Langsung ke konten utama

Postingan

Memetik Hikmah di Balik Wabah

Sudah masuk hari ketiga work from home dan hari ke 10 untuk para siswa home learning. Lantas apa saja hikmah yang bisa dipetik? Bukankah hikmah itu seperti mutiara yang hilang bagi para mukminin dan mukminat? Dalam dunia pendidikan, Allah seperti sedang menunjukkan peran sejati para ibu untuk menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya, mengembalikan peran yang oleh sebagian ibu mungkin di delegasikan tersebab harus bekerja  atau berdakwah di ranah publik, sehingga seringkali kerinduan membersamai anak-anaknya senantiasa hadir. Hari ini, Allah balas kerinduan itu, dengan waktu yang lebih panjang. Kepada sang guru, orangtua maupun anak, Allah ajarkan cara baru untuk belajar, untuk membaca, bahwa belajar tak melulu soal kelas dan gedung sekolah. Bahwa sejatinya belajar di rumah dan dimanapun adalah keniscayaan bagi para pembelajar sejati. Dalam dunia pencarian nafkah, menjemput rezeki dari Allah. Tidak sedikit yang selama ini merasakan waktu berjalan begitu cepat, bahkan ...

JURNAL GURU: Covid-19 Mewabah, Bagaimana Guru dan Siswa Meyesuaikan Diri?

Akhir tahun 2019, di negeri Cina sana mewabah virus yang bernama Corona Virus Disease (COVID-19). Banyak orang-orang yang terjangkit lalu meninggal dan sebagian sembuh. Waktu terus belalu, virus tak kunjung berlalu. Di tahun 2020 ini, virus menjadi pandemi di seluruh dunia. Italy, sebuah negara besar bahkan sudah melakukan lockdown untuk menurunkan penyebaran virus ini. Lalu maret 2020, virus mulai masuk ke Indonesia, dan menurut beberapa ahli virus ini sudah bermutasi, yang awalnya penularannya melalui doplet kini nampaknya virus juga menyebar melalui airbone. Sebagian masyarakat panik. Tidak sedikit yang bahkan melakukan panic buying terhadap kebutuhan pokok, dan berdampak pada kelangkaan serta melonjaknya harga beberapa barang. Lalu sekitar 14 Maret, turunlah instruksi dari pemerintah daerah untuk meniadakan KBM di sekolah, dan harus dialihkan dengan kegiatan jarak jauh di rumah masing-masing. Sebagai orang-orang yang terdampak bagaimana lantas murid dan guru beradaptasi dengan ...

JURNAL GURU: Menjadi Teman Berbagi Cerita

Bulan februari hampir berakhir, cerita perjalanan dunia sekolah masih terus berjalan. Izinkan aku berkisah, kisah cerita di bulan februari. Menjadi guru SMP senang-senang susah, tapi senangnya lebih banyak insyaAllah. Membersamai peserta didik beradaptasi dengan masa pertumbuhannya, masa pubertas, masa menuju kedewasaan, walau kini anak SMP dikatakan remaja, tapi sejatinya mereka sudah mulai mengalami masa dewasa, masa pendewasaan. Mungkin fisik tidak begitu banyak bekerja, tapi perasaanlah yang dikuras habis, jika kita tak mampu mengelola rasa, tak mengenal seninya. Di tahun kedua ini, aku diamanahkan menjadi guru bidang studi IPA. Berbagai materi kami pelajari bersama, ya kami, aku dan teman belajarku (baca: peserta didik). Berbagi, transfer pengetahuan, dan berbagi kisah. Kelasku tak melulu soal buku dan materi pada buku. Beberapa kali malah kubiarkan buku kami tak terbuka dalam satu hari pelajaran, aku dan mereka yang menjadi kami menghabiskan jam pelajaran dengan bercerita, sa...

Kabar Banjir Part Sekian

Hari ini, pagi sekali sudah ramai informasi banjir di mana-mana. Sekitar jam 6 pagi saya keliling gang sampai ke belakang wilayah kavling pinggir kali, benar saja air sudah penuh, warga sudah mulai mengungsi. Sekolah-sekolah pun diliburkan karena akses menuju sekolah banjir dan sebagian tergenang air, walau sekolah tempat saya mengabdi tetap aman alhamdulillah. Teringat update-an story teman yang mengingatkan bahwa sebenarnya jumlah air itu selalu sama, hanya sekarang kondisi buminya yg sudah berbeda. Qadarullah, meyakini bahwa semuanya sudah Allah tentukan dan pasti atas izin Allah. Namun jika dipikir-pikir dan saya coba mengingat masa kecil saya, saat musim hujan memang terkadang banjir. Akses jalan juga memang terkadang terputus karena dilanda banjir. Ada benarnya, saat ini daerah resapan air semakin minim. Dulu kalau bajir sawah-sawah ikut banjir, tapi pemukiman warga bagian yang cukup tinggi tidak terdampak. Sekarang banyak orang yang terdampak karena areal persawahan yang dul...

JURNAL GURU: Membersamai Anak Mengelola Rasa

Pagi itu, awalnya semua terlihat baik-baik saja. Anak-anak terlihat riang seperti sebelumnya. Mereka belajar, bermain seperti hari-hari biasanya. Dasar perempuan memang pandai sekali menutupi masalah, seolah benar kondisi kelas memang sedang baik-baik saja. Sesekali saya melihat satu dua anak terlihat murung, tapi besok kembali ceria, ya begitu saja setiap harinya seperti sebelum-sebelumnya. Tapi pagi itu, sebuah pesan what's app masuk dari Bundanya Bunga. Menyampaikan permasalahan yang sama saat konsultasi akhir semester ganjil lalu. Kupikir ini biasa saja, toh anak-anak memang terlihat baik di sekolah. Tapi kali ini sepertinya membuat sang Ibu lebih emosional karena anaknya kerap murung setiap pulang sekolah, bahkan sering menangis. Dan kalau kondisi tidak membaik, beliau akan memboyong anaknya pindah ke sekolah lain. Cukup panjang pesannya, tapi begitu kurang lebih isi pesannya. Saya terdiam sejenak, menenangkan diri. Sebab lari dari masalah dengan berpindah sekolah tida...

JURNAL GURU: Permulaan

Perempuan dan perasaan adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Lalu bagaimana dengan anak didik yang mulai beranjak aqil baligh?. Apakah perjalanan kehidupannya dilingkungan sekolah akan mulus bebas hambatan ataukah sebaliknya, kehidupan yang penuh drama dengan diiringi gelak tawa dan derai tangis dalam waktu yang bergantian atau bersamaan?. Perjalanan di tahun kedua membersamai anak-anak dengan usia memasuki akil baligh membuat saya memiliki keinginan untuk mulai menuliskannya secara rutin. Agar dikemudian hari menjadi kenangan manis yang saya baca sendiri, atau siapapun yang membacanya untuk dapat diambil pelajarannya, jika ada. Dua tahun ini saya membersamai anak-anak perempuan di jenjang pendidikan menengah pertama atau SMP. Banyak hal mewarnai kehidupan saya pribadi, kadang emosional hingga terbawa perasaan dalam sisi kehidupan saya yang lainnya. Dan inilah, jurnal guru SMP dimulai, semoga istiqomah dalam perjalanannya.

Karena Allah Saja

Rencana-rencana telah tersusun.. Satu demi satu dalam lembaran yang rapih  Niat telah tersampaikan dan ikhtiar terus dijalankan Kita merencanakan, bukan karena hidup ini seutuhnya milik kita, bukan, bukan itu... Karena kita masih memiliki iman di dada yang yakin bahwa skenario hidup kita telah tertuliskan dengan rapih jauh sebelum kita dilahirkan.. Ini hanya ikhtiar merapihkan kehidupan yang jangan sampai tak tahu arah Agar jangan sampai melupakan bahwa ibadah adalah tujuan kita diciptakan.. Kita punya rencana, Allah punya rencana dan Allah lah saja sebaik-baik perencana.. Sungguh indah hidup ini, jika syukur dan sabar senantiasa menyertai.. menjadikan sebaik-baik tawakal pada puncak perjuangan menjalani setiap aktivitas kehidupan.. Tidak perlu risau, karena selama ada Allah, semua akan baik-baik saja..