Langsung ke konten utama

BAWAIN AJAH CALONNYA !

Malem takbiran gini, alhamdulillah gema takbir rame dimana-mana. Tapi biasanya buat para pemuda-pemudi yg still single sampe lebaran besok, pertanyaan "kapan nikah" adalah pertanyaan yg bakal menghampirinya setiap saat.
Gitu si ya emang hidup, selesai dari satu urusan ditanya urusan yg berikutnya. Misal ajah waktu masih kuliah, momen lebaran bakal jadi momentum buat nanya ke kita "kapan wisuda", dan ketika wisuda beres dan kita udah kerja atau masih dalam ikhtkar nyari kerja pertanyaan populer berikutnya adalah "kapan nikah". Tulisan ini sedikit ngelanjutin tulisan sebelumnya yg bertajuk "Mana Undangannya?".

Saya pribadi gatau si, sampe kapan manusia akan bertanya kepada manusia lainnya tentang pencapain-pencapaian yg menurutnya seseorang itu ya kudunya ngelampaui pencapaian itu, padahal ya belum tentu juga apa yang jadi pencapaian seseorang selalu sama antara satu dengan yang lainnya.

Coba deh naikin level diri kamu saat nanya ke seseorang yang belum nikah. Misal ajah nih ya, kayak caranya Rasul pas nanya ke salah satu sahabat yg namanya Julaibib r.a.
Beliau nanya kalo bahasa kitanya mah mungkin "julaibib kamu kapan nikah? atau udah umur segini, kamu kok blom nikah?". Tapi pertanyaan Rasul gak berenti sampai situ ajah, setalah Julaibib menjawab dengan keresahan-keresahannya, Rasul juga ngasih solusi berupa menawarkan salah satu anak sahabat yg lainnya istilah kata nyomblangin Julaibib sama anak sahabat yg lain. Nah, kan kongkret kalo gitu. Bukan cuma sekedar membuat hati orang risau dengan pertanyaan "kapan nikah" tapi ngasih solusi dengan nawarin "ini saya bawain calonnya, kamu mau ga?. Coba semuanya berpikirdan bertindak begini, niscaya status-status sosmed gak penuh sama tulisan "h-sekian ditanya "kapan nikah", seolah hal itu jadi momok bagi para pengemban status single. 😀

Jadi, kalo besok ada yg nanya "kapan nikah?" ya jawab ajah "nunggu dibawain calon sama yg nanya" .. nah biar sama-sama mikir bahwa ada hati yg harus dijaga dan terjaga kesuciannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....