Langsung ke konten utama

Kabar Banjir Part Sekian

Hari ini, pagi sekali sudah ramai informasi banjir di mana-mana. Sekitar jam 6 pagi saya keliling gang sampai ke belakang wilayah kavling pinggir kali, benar saja air sudah penuh, warga sudah mulai mengungsi. Sekolah-sekolah pun diliburkan karena akses menuju sekolah banjir dan sebagian tergenang air, walau sekolah tempat saya mengabdi tetap aman alhamdulillah.

Teringat update-an story teman yang mengingatkan bahwa sebenarnya jumlah air itu selalu sama, hanya sekarang kondisi buminya yg sudah berbeda. Qadarullah, meyakini bahwa semuanya sudah Allah tentukan dan pasti atas izin Allah. Namun jika dipikir-pikir dan saya coba mengingat masa kecil saya, saat musim hujan memang terkadang banjir. Akses jalan juga memang terkadang terputus karena dilanda banjir.

Ada benarnya, saat ini daerah resapan air semakin minim. Dulu kalau bajir sawah-sawah ikut banjir, tapi pemukiman warga bagian yang cukup tinggi tidak terdampak. Sekarang banyak orang yang terdampak karena areal persawahan yang dulunya menjadi tempat lari air, sekarang ditinggali manusia dengan beralih menjadi wilayah perumahan.

Berapa banyak juga yang dibangun apartemen, dan tidak sedikit dari apartemen itu yang kosong, tidak padat penghuninya. Artinya wilayah resapan air yang dialih fungsikan menjadi wilayah tinggalpun tidak sepenuhnya ditinggali, hanya "merebut" tempat air berlabuh saja.

Saat anak-anak dulu, seingat saya selokan atau gorong-gorong cukup besar dan dalam.. sekarang, gak sedikit selokan yang dangkal karena lumpurnya banyak dan mampet oleh sampah.

Saatnya kita sama-sama bergerak merawat bumi, agar tugas kita untuk menjadi pemimpin di bumi bisa kita tunaikan dengan baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....