Langsung ke konten utama

Postingan

Review Buku SEKOLAH CINTA (Menjadi Pemimpin dan Guru Hebat)

Setelah lama libur membaca buku, akhirnya saya menemukan buku yang menarik hati untuk saya baca. Buku dengan judul yang sama seperti tulisan saya ini. Sebenarnya mau membuat rangkuman, tapi rasanya semua isinya adalah rangkuman atau lebih tepatnya semua isinya penting sehingga saya tidak mampu melakukannya hehe.. Buku dengan sampul yang dominan berwarna putih dengan warna-warni yang menarik mata, terdapat burung-burung dari kertas lipat berwarna-warni memang bukan buku yang sembarangan menurut saya. Dengan jumlah halaman 236 halaman buku ini mampu membuat saya terhanyut dan ingin terus membacanya di sela-sela waktu saya beberapa hari kemarin. Pak Edi Sutarto sang penulis menulis bukunya dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami, benar saja membaca buku ini seperti sedang membaca cerpen dengan berbagai nasihat yang tidak terkesan menggurui, bahkan seolah-olah sedang membaca buku-buku novel remaja. Buku ini mengajarkan apa yang tertuang pada judulnya, tidak hanya d...

Kenapa?

Kemarin 21 mei 2019, diumumkan dini hari. Bersliweran brodcast wa di berbagai grup di hpku. Hati terusik, tapi tak ada rasa ingin menyebarkannya. Aku hanya berhati-hati tersebab seringkali brodcast itu dikirim dari orang-orang yang justru loyal terhadap kebathilan. Teriris rasanya hingga hari ini, membaca berbagai status dari teman-teman yang mendukung presiden terpilih versi KPU dengan menyalahkan pendukung Prabowo-Sandi. Mungkin rasa kita memang berbeda, sehingga sudut pandang memaknai ini juga berbeda. Bukan, bukan tentang kami berteriakan takbir tanpa arti seperti yang kalian tuduhkan, justru tersebab ada semangat dalam diri ini untuk menyuarakan kebaikan. Bagiku bukan perkara menang dan kalah, tapi tentang di mana aku berpihak. Layaknya burung kecil yang membawakan air untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim sang Nabi kala itu, aku yakin ia tahu bahwa air itu tak akan mampu memadamkan api, tapi setidaknya ia ingin memberitahu di mana ia berpihak. Hari ini pun itu yang kam...

Menjadi Guru Muda

Sungguhlah beruntung saya ini, tak memiliki latar belakang dunia pendidikan secra formal namun diberikan kesempatan menjadi seorang guru. Tepat diusia 22 tahun kala itu saya lulus S1 Perikanan dan pulang ke bekasi, ke tanah kelahiran dan kampung saya. Takdir membawa saya untuk mengabdi di sekolah menengah kejuruan swasta. Umur saya tak jauh berbeda dengan murid-murid sekolah kala itu, hanya sekitar 5-7 tahun, layaknya seorang kaka. Lalu beberapa bulan setelahnya saya diamanahi menjadi seorang guru di Sekolah menengah pertama islam, langsung menjadi wali kelas. Sebagai guru muda atau junior yang tak banyak pengalaman dan tak berlatar pendidikan linier mungkin saya terbilang cukup nekat. Bukan tanpa rasa gerogi kala datang pertama kali menyambut siswa saat MPLS, apalagi diminta memperkenalkan diri. Sudah mencoba mencairkan suasana, tapi masih saja kikuk. Dan Tepat di usia yang ke dua puluh tiga tahun saya memulai debut saya sebagai seorang guru di sekolah menengah pertama ters...

Assalamu'alaikum, Saya Kembali.

Ternyata sudah dua bulan tidak menulis apapun. Tidak membuat karya apapun selain sibuk menyelesaikan persoalan diri pribadi. Mengambil jeda dalam perjalanan yang cukup menantang medannya menjadi keputusan saya pada akhirnya. Keputusan atas kesadaran atau keterpaksaan mungkin menjadi beda tipis terlihat. Mencoba menjauh dari hiruk pikuk keramaian, bukan karena ingin menjauh, tapi sekadar mengembalikan orientasi diri pada jalan yang seharusnya, tersebab jika terus berada dalam keramaian, kekhawatiran akan semakin menjadi-jadi dan membuat diri terbuai atas nama ikhtiar. Kemarin, beberapa hari lalu tak sengaja menonton chanel salah satu anak kiai yang sedang berduet dengan Ayahandanya, tersentak jiwa saya yang terdalam dengan nasihat "jangan menuhankan ikhtiar, sertakan tawakal, bahwa hanya Allah yang bisa membuat sesuatu terjadi" kurang lebih begitu yang saya ingat, tak sama persis dengan apa yang beliau sampaikan, namun itu yang termakna dalam qalbu. Pasalnya, sehari sebelumn...

Malamku bersama Ayah

Entah, kenapa selalu lega setelah mencurahkan rasa padanya. Membicarakan impian-impiannya, yang hampir semua impian itu adalah untuk kami anak-anaknya. Entah, kenapa begitu nyaman saat aku menyampaikan mimpi-mimpiku padanya. Seolah ia selalu mengatakan, bahwa aku mampu dan jalannya tidak akan sesulit yang ada di benakku, aku hanya harus terus berusaha. Ayah, bagaimana mungkin aku membiarkan mimpimu tak terwujud. Selama diri masih bernyawa, kan ku ikhtiarkan semampuku. Mimpimu hanya satu, agar adik-adik mendapatkan pendidikan yang layak, agar masa depannya lebih baik. Ayah, kau benar. Orang di luar sana melihat kita saat kondisi kita sudah baik seperti sekarang, mereka tak menyaksikan saat kau pergi pagi pulang malam namin tak membawa uang. Saat aku mencari kayi bakar dan ibu memasak terasi goreng di tungku yang berasap itu. Saat aa Icay harus bersekolah sembari menjadi ojek anter-jemput tetangga yang menjadi karyawan pabrik. Ayah, seperti yang kita bicarakan malam ini semoga s...

OBAT KALA TERGELINCIR

Manusia memang mudah sekali tergelincir, sebentar saja baik, lalu jatuh lagi pada kesalahan. wahai diri, maka sekuat apa kau beruapaya meraih ridho Rabbmu tanpa menginsafi dosamu?. Wahai diri, apa yang kau cari selain indahnya kasih sayang Rabbmu? Semudah itu kau beranggapan, semudah itu kau merasa baik, dan semudah itu kau menyalahkan orang lain atas kejumawaan dirimu. Apa yg mampu kau jadikan bahan kesombonganmu, saat tersandung kerikil saja kau jatuh? Apa yang mampu kau jadikan bekal bertopeng diri di hadapan manusia, padahal kau sadar dosa-dosamu tidaklah seujung kuku? Wahai diri yang kerap kali menyakiti sesamamu, sudah berapa jauh usahamu mengejar maaf? Wahai diri yang kerap kali merasa lebih baik, apa bedanya kau dengan makhluk Allah yang telah dikutuk itu? Bukankah ia dikutuk lantaran merasa lebih baim dari adam? merasa bahwa api lebih baik dari tanah? Insyafi diri wahai diri, istighfarmu yang sedikit itu niscaya tak akan mampu menjadikan dirimu kembali baik. Moh...

BANGKIT

Jatuh sesekali tak apa, agar tahu rasanya bagaimana harus bangkit. Jatuh beberapa kali pun tak apa, agar lebih paham bagaimana selain  bangkit kita juga harus melanjutkan langkah. Bukan berdiri dan terdiam dalam keterpanaan. Selalu ada kesudahan yang baik bagi kita yang senantiasa berusaha menjadi baik. Selalu ada ujung dalam setiap jalan, meski harus jauh kaki melangkah. Awalnya sulit, tak apa karena itu wajar. Justru keterjatuhanmu itu menunjukkan dan membuktikan bahwa kau hanya makhluk bumi yang bisa terjatuh. Lebih dari hanya sekadar perasaan tenang, bangkitnya kamu dari jatuhmu hari kamarin, harus membawa perubahan signifikan dalam hubunganmu bersama yang Maha Penolong, yang telah memberikan rasa tenang dalam dirimu. Yang sudah biarlah sudah, memang tak mungkinlah dilupa namun bisa dimaafkan dan ditempatkan sesuai tempatnya. Selama kita masih berjalan dalam koridor yang sesuai, niscaya kita tak akan tersesat. Bukankah kita tak pernah kecewa dalam berdoa kepada Rabb k...