Langsung ke konten utama

PANTAI NGLIYEP

Sekitar pukul delapan pagi, saya dan mayla berangkat menuju pantai ngliyep. Dengan mengenalkan jaket dan perlengkapan berkendara motor kami siap berpetualang hari ini.
Saya yang mengendarai sepedea motor untuk menuju pantai, walau sama-sama tak tahu jalan dam saya hanya berpatokan pada informasi yang saya dapat dari teman kami pun berangkat. saya tidak begitu khawatir dengan rute yang harus dilewati karena papan panan penunjul jalan sangat banyak dan berada di setiap jalan. patokan saya saat itu hanya pertigaan sekitar pabrik gula, yang saya lupa nama pabrik gulanya.
Berbeda dengan jalan menuju pantai kondang merak yang cukup rusak, akses jalan menuju pantai ngliyep ini saya akui cukup baik. karena beraspal dan hanya sediki bergelombang saja, namun tidak mengganggu perjalanan kita. sekitar satu jam lebih akhirnya kami sampai di gerbang sekaligus loket pembayaran tiket masuk pantai ngliyep.
Loket Tiket Masuk pantai ngliyep
Harga tiket masuknya 11K/orang (sudah termasuk biaya PMI), karena belum sarapan dari rumah kamipun bertanya pada petugas memastikan bahwa di dalam ada penjual makanan, petugasnya sangat ramah dan bersedia memberi penjelasan pada kami. tiket sudah kami dapat, perjalananpun dilanjutkan. segera kuhidupkan mesin sepeda motor dan memasuki gernbang untuk segera melihat deburan ombak dipantai. sudah tidak sabar rasanya untuk melepas penat.
Gerbang masuk pantai Ngliyep
Saat memasuki gerbang ada petugas yang bertugas mengecek tiket, lalu menyobek tiket yang kita punya sebagai tanda tiket telah diperiksa. jalan setelah memasuki kawasan pun terbilang cukup baik, karena masih beraspal. seperti khasnya pantai di malang selatan, kita juga disuguhi pemaandangan hutan yang memanjakan mata. Tidak jauh dari gerbang masuk kita sudah bisa melihat bentangan laut yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia tersebut, tampak begitu indah dan begitu luasnya ciptaan Allah tersebut. pantai ini seolah melengkapi satu persatu pantai yang harus kukunjungi, setelah pantai goa cina, pantai Tamban, Pantai Sendang Biru, pantai Gatra, Pantai Kondang Merak, Pantai Balaikambang, Pulau sempuh, serta Pantai Bajulmati. berikut adalah kondisi aspal di jalan setelah melewati pinti gerbang dan menuju kawasan pantai.


Tak jauh kami berkendara medan jalannya menurun hingga sampai kawasan pantai. kami pun  tiba  dipantai, terlebih dahulu kami memerkirkan motor, dengan membayar tiket parkir sebesar lima ribu rupiah kepada petugas parkir. ya, lima ribu samapai sepuasnya dari pagi sampai sore ketika kami hendak pulang nanti. usai memarkirkan motor dengan rapih, kami langsung saja mencari warung makan, ya karena kami belum sarapan sedari berangkat, saya dan mayla memuutuskan untukmakan di salah satu warung Ikan Bakar Laut yang mneyediakan menu ikan laut yang segar. kami oun bisa memesan dengan rasa yang pedas. saya dan mayala memilih menu masing masing satu porsi seharga lima belas ribu rupiah utnuk satu porsi ikan bakar beserta nasi dan sambelnya beserta air untuk cuci tangan. saya dan mayla pun sehera menyantap makanan yang telah terhidang dihadapan kami ini. perlahan-lahan, hingga akhrnya habis. Rasa segarnya dan manisnya ikan sangat terasa disertai pdasnya sambal membuatnya semakin istimewa dan menggugah selera.

Usai makan kami langsung menuju pantai untuk menyakikan keindahan ciptaaan Sang Maha Pencipta. MasyaAllah, begitu indah deburan ombak yang meyapu pantai, menerjang karang dengan terus menerus tanpa henti semakin membuktikan bahwa Allah selalu Menciptakan sesuatu dengan Sempurna tanpa celah sedikitpun. banyak sekali papan papan peringatan untuk pengunjung tidak mandi di kawasan pantai pasir panjang tersebut. Ya, karena ombaknya yang ganas, melihatnya saja membuatku cukup waspada agar tak sedikitpun aku  terseret oleh ombak. keindahan pasir pantai yang  membentang luas serta pepohonan dibukit bukit karang dan di pinggir-pinggir pantai seolah membius kami untuk terus menyusuri pantai.

bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....