Akhir tahun 2019, di negeri Cina sana mewabah virus yang bernama Corona Virus Disease (COVID-19). Banyak orang-orang yang terjangkit lalu meninggal dan sebagian sembuh. Waktu terus belalu, virus tak kunjung berlalu. Di tahun 2020 ini, virus menjadi pandemi di seluruh dunia. Italy, sebuah negara besar bahkan sudah melakukan lockdown untuk menurunkan penyebaran virus ini. Lalu maret 2020, virus mulai masuk ke Indonesia, dan menurut beberapa ahli virus ini sudah bermutasi, yang awalnya penularannya melalui doplet kini nampaknya virus juga menyebar melalui airbone.
Sebagian masyarakat panik. Tidak sedikit yang bahkan melakukan panic buying terhadap kebutuhan pokok, dan berdampak pada kelangkaan serta melonjaknya harga beberapa barang. Lalu sekitar 14 Maret, turunlah instruksi dari pemerintah daerah untuk meniadakan KBM di sekolah, dan harus dialihkan dengan kegiatan jarak jauh di rumah masing-masing.
Sebagai orang-orang yang terdampak bagaimana lantas murid dan guru beradaptasi dengan situasi ini. Situasi yang sama sekali baru terjadi pada abad ini. Ya, guru, orangtua dan murid nampaknya sedang diberikan kesempatan untuk belajar dan bersinergi lebih dari biasanya.
Grup-grup whatsapp menjadi sarana kegiatan belajar mengajar di sekolah kami, bukan tanpa alasan hal itu dipilih, WA dipilih karena dinilai semua orang bisa menggunakannya dan sudah menjadi media komunikasi setiap harinya.
Guru dengan sigap bekerjasama dengan semua elemen sekolah untuk merumuskan model-model pembelajaran dengan asas memanusiakan serta memudahkan seluruh pihak. Kegiagan PBJJ (Pola Belajar Jarak Jauh) resmi diselenggarakan hari Senin, 16 Maret 2020. Guru-guru di sekolahku sudah menyiapkan diri dengan berbagai variasi materi yang tetap memperhatikan tujuan pembelajaran.
Orangtua sigap memfasilitasi anak-anak dengan smartphone beserta kuotanya pada waktu yang sudah ditentukan, sebagian ada yang di luar jam karena memang harus bekerja dan baru bisa memfasilitasi anak selepas bekerja. Melalui social distancing ini juga nampaknya Allah memberikan kesempatan setiap keluarga untuk merekatkan kembali bondingnya yang mungkin sempat berjarak, lantaran sebagian anggota keluarga yang harus bekerja meninggalkan rumah dengan durasi yang tidak sebentar. Melalui kejadian ini juga saya berhusudzan billah, bahwa Allah tengah mengembalikan harkat martabat guru, karena tidak sedikit wali murid yang akhirnya sadar akan kebaikan guru dan menaruh takzim pada guru, setelah merasakan sendiri mengarkan anak-anak mereka sendiri, walau baru beberapa hari.
Murid pun terlihat antusias melaksanakan pembelajaran jarak jauh ini. Mereka mengikuti kegiatan belajar dengan baik, walau dengan penyesuaian karena tidak tatap muka secara langsung seolah merasa terlalu banyak tugas.
Media konferensi onlinepun di jajal oleh salah satu guru di sekolahku mengajar, dan murid bisa menyesuaikan diri.
Pada akhirnya Allah tengah mengajarkan kita semua untuk mau belajar dan terus belajar, melakukan pembaharuan dengan tetap memperhatikan asas merdeka belajar.
Sebenarnya ada satu kekhwatiran, sebab sekolah bukan hanya perkara transfer knowlegde tetapi juga menjadi wadah untuk transfer adab, dan semoga adab para murid tetap terjaga dan semakin baik lagi.
Sebagian masyarakat panik. Tidak sedikit yang bahkan melakukan panic buying terhadap kebutuhan pokok, dan berdampak pada kelangkaan serta melonjaknya harga beberapa barang. Lalu sekitar 14 Maret, turunlah instruksi dari pemerintah daerah untuk meniadakan KBM di sekolah, dan harus dialihkan dengan kegiatan jarak jauh di rumah masing-masing.
Sebagai orang-orang yang terdampak bagaimana lantas murid dan guru beradaptasi dengan situasi ini. Situasi yang sama sekali baru terjadi pada abad ini. Ya, guru, orangtua dan murid nampaknya sedang diberikan kesempatan untuk belajar dan bersinergi lebih dari biasanya.
Grup-grup whatsapp menjadi sarana kegiatan belajar mengajar di sekolah kami, bukan tanpa alasan hal itu dipilih, WA dipilih karena dinilai semua orang bisa menggunakannya dan sudah menjadi media komunikasi setiap harinya.
Guru dengan sigap bekerjasama dengan semua elemen sekolah untuk merumuskan model-model pembelajaran dengan asas memanusiakan serta memudahkan seluruh pihak. Kegiagan PBJJ (Pola Belajar Jarak Jauh) resmi diselenggarakan hari Senin, 16 Maret 2020. Guru-guru di sekolahku sudah menyiapkan diri dengan berbagai variasi materi yang tetap memperhatikan tujuan pembelajaran.
Orangtua sigap memfasilitasi anak-anak dengan smartphone beserta kuotanya pada waktu yang sudah ditentukan, sebagian ada yang di luar jam karena memang harus bekerja dan baru bisa memfasilitasi anak selepas bekerja. Melalui social distancing ini juga nampaknya Allah memberikan kesempatan setiap keluarga untuk merekatkan kembali bondingnya yang mungkin sempat berjarak, lantaran sebagian anggota keluarga yang harus bekerja meninggalkan rumah dengan durasi yang tidak sebentar. Melalui kejadian ini juga saya berhusudzan billah, bahwa Allah tengah mengembalikan harkat martabat guru, karena tidak sedikit wali murid yang akhirnya sadar akan kebaikan guru dan menaruh takzim pada guru, setelah merasakan sendiri mengarkan anak-anak mereka sendiri, walau baru beberapa hari.
Murid pun terlihat antusias melaksanakan pembelajaran jarak jauh ini. Mereka mengikuti kegiatan belajar dengan baik, walau dengan penyesuaian karena tidak tatap muka secara langsung seolah merasa terlalu banyak tugas.
Media konferensi onlinepun di jajal oleh salah satu guru di sekolahku mengajar, dan murid bisa menyesuaikan diri.
Pada akhirnya Allah tengah mengajarkan kita semua untuk mau belajar dan terus belajar, melakukan pembaharuan dengan tetap memperhatikan asas merdeka belajar.
Sebenarnya ada satu kekhwatiran, sebab sekolah bukan hanya perkara transfer knowlegde tetapi juga menjadi wadah untuk transfer adab, dan semoga adab para murid tetap terjaga dan semakin baik lagi.
Komentar
Posting Komentar