Bulan februari hampir berakhir, cerita perjalanan dunia sekolah masih terus berjalan. Izinkan aku berkisah, kisah cerita di bulan februari.
Menjadi guru SMP senang-senang susah, tapi senangnya lebih banyak insyaAllah. Membersamai peserta didik beradaptasi dengan masa pertumbuhannya, masa pubertas, masa menuju kedewasaan, walau kini anak SMP dikatakan remaja, tapi sejatinya mereka sudah mulai mengalami masa dewasa, masa pendewasaan. Mungkin fisik tidak begitu banyak bekerja, tapi perasaanlah yang dikuras habis, jika kita tak mampu mengelola rasa, tak mengenal seninya.
Di tahun kedua ini, aku diamanahkan menjadi guru bidang studi IPA. Berbagai materi kami pelajari bersama, ya kami, aku dan teman belajarku (baca: peserta didik). Berbagi, transfer pengetahuan, dan berbagi kisah. Kelasku tak melulu soal buku dan materi pada buku. Beberapa kali malah kubiarkan buku kami tak terbuka dalam satu hari pelajaran, aku dan mereka yang menjadi kami menghabiskan jam pelajaran dengan bercerita, saling memberi masukan atau sekedar menjadi pendengar yang baik. Sungguhlah sayang, jika masa emas ini aku abaikan, menjadi teman berkisah mereka sungguh menyenangkan. Membangun kedekatan dengan bercerita, memberikan umpan balik, dan saling menbangun kepercayaan. Dari sinilah, aku bisa mengetahui sejauh mana mereka bergaul di luar lingkungan sekolah, sejauh mana mereka mulai jenuh, atau sejauh mana upaya mereka untuk bersemangat menyerap ilmu.
Sesekali pemberitahuan di akun igku muncul, bertuliskan informasi bahwa ada DM yang masuk, tak jarang DM itu berasal dari anak-anak. Sekadar cerita tentang perasaanya kepada teman lawan jenisnya, sekadar kegalauannya tentang persahabatannya, bahkan tatkala ketika kecewa kepada orangtuanya. Seni mendengarkan ini yang harus aku asah, tak hanya mendengarkan secara langsung tapi juga mendengar dengan media yang lain. Sesekali dalam kelasku, aku hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan ihwal perasaan mereka hari itu dan beberapa hari sebelumnya, yang mereka tuliskan dalam secarik kertas dan kuminta untuk mengumpulkannya, sebab dari situ akhirnya aku bisa memahami perasaan mereka saat itu, dan dari situ juga aku mempertimbangkan untuk mengajar dengan gaya dan suasana apa.
Berbagilah, walau hanya cerita sederhana, karena tiap kata itu yang akan membangun kepercayaan dan kasih sayang.
Menjadi guru SMP senang-senang susah, tapi senangnya lebih banyak insyaAllah. Membersamai peserta didik beradaptasi dengan masa pertumbuhannya, masa pubertas, masa menuju kedewasaan, walau kini anak SMP dikatakan remaja, tapi sejatinya mereka sudah mulai mengalami masa dewasa, masa pendewasaan. Mungkin fisik tidak begitu banyak bekerja, tapi perasaanlah yang dikuras habis, jika kita tak mampu mengelola rasa, tak mengenal seninya.
Di tahun kedua ini, aku diamanahkan menjadi guru bidang studi IPA. Berbagai materi kami pelajari bersama, ya kami, aku dan teman belajarku (baca: peserta didik). Berbagi, transfer pengetahuan, dan berbagi kisah. Kelasku tak melulu soal buku dan materi pada buku. Beberapa kali malah kubiarkan buku kami tak terbuka dalam satu hari pelajaran, aku dan mereka yang menjadi kami menghabiskan jam pelajaran dengan bercerita, saling memberi masukan atau sekedar menjadi pendengar yang baik. Sungguhlah sayang, jika masa emas ini aku abaikan, menjadi teman berkisah mereka sungguh menyenangkan. Membangun kedekatan dengan bercerita, memberikan umpan balik, dan saling menbangun kepercayaan. Dari sinilah, aku bisa mengetahui sejauh mana mereka bergaul di luar lingkungan sekolah, sejauh mana mereka mulai jenuh, atau sejauh mana upaya mereka untuk bersemangat menyerap ilmu.
Sesekali pemberitahuan di akun igku muncul, bertuliskan informasi bahwa ada DM yang masuk, tak jarang DM itu berasal dari anak-anak. Sekadar cerita tentang perasaanya kepada teman lawan jenisnya, sekadar kegalauannya tentang persahabatannya, bahkan tatkala ketika kecewa kepada orangtuanya. Seni mendengarkan ini yang harus aku asah, tak hanya mendengarkan secara langsung tapi juga mendengar dengan media yang lain. Sesekali dalam kelasku, aku hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan ihwal perasaan mereka hari itu dan beberapa hari sebelumnya, yang mereka tuliskan dalam secarik kertas dan kuminta untuk mengumpulkannya, sebab dari situ akhirnya aku bisa memahami perasaan mereka saat itu, dan dari situ juga aku mempertimbangkan untuk mengajar dengan gaya dan suasana apa.
Berbagilah, walau hanya cerita sederhana, karena tiap kata itu yang akan membangun kepercayaan dan kasih sayang.
Komentar
Posting Komentar