Langsung ke konten utama

Sebuah Nasihat dari Mang Antang

Pagi tadi, saat membakar kertas-kertas yang tak lagi terpakai.  Mang Antang yang biasa mengantar air mineral Ke rumah, warga RT sebelah, teman Ayah sekaligus saudara jauh-jauh datang,  hendak mengambil uang tagihan air.

Bertanya ihwal kuliahku di tanah rantau, "Alhamdulillah sudah selesai mang,  4 tahun,  sekarang sudah ngajar", begitu kujawab pertanyaannya.

Lalu ibu keluar dari rumah. Sembari menerima uang dari ibu, Mang Antang sambil terus memberi  nasihat, sesekali memuji ibu yang katanya berhasil mendidikku hidup prihatin di tanah rantau.
"Saya jadi inget ucapan si puloh (aka. Ustadz Saepuloh) dulu suka bangat ama sekolah,  emaknya udah nyuruh -nyuruh kerja, tetep bae sekolah ampe tinggi.  Eh malah bilang ilmu penting untuk disebarin biar banyak manfaaatnya, nanti dunia mah ngikutin, Eh bener bae ya sekarang mah kerjanya enak, PNS, ngajar di mana-mana".
Aku terus mendengarkan ceritanya sambil sesekali tersenyum mengiyakan, begitupun dengan Ibu.

"yang sayang sama keluarga, nanti kalau
mau nikah, liat bener-bener calonnya lelakinya, jangan ama yang asal, cari laki-laki yang baik,  yang mengerti keluarga eneng,  yang sayang sama keluarga eneng juga. Buat ayah ibu seneng,  adek-adek sekolahnya enak." Sambung Mang Antang. "iya mang do'ain dapet yang baik,  shalih". Begitu jawabku.

"iya,  saya mah seneng kalau pada ada yang merantau trus pulang berhasil, ilmunya diamalin, bermanfaat. Nanti kalo yang tua-tua udah gaaada, ada yang nerusin. " aku kembali tersenyum sambil mendengarkan nasihat mang antang.

Allah yang mengatur pertemuan ini, bukan karena kebetulan Mang Antang datang dengan berbagai nasihatnya. Semoga Allah memberikan keberkahan dan keselamatan baginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....