Langsung ke konten utama

JURNAL GURU: Membersamai Anak Mengelola Rasa

Pagi itu, awalnya semua terlihat baik-baik saja. Anak-anak terlihat riang seperti sebelumnya. Mereka belajar, bermain seperti hari-hari biasanya. Dasar perempuan memang pandai sekali menutupi masalah, seolah benar kondisi kelas memang sedang baik-baik saja.

Sesekali saya melihat satu dua anak terlihat murung, tapi besok kembali ceria, ya begitu saja setiap harinya seperti sebelum-sebelumnya. Tapi pagi itu, sebuah pesan what's app masuk dari Bundanya Bunga. Menyampaikan permasalahan yang sama saat konsultasi akhir semester ganjil lalu. Kupikir ini biasa saja, toh anak-anak memang terlihat baik di sekolah. Tapi kali ini sepertinya membuat sang Ibu lebih emosional karena anaknya kerap murung setiap pulang sekolah, bahkan sering menangis. Dan kalau kondisi tidak membaik, beliau akan memboyong anaknya pindah ke sekolah lain. Cukup panjang pesannya, tapi begitu kurang lebih isi pesannya.

Saya terdiam sejenak, menenangkan diri. Sebab lari dari masalah dengan berpindah sekolah tidak akan menyelesaikan masalah. Ibarat kita berada dilingkungan yang ada sumber penyakitnya, dan kita mulai terserang. Yang dilakukan bukan hanya pergi menghindar, tapi membangun imunitas tubuh agar tidak mudah terserang penyakit di manapun kita berada. Dalam hal ini, bagi saya solusi yang tepat adalah menguatkan anak, membangun imunitasnya terhadap hal yang membuatnya tidak nyaman, bukan pergi dan menghindar, karena di manapun anak bersekolah, insyaAllah akan menemukan kondisi yang sama. Hal yang sama pun pernah terjadi di awal-awal saya mengajar, namun mawar yang mengalaminya. Mawar mengalami persis seperti bunga, sudah berkeinginan untuk pindah sekolah, bahkan jarang masuk sekolah.

Saya mulai merancang strategi. Satu persatu anak saya ajak berbicara berdua. Mulai dari Lily sang ketua kelas , saya mengajaknya bertukar pikiran, membahas masalah dan mencari jalan keluarnya. Lily pun mulai berpikir, terlihat beberapa hari setelahnya terlihat ada rapat-rapat kecil di kelas. Lalu kedua, saya panggil Mawar, seorang anak yang pernah mengalami kasus yang sama, bertukar pikiran dan mencari jalan keluar. Ketiga, saya panggil Rose anak yang dikeluhkan orangtua tersebut membuat anaknya tidak nyaman. Saya tidak membicarakan apapun terkait keluhan itu, saya hanya memintanya menuliskan seluruh kebaikan teman-teman di kelas. Dan terakhir saya memanggil Bunga yang sedang tidak nyaman di kelas untuk berbicara dari hati kehati.

Dimulai dari menanya kabarnya, hingga perlahan masuk kepada poin inti. Bunga mulai menitikan air matanya, ia terdiam tak mampu berkata-kata. Mulailah ia berbicara mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Saya meyakinkan dalam hal ini, Bunga harus lebih kuat, coba kenali rasa yang dalam diri, sedih ya nangis gak apa-apa, kalau bahagia ya senyum, jangan terbalik, sedih tapi malah tersenyum menyembunyikan luka. Kecewa, marah itu hal biasa, tapi Bunga harus bisa menempatkan sesuai dengan haknya. Jangan merasa bahwa semua orang sedang membenci, terus saja berusaha berbuat baik dan berteman dengan siapapun, insyaAllah semua akan bisa Bunga hadapi dengan baik, Bunga akan bisa lulus dari ujian ini..

Sehari berlalu, kondisi kelas mulai berangsur kembali, atas izin Allah anak-anak sudah mulai berbaur seperti sedia kala, sudah ceria dan kondusif seperti sedia semula ..

Terkadang memang telinga lebih dibutuhkan dari hanya sekedar nasihat-nasihat bagi mereka yang tengah mengalami insecure terhadapap dirinya sendiri, terhadap lingkunganya, karena di lain sisi mereka juga sudah mengerti dengan langkah apa mereka bisa menyelesaikan pergolakan batinnya, hanya saja rasa takut lebih dominan mengendalikan dirinya. Tugas kita sebagai guru dan orangtua adalah membersamainya dalam mengenali dan mengelola rasa yang ada pada dirinya. Latih anak kita untuk menjadi kuat dan tahan banting dengan segala hal yang menghampiri hidupnya, agar kelak tanpa kita mereka masih bisa survive.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....