Langsung ke konten utama

MOMENTUM MERAPATKAN BARISAN

Benar kata para orang-orang berilmu, keadaan kita susah saat ini bukan karena sebab apa-apa. Kesusahan kita saat ini adalah konsekuensi dari sikap abai kita di masa yang lalu. Ketidakberhasilan kita dalam membangun desa, kota, provinsi, negara bahkan peradaban bukan karena tidak adanya orang-orang hebat, namun karena banyaknya orang hebat yang enggan bersatu membangun negeri dengan barisan yang tersusun rapih.

Paska lebaran ini, di bulan syawal yang mulia ini adalah momentum dalam menentukan jalan dan masa depan kekuasaan yang ada. Silaturahim ke rumah Cang Lurah beberapa hari lalu, memberikan saya pelajaran berharga yang mungkin tidak saya dapatkan di kesempatan lainnya. Di momentum Pemilu ini, setingkat pilkades saja aroma-aroma persaingan politik sudah sangat terlihat jelas. Terpampang baliho-baliho dari masing-masing calon kepala desa di desanya, hanya dua calon satu beliau dan satu lawannya. Persaingan ini bukan karena musuh-musuh yang merasa kecewa dengan kepemimpinan, namun mereka menjadi musuh justru yang dihatinya ada penyakit. Mereka yang menjadi musuh justru mereka yang mengakui bahwa banyak perbaikan yang sudah dilakukan di pemerintahan Desa namun mereka tidak menyukai kemajuan itu dan masih banyak kejulidan-kejulidan yang mereka miliki.
"Kita ini sedang melawan kebatilan, melawan orang-orang yang gak terima markas-markas tempat maboknya ditutup dan alasan lainnya. Kalau kita berhenti sama saja kita membiarkan kebatilan itu menang". Ini di tingkat Desa, ya Desa unsur terkecil dalam pembangunan negara.

Meningkat pada tingkat kota, provinsi dan negara tidak jauh beda, kebaikan dan kebatilan masih menjadi dua sisi yang saling tarik-menarik. Di tengah perseteruan saling memperjuangkan hal yang diyakini benarnya, maka keteraturan mengorganisir dari tiap kubu adalah penentu untuk saling menjadi pemenang. Jika kubu yang dianggap "kebatilan" lebih terorganisir dengan baik maka ia yang akan memenangkan, namun jika kubu yang dianggap "kebaikan" yang terorganisir engan baik maka ia yang akan menang.

Maka untukku yang membaca tulisan ini, berada di kubu manakah aku?
Berkontribusi atau acuh tak acuh?
memilih bersih menjadi golongan putih? atau mengambil resiko menjadi bagian dari salah satu kubu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....