Langsung ke konten utama

BAHAGIA KITA YANG TENTUKAN



Bahagia selalu mempunyai waktunya sendiri, bagi kita yang terlalu tinggi dalam berekspektasi bisa jadi sedikit kebahagiaan yang kita dapatkan. Berpikiran bahwa Aku akan bahagia ketika mendapatkan pencapaian A, tapi nyatanya pencapaian itu tak kunjung terselesaikan, maka kebahagiaan menjadi tertunda. Padahal, bukan hal sulit untuk menjadikan setiap prosesnya adalah sebuah kebahagiaan. Misalnya untuk lulus sarjana maka kita harus menyelesaikan rangkaian pengerjaan skripsi, bagi kebanyakan kita (mungkin) standar bahagia kita adalah ketika kita sudah melaksanakan Seminar Hasil, lalu Ujian Komprehensif, Yudisium dan kemudian berada di titik puncak yaitu wisuda. Padahal dalam perjalanan tugas akhir tersebut, begitu banyak momen yang bisa menjadi sumber kebahagiaan kita. Bisa lebih sering berinteraksi dengan dosen, bukankah mendapatkan transfer ilmu secara khusus empat mata saat bimbingan adalah sebuah hal yang sangat bermanfaat? Maka, bagi wajah yang mudah tersenyum ini adalah momen kebahagiaan.
Membaca lebih banyak referensi dari biasaya, mungkin kita adalah orang yang mencandu buku tapi jarang atau sedikit membaca genre buku bidang studi atau sama sekali tipe yang tidak menyukai berkutat dengan buku-buku. Pengerjaan tugas akhir, memberikan kita kesempatan untuk lebih banyak membaca, mengajarkan kita bahwa tidak selamanya kita membaca genre yang menjadi kesukaan saja. Bagi para pecandu buku, bukankah ini adalah sebuah kenikmatan hakiki? Bermesaraan dengan buku dan mendarasnya satu demi satu, maka munculkanlah kebahagiaan itu.
Bahkan jika pun begitu amat sulit bagi kita menyelesaikannya, maka waktunya untuk mengingat wajah-wajah terkasih yang akan sangat bahagia melihat kita mengenakan toga saat wisuda. Bukankah untuk mengenakan toga, kita harus menyelesaikan syaratnya terlebih dahulu. Maka ini saatnya kita melampaui keterbatasan yang ada dalam diri dan menentukan bahwa setiap detik yang kita lalui adalah dengan kebahagiaan. Mari bersama kita hadirkan sejuta alasan untuk bahagia setiap harinya!

02 November 2018
Di tulis di hari bahagia kedua sahabat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....