Seperti layaknya bahagia, sedihpun kita yang tentukan. Kelelahan hati akan rasa, terkadang membuat langkah melambat. Melambat bukan untuk berhenti, tapi untuk mengambil jeda bahwa perjuangan yang panjang membutuhkan kaki yang lebih kuat. Kaki yang masih ringkih, akan sulit berjalan terus-menerus, maka memperlambat langkah untuk memberi kesepatan pada kaki untuk menguat kurasa tak mengapa.
Kesedihan kita pula lah yang menentukan, melihat realita sebagai beban atau sebagai kesemptan berlomba dalam kebaikan. Mungkin, semua tak terlihat sama apalagi jika tempatmu yang dulu memberikan banyak kenangan dan tempat barumu seperti intoleran terhadap kenanganmu.
Kini, kita terhanyut dalam kesedihan. Ketidakmapuan menerima perpisahan dan perbedaan yang signifikan, membuat kaki kian berat melangkah. Membuat diri tak ingin lagi hadir, dan memilih ladang kebaikan yang lain. Mungkin puncakku untuk hal itu memang sudah kuraih di tempat yang lalu, dan kini kurasa kesedihanku terhanyut karena aku menginginkan puncak yang baru dari gunung kehidupan yang juga baru. Tapi jika keinginan tak selaras dengan realitas kehidupan, untuk apa masih terhanyut dalam kesedihan.
Berjalanlah lagi, susuri jalan ini semampu kita. Jika memang kita membutuhkan jalan yang lain, kurasa tak mengapa. Katakan saja apa yang dirasa agar hati kita tak mati rasa.
Komentar
Posting Komentar