Langsung ke konten utama

KAMU PECUNDANG JIKA MEYERAH KARENA LELAH

Ketika lelah menghampiri, mungkin seringnya lari dari masalah adalah hal yang sesaat menyenangkan. Lelah dalam dalam perjalanan memperbaiki tingkah dan laku diri adalah hal yang manusiawi, namun lari dan tidak berkemauan untuk menyelesaikannya tidak akan membuat kita menjadi pribadi yang baik dan terbaik.
Sering bukan kita membaca atau mendengar lantunan ayat suci Q.S Ali Imran ayat 110. Setidaknya, secara tidak sengaja atau terpaksa ayat tersebut pernah menjadi syarat untuk dihafal ketika harus mengikuti pelatihan tertentu.


Beberapa waktu saya mentadabburi ayat ini, bahwa dikatakan "kamu adalah umat terbaik yang diturunkan untuk manusia". Saya, kita adalah umat terbaik, maka apakah selama ini usaha yang dilakukan, ibadah yang dilakukan, pekerjaan yang dijalani, bakti kepada orang tua yang dilakukan, berkehidupan di masyarakat yang dilalui adalah dengan ikhtiar terbaik? dengan upaya terbaik sebagaimana gelar umat terbaik? fase pertama untuk selesai dengan masalah diri sendiri. Sehingga lari dari masalah tidak sedikitpun mencerminkan gelar umat terbaik yang dianugerahkan.

Mungkin dalam perjalanan, seolah banyak jalan-jalan yang terlihat lebih mulus, seolah lebih dekat, namun dalam usaha memperbaiki diri jalan-jalan tersebut adalah jalan-jalan yang menipu. Sebagaimana sulit, beratnya menaiki anak tangga maka menuruni anak tangga jauh lebih mudah. Yaa karena perjuangan naik level memang membutuhkan usaha yang sepadan, sedangkan untuk turun level, tinggal kelas, menuju kehancuran adalah hal yang sangat ringan, bahkan tidak perlu susah-susah berjalan dengan menggelinding pun bisa turun dan mencapai kembali lantai dasar, namun kita akan sakit di akhir dan menyebabkan luka, atau minimal ketika turun dengan berjalan maka kita butuh waktu dan energi lebih lama dan lebih banyak untuk naik level lagi.

Ujian yang saya hadapi hari ini, tidak seujung kuku pun dari ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ayub 'alaihisalam. Perjuangan yang saya lakukan, tidak setetes air lautpun layaknya perjuangan Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam. Lantas bagaimana mungkin kemudian saya memilih berhenti atau mencari alternatif jalan yang lebih mudah dan lebih cepat, padahal sunnatulloh dalam jalan kebaikan adalah jalan yang penuh onak dan duri, jalan yang panjang bahkan hampir tak terlihat ujungnya, jalan yang kadang menurun dengan curam dan mendaki dengan terjal, jalan yang berkelok dan begitu sukar.

Orang bijak banyak berkata, mintalah untuk dikuatkan jangan minta dimudahkan, karena kemudahan bukan sifat dalam perjuangan.

Memang sudah sifat manusia yang lemah dan mudah lelah. Karena yang Maha Kuat dan Tidak pernah lelah mengurus makhlukNya ya adalah pencipta manusia itu sendiri, Rabb semesta Alam. Maka menyerah bukan sifat para pejuang melainkan sifat para pecundang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....