Langsung ke konten utama

Postingan

JANGAN RISAU WAHAI PEJUANG KEBAIKAN

Waktumu yang kau gunakan untuk memikirkan orang lain, hingga terkadang kau lupa memikirkan dirimu sendiri Hartamu yang kau gunakan untuk membiayai segala macam agenda kebaikan, hingga kau lupa memenuhi keinginanmu Rasamu yang kau gunakan untuk mengasihi sesamamu, hingga terkadang kau lupa memerhatikan rasamu sendiri Lantas, untuk apa kau risau akan dirimu saat ini dan esok? bukankah kamu menyambung silaturahim bahkan saat seseorang memandangmu sebelah mata? bukankah kamu menebar senyum? bahkan saat orang lain sedang berteriak marah padamu? bukankah kamu rela mengganjal perutmu dengan air putih saja? untuk membuat saudaramu mampu mengganjal perutnya dengan sesuap nasi atau sepotong roti? Kamu adalah pejuang kebaikan, maka Allah tak akan menyiakan apa yang kau lakukan.. kamu yang menahan diri dengan berpuasa, maka Allah yang akan menguatkanmu.. kamu yang memberikan segenap perhatianmu untuk saudaramu, maka bagaimana mungkin Allah akan membuatmu duduk termangu tanpa teman disisim...

TERHANYUT DALAM KESEDIHAN

Seperti layaknya bahagia, sedihpun kita yang tentukan. Kelelahan hati akan rasa, terkadang membuat langkah melambat. Melambat bukan untuk berhenti, tapi untuk mengambil jeda bahwa perjuangan yang panjang membutuhkan kaki yang lebih kuat. Kaki yang masih ringkih, akan sulit berjalan terus-menerus, maka memperlambat langkah untuk memberi kesepatan pada kaki untuk menguat kurasa tak mengapa. Kesedihan kita pula lah yang menentukan, melihat realita sebagai beban atau sebagai kesemptan berlomba dalam kebaikan. Mungkin, semua tak terlihat sama apalagi jika tempatmu yang dulu memberikan banyak kenangan dan tempat barumu seperti intoleran terhadap kenanganmu. Kini, kita terhanyut dalam kesedihan. Ketidakmapuan menerima perpisahan dan perbedaan yang signifikan, membuat kaki kian berat melangkah. Membuat diri tak ingin lagi hadir, dan memilih ladang kebaikan yang lain. Mungkin puncakku untuk hal itu memang sudah kuraih di tempat yang lalu, dan kini kurasa kesedihanku terhanyut karena aku mengi...

MERAPIHKAN FINANSIAL

Setelah beberapa waktu lamanya berwacana merapihkan catatan keuangan pribadi, akhirnya hari ini Saya take action merapihkannya. Sebenarnya sejak kuliah di semester awal dulu Saya mulai mencatat cashflow keuangan pribadi Saya di buku khusus namun tidak istiqomah dan berhenti di tengah jalan, hingga akhirnya saat Saya mulai mengajar di SMPIT Taskia saya mulai mencatat kembali cashflow keuangan pribadi saya mannually di buku Agenda pribadi . Saya selalu mencatat mulai dari Rancangan Anggaran Biaya untuk satu bulan dan arus keluar-masuk keuangannya, dari situ saya bisa mengevaluasi apakah uang yang dikeluarkan sesuai dengan yang  sudah dianggarkan atau tidak. Hari in, Saya iseng-iseng mencari aplikasi untuk di handphone pintar dan ketemulah si imut “catatan keuangan”, sebenarnya masih   banyak yang lain, namun terlalu luas dan saya merasa belum butuh itu. Setelah mendownload aplikasi catatan keuangan itu, Saya mulai menginput arus keuangan Saya dibulan Agustus hingga hari in...

BAHAGIA KITA YANG TENTUKAN

Bahagia selalu mempunyai waktunya sendiri, bagi kita yang terlalu tinggi dalam berekspektasi bisa jadi sedikit kebahagiaan yang kita dapatkan. Berpikiran bahwa Aku akan bahagia ketika mendapatkan pencapaian A, tapi nyatanya pencapaian itu tak kunjung terselesaikan, maka kebahagiaan menjadi tertunda. Padahal, bukan hal sulit untuk menjadikan setiap prosesnya adalah sebuah kebahagiaan. Misalnya untuk lulus sarjana maka kita harus menyelesaikan rangkaian pengerjaan skripsi, bagi kebanyakan kita (mungkin) standar bahagia kita adalah ketika kita sudah melaksanakan Seminar Hasil, lalu Ujian Komprehensif, Yudisium dan kemudian berada di titik puncak yaitu wisuda. Padahal dalam perjalanan tugas akhir tersebut, begitu banyak momen yang bisa menjadi sumber kebahagiaan kita. Bisa lebih sering berinteraksi dengan dosen, bukankah mendapatkan transfer ilmu secara khusus empat mata saat bimbingan adalah sebuah hal yang sangat bermanfaat? Maka, bagi wajah yang mudah tersenyum ini adalah momen keba...

KETIKA TIBA HARINYA

Awalnya aku dan kamu meragu, bahkan hingga hari ini tiba kita masih sangsi apa benar aku dan kamu akan menjadi kita? Apa benar aku adalah penyempurnamu dan kamu adalah penyempurnaku? Bermodal kemantapan hati atas istikhatah pada sang pemilik hati, akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan langkah.. Langkah yang akan menepis keraguan, walau hingga hari ini keraguan masih menggelayuti, bahkan di detik terakhir ketika prosesi penyerahan dan penerimaan tanggungjawab dari ayahku kepadamu yang sakral itu berlangsung.. Namun itu adalan prinsip yang kita jaga, bahwa tak ada hak dan kewajiban untuk mencinta hingga para saksi menyatakan sah pertemuan kita.. Hingga Arsy Allah bergetar atas Ijab-Qabul yang baru saja terjadi.. Sejarah emas dalam kehidupanmu dan kehidupanku Setelah sekian lama mempersiapkan pertemuan, hari ini pertemuan itu telah disaksikan oleh penduduk langit dan bumi.. Dengan kicauan burung dipagi hari, menambah syahdu pertemuan kita ini.. Aku masih termenung, menun...

MEMPERSIAPKAN PERTEMUAN

Selayaknya perjalanan yang harus disiapkan segala sesuatunya, maka pertemuan kita pun harus dengan persiapan yang cukup dan bukan ala kadarnya. Karena pertemuan kita akan berlanjut pada perjalanan yang tak berkesudahan. Aku disini dengan mimpi-mimpi yang kugantungkan pada bintang-bintang dilangit. Dan dirimu disana juga dengan mimpi yang begitu hebat dan rupawannya. Maka mari persiapkan diri, saat kita bertemu nanti pastikan bahwa kita telah siap untuk menyatukan mimpi-mimpi kita. Maka tidak harus ada diri yang merintih lantaran harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Coba kita lihat-lihat lagi kertas-kertas lusuh yang penuh dengan coretan mimpi kita itu, beberapa mimpi yang kita tuliskan mungkin ada yang sama dan juga ada yang berbeda sudah tentu. Maka mari kita satukan ia menjadi mimpi bersama, bukan tentang mimpimu dan bukan tentang mimpiku ataupun mimpi kita masing masing, ini adalah tentang mimpi kita berdua. Kesendirianmu dan kesendirianku saat ini, jadikanlah sarana meraih keba...

JIKA TAK KUAT SENDIRI MAKA JANGAN MENCOBA UNTUK LARI

Selayaknya Musa sang Nabi Allah yang ditemani Harun Saudaranya.. Begitu beratnya perjuangan, tak membuatnya menyerah dan memilih pergi.. Ia hanya meminta kepada Rabbnya untuk diberikan penguat, dikirimkan seorang teman yang membantunya dalam memperjuangkan kebaikan tegak di muka bumi ini.. Maka memilih menyerah ketika lelah, bukanlah keputusan yang tepat. Mengapa tidak mencari teman seperjuangan? Mungkin kita memang kuat, tapi sekuat apa kita jika sendiri? Memilih pergi tak akan membuat kita berprestasi, justru ketertautan hati akan mati. Bukankah dengan bersaudara maka semua akan lebih indah? Manusia memang setidak sempurna itu, karena yang Maha sempurna hanyalah Rabb pemilik langit dan bumi beserta seluruh isinya. Namun apa salahnya mempersembahkan yang terbaik yang kita mampu. Kembalilah pada lingkaran ini, wahai hati yang mulai kerontang, kamu hanya butuh melihat senyum saudaramu, bercengkrama dengan mereka dan saling menguatkan satu sama lain. Jangan memilih untuk berlar...