Pagi hari di hari kedua di tahun 2020 air sudah mulai surut, jalan raya sudah terlihat kembali, dan pelataran rumah sudah mulai terlihat kembali karena semalam tertutup air. Terlihat di kebun seberang rumah, Nde Sarih dan anak-anaknya memanen caesim (sesim) yang kemarin terendam banjir.
SubhanaAllah begini rasanya kebanjiran, benar-benar banyak pengalaman yang didapat. Keluarga menjadi lebih erat, seperti ada family time gitu. Cing Aan, dan keluarga mamang Mbus nginep di rumah sejak kemarin sore. Kemarin, sampai pukul 24.00 saya terjaga dan air masih terus bertambah, lalu saya sudah terlelap setelahnya.
Sejak kemarin makan seadanya, karena tukang -tukang penjual makanan diserbu masyarakat yang juga sama tak bisa memasak seperti biasanya lantaran listrik padam dan mungkin gas habis.
Siang hari mang novick datang, membawakan makan siang dan sembako. Air mulai surut, setelah makan kami bergegas ke rumah engkong untuk membersihkan rumah dari lumpur sisa-sisa banjir. Cukup melelahkan, tapi Alhamdulillah karena dikerjakan bersama jadi bisa lebih ringan.
InsyaAllah banjir ini menjadi hal yang akan membangkitkan keimanan, menambahkan keyakinan bahwa Allah senantiasa membersamai. Entah ini anugerah atau musibah, tugas kita hanya untuk terus berprasangka baik kepada Allah.
Kemarin semua mengambil satu hikmah, air datang dengan cepat tanpa diduga, lalu pergi surut juga tanpa tahu kemana perginya. Begitu kalau Allah mau datangkan nikmat atau ujian datang dan perginya kadang kita gatau, yang tersadar oleh kita bahwa Allah masih memberikan kita ketenangan untuk melaluinya. Selamat memanen berbagai hikmah.

Komentar
Posting Komentar