Langsung ke konten utama

Postingan

MASALEMBU AKU (mulai) MERINDUMU

Ya, rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki ditanahmu, msalembu. Pulau terluar wilayah jawa timur, kau layaknya surga dunia. kau jauh tapi kau indah, kau menyimpan begitu banyak keindahan dan sejarah negara ini. kau gerbang indonesia, namun sayang tak banyak orang yang tahu keberadaanmu, selain mereka tahu bahwa kau adalah pulau yang angker dan menyeramkan. Melalaui Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 aku berkesempatan menyambangimu, mengenal orang-orang yang tinggal di pulau masalembu. Dini hari, saat langit masih gelap kapal bersandar di pelabuhan, ya pelabuhan di pulau masalembu. Dinginnya angin tak mengalahkan semangat dan bahagiaku ketika akhirnya tiba di pulau masalembu. Pulau masalembu lebih besar dari pulau sapeken, untuk mengelilingi pualu ini aku dan rombongan menumpang mobil pick up dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam. perjalanan pertama kami adalah ke pantai masna, pantai yang terdapat beting menjorok  ke tengah laut, dengan airnya yang jernih dan pasir putih bak...

PANTAI NGLIYEP

Sekitar pukul delapan pagi, saya dan mayla berangkat menuju pantai ngliyep. Dengan mengenalkan jaket dan perlengkapan berkendara motor kami siap berpetualang hari ini. Saya yang mengendarai sepedea motor untuk menuju pantai, walau sama-sama tak tahu jalan dam saya hanya berpatokan pada informasi yang saya dapat dari teman kami pun berangkat. saya tidak begitu khawatir dengan rute yang harus dilewati karena papan panan penunjul jalan sangat banyak dan berada di setiap jalan. patokan saya saat itu hanya pertigaan sekitar pabrik gula, yang saya lupa nama pabrik gulanya. Berbeda dengan jalan menuju pantai kondang merak yang cukup rusak, akses jalan menuju pantai ngliyep ini saya akui cukup baik. karena beraspal dan hanya sediki bergelombang saja, namun tidak mengganggu perjalanan kita. sekitar satu jam lebih akhirnya kami sampai di gerbang sekaligus loket pembayaran tiket masuk pantai ngliyep. Loket Tiket Masuk pantai ngliyep Harga tiket masuknya 11K/orang (sudah termasuk biaya ...

coretan september 2014

Sore ini aku cukup gundah memikirkan ukt, aku pun belum krs-an sampai saat ini. Disaat teman-temanku sudah mengetahui kelasnya masing”, ya aku masih menunggu pengumuman itu. Aku sangat berharap bisa turun hingga ke golongan 3,tak perduli waktu kuliah yang kuambil harus pagi sekali nantinya. Hari ini terasa begitu membosankan, astaghfirullah tak seharusnya mungkin seperti ini aku berpikir. Aku mulai merindukan rumah, aku mulai merindukan ibuku, ayah, icay, fia, lala, dan ezra. Orang-orang yang kukasihi di dunia ini, tak tahan ingin menitikan air mata tiap rindu ini melanda. Inilah konsekuensi yang harus aku tanggung dari pilihanku saat hendak berkuliah di waktu silam. Aku berjanji tak akan memikirkan soal yang tak seharusnya kupikirkan saat ini (red: cinta), ya karena memang belum saatnya hal itu untuk kupikirkan. Yang harus aku pikirkan adalah untuk selalu meng-upgrade kualitas diri ini sehingga bisa menjadi lebih baik lagi. Aku juga ingin agar indeks prestasiku bisa menin...

Surat untuk Ibu

Betapa lidah ini kelu bu untuk mengatakan hal itu, ya untuk mengatakan bahawa “aku mencintaimu karena Allah”. Ibu, mungkin aku tak terbiasa sejak kecil untuk mengucapkan terimakasih kepadamu, tapi percayalah bahwa aku tak mampu mengucaapkannya saat ini bukan karena dirimu tak istimewa, namun ini hanyalah kebodohanku semata yang tak sanggup untuk sekedar mengucapkannya padamu walau hanya lewat pesawat telepon. Ibu, kau tak pernah mengeluh akan lelahnya dirimu mengandungku,merawatku dan terus mendoakanku hingga kini. Namun aku, apa yang sudah aku lakukan untuk sedikit saja membuatmu bahagia. Atau mungkin justru aku terus dan terus saja membuat air matamu jatuh akan tingkahku yang buruk. Kau tak pernah mengajarkanku keburukan bu, akulah yang tak pernah mendengarkan nasihat dan peringatan darimu disaat aku kanak-kanak. Ibu, kini kita terpisahkan oleh jarak. Kau di barat dan aku di timur, rasa rindu ini tak bisa diobati walau seringkali aku menelponmu. Memang tak jelas apa yang ing...

Aku dan Kalian

persahabatan ini sudah terjalin begitu lama, dulu saat kita masih duaduk di bangku SD entah kau ingat atau tidak sahabat-sahabatku kita mendambakan menjadi pribadi yang baik yang menggunakan bahasa "aku-kamu" dalam berkomunikasi sehari-hari. tiga jenjang sekolah kita lalui disekolah yan sama dari SD, Mts, sampai SMA namun hingga akhirnya jenjang kuliah memisahkan jarak kita. kita terpisah di jarak yang cukup jauh, walau tetap di satu pulau namun kita terpisah di tiga provinsi berbeda, aku di timur, liya di tengah dan cici di barat pulau jawa. sahabat perbedaan provinsi semoga tak akan membuat persahabatan kita hambar namun aku yakin perbedaan ini yang akan membuatnya lebih indah. kau tentu tahu pelangi tak memiliki satu pun warna yang sama justru karena itulah dia menjadi begitu indah. ya semoga begitupun dengan kita bertiga, semoga Allah tetap menjaga kita dalam keimanan ini. di dunia kampus ini kitapun sama-sama memulai dari nol, aku amat bahagia ketika melihat kalian m...

Pantai Sendang Biru yang tak direncanakan

Pukul 14.30 Aku, Resi dan Tasia bertolak dari pantai Bajul Mati   mengendarai sepada motor berplat B menuju pantai sendang biru, jaraknya tak begitu jauh hanya sekitar 7km saja. nuanasa hutan yang begitu indah sesekali menyihir pandangan dan membuatku tak fokus untuk berkendara. ya aku hanya menumpang motor sendirian sedangkan tasia dan resi berboncengan. tak ingat tepat pukul berapa kami sampai di Sendang biru, dengan membayar tiketbmasuk dan tiket motor seharga 8000 aku pun akhirnya segera masuk ke kawasan pantai nan dipenuhi kapal-kapalikan nelayan itu. kuparkirkan sepeda motorku dan kusodorkan selembar uang lima ribu kepada tukang parkir yang juga memberiku karcis parkir bergantian. perut kami begitu keroncongan, ya karena tujuan kami kesini hanya ingin makan ikan bakar saja. langsung saja kami masuk ke tenda penjual ikan bakar, tak ada ikan kerapu akhirnya kami memesan ikan bakar (penjualnya bilang ikan laori). ikan bakar dan 3 porsi nasi seharga 25ribu ikan itu...

gua cina

Perjalanan yang melelahkan pun terbayar dengan suguhan pemandangan yang begitu luar biiasa. MasyaAllah sungguh tak akan ada yang mampu menandingi ciptaan-Mu ya Rabb. Tak pernah menyangka bahwa dibalik rimbunnya hutan dan jalan yang meliuk-liuk di pegunungan ternayat tersimpan pantai yang begitu mempesona . Alahamduliilah penantianku dalam berkendara akan benar- benar terbayar karena aku sudah berada di pintu masuk Pantai Gua Cina. Tiket masuknya hanya lima ribu rupiah ditambah biaya PMI seribu rupiah jadi totalnya hanya enam ribu rupiah unutk satu orang. Tempat parkirnya pun masih sempit dan aku hat=rus memarkir motorku di kebun diantara pepohonan pisang dan rumah warga. Untuk menuju ke pantai aku mengambila jalan pintas dengan melewati kebun pepaya dan pisang. Dan ..... Tak henti- hetinya mengucap syukur dan memuji Allah, pantai dengan airnya yang terlihat biru kehijauan dan ombak besar membuat mataku terbelalak. Tak ingin melewatkan momen   yang baik ini, aku pun...