Langsung ke konten utama

Pantai Sendang Biru yang tak direncanakan

Pukul 14.30 Aku, Resi dan Tasia bertolak dari pantai Bajul Mati   mengendarai sepada motor berplat B menuju pantai sendang biru, jaraknya tak begitu jauh hanya sekitar 7km saja. nuanasa hutan yang begitu indah sesekali menyihir pandangan dan membuatku tak fokus untuk berkendara. ya aku hanya menumpang motor sendirian sedangkan tasia dan resi berboncengan. tak ingat tepat pukul berapa kami sampai di Sendang biru, dengan membayar tiketbmasuk dan tiket motor seharga 8000 aku pun akhirnya segera masuk ke kawasan pantai nan dipenuhi kapal-kapalikan nelayan itu. kuparkirkan sepeda motorku dan kusodorkan selembar uang lima ribu kepada tukang parkir yang juga memberiku karcis parkir bergantian.

perut kami begitu keroncongan, ya karena tujuan kami kesini hanya ingin makan ikan bakar saja. langsung saja kami masuk ke tenda penjual ikan bakar, tak ada ikan kerapu akhirnya kami memesan ikan bakar (penjualnya bilang ikan laori).

ikan bakar dan 3 porsi nasi seharga 25ribu
ikan itu dipatok dengan harga tiga puluh ribu rpiah plus 3 porsi nasi untuk kami bertiga. sifat kewanitaan kami pun muncul, kami mencoba menawar dan dua puluh lima ribu untuk 1ekor ikan bakar plus 3 porsi nasi hangat pun menjadidua puluh lima ribu rupiah. harga yang cukup fantastis murahnya, karna tak mungkin kudapati harga semurah ini jika makan di tempat lain. bahkan ini lebih murah dari 3 porsi nasi lalapan di kos hehe...  setelah menunggu beberapa saat akhirnya semua menu terhidang di meja kami, tak perlu menunggu kami pun langsung menyantapnya dengan nikmat.



pantai Sendang Biru, 06 september 2014.
tak puas hanya makan saja kami pun bergegas kepinggir pantai dahu pan mengabadikan moment ini dengan berphoto. kapal-kapalikan yang tengah bersandar menjadi pemandangan indah di balik photo-photoku, resi dan tasia.

perjalanan ini tak direncanakan sebelumnya, hanya iseng mengajak lalu direspon positif oleh temanku, walau ini untuk yang kedua kalinya namun tetap meneyenangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....