapan dan mba ratna,mba affin, dan mba lusi makan nasi soto. Yummy bakso pedas pun ku santap hingga habis.
Setelah perut terisi full aku dan  mba lusi memutuskan unutuk kembali ke taman alun-alaun hingga ahkhirnya kami berdua naik bianglala dengan tiket masuk seharga Rp. 3000 saja. Ya, namun hanya 1 kali putaran saja dan dengan kecepatan yang rendah. Semuanya terlihat begitu indah dari ketinggian. Cahaya lampu dan lalu lalang kendaraan bermotor membuat Susana semakin terlihat ramai. Hanya satu putaran jatah yang kami dapat untuk menumpang bianglala. Akhirnya aku dan mba lusi pun bergegas keluar dari arena bianglala, lalu kami menghampiri yang lainnya di air mancur.
Rupanya mba-mba yang tidak naik bianglala membeli jaguung serut, namun sayang rasanya pedas semua. Tak lama usai menyantap jagung serut kami pun memutuskan untuk pulang, karena hari semakin malam dan tak pantas rasanya jika kami pulang terlalu larut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....