Langsung ke konten utama

Surat untuk Ibu



Betapa lidah ini kelu bu untuk mengatakan hal itu, ya untuk mengatakan bahawa “aku mencintaimu karena Allah”. Ibu, mungkin aku tak terbiasa sejak kecil untuk mengucapkan terimakasih kepadamu, tapi percayalah bahwa aku tak mampu mengucaapkannya saat ini bukan karena dirimu tak istimewa, namun ini hanyalah kebodohanku semata yang tak sanggup untuk sekedar mengucapkannya padamu walau hanya lewat pesawat telepon.
Ibu, kau tak pernah mengeluh akan lelahnya dirimu mengandungku,merawatku dan terus mendoakanku hingga kini. Namun aku, apa yang sudah aku lakukan untuk sedikit saja membuatmu bahagia. Atau mungkin justru aku terus dan terus saja membuat air matamu jatuh akan tingkahku yang buruk. Kau tak pernah mengajarkanku keburukan bu, akulah yang tak pernah mendengarkan nasihat dan peringatan darimu disaat aku kanak-kanak.
Ibu, kini kita terpisahkan oleh jarak. Kau di barat dan aku di timur, rasa rindu ini tak bisa diobati walau seringkali aku menelponmu. Memang tak jelas apa yang ingin aku bicarakan lewat telepon. namun mendengar suaramu dan memastikan jika kau masih bisa menjawab teleponku itu membuatku lebih tenang. Ibu maafkan aku atas semua kesalahanku atas semua perkataan dan perbuatanku yang menyakiti fisik maupun batinmu.
Ibu, aku tahu kau tak pernah lelah untuk terus mendo’akanku, namun maafkan aku karena terkadang aku justru lupa untuk mendoa’akanmu disaat sempitku. Ibu, kau wanita hebat dan pantas saja jika surgaku hingga kini berada dibawah kakimu bu.
Ibu, aku mohon beristirahatlah sejenak jika kau merasa lelah, aku takut dan sedih jika mendegar kau tengah sakit di barat pulau jawa sana. Ibu, ridhoilah aku utnuk beribadah di timur pulau jawa ini bu. Maafkan jika dahulu aku tak menuruti keinginamu dan lebih memilih untuk menimba ilmu di timur ini. Ibu aku mohon jangan pernah bosan untuk mendo’akan aku, dan aku yakin kau tak akan pernah bosan.
Walau kini usiaku sudah menginjak 19 namun aku ini anakmu yang manja, aku ini tetap anak perempuan kecilmu yang pernah jatuh dari ayunan dan membuat alis mataku bocor dan berbekas. Aku ini tetap anakmu yang selalu menghisap ujung bajumu disaat aku ingin tidur hingga membuat bajumu basah.
Ibu jaga kesehatanmu dan mohon do’akan anakmu yang sedang belajar menjadi anak solihah ini bu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....